OASIS

Isa Asmaul Khusna
Chapter #2

Dua

[Mengapa kamu terluka sekali ketika jatuh cinta?]


Perempuan yang sedari pagi dipusingkan mencari perpaduan baju ini menghentikan jentikan jarinya di atas tuts keyboard, ketika sebuah pesan singkat dari teman lama tanpa permisi menyelinap masuk pikirannya. Ia melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan; mencari benda-benda yang bisa diinderainya; menghirup napas panjang; dan mencari sumber aroma-aroma hanya untuk mengingatkan ia ada di lingkungan kerja.

Ia mengenali aroma yang familiar. Hidungnya berhasil menangkap aroma lemongrass yang halus dan menenangkan dari air diffuser di sudut ruangan. Perempuan itu menarik napas panjang lagi. Kini, aroma gurih yang sedikit manis latte, dan aroma karamel yang tajam dari roti panggang menyentuh indera penciumannya. Yah, ini adalah aroma kantor yang sangat dikenalinya. Aroma yang akrab dan sangat sesuai dengan seleranya. Kesadaran ini sudah cukup mengatakan bahwa ia seharusnya tidak punya waktu memikirkan hal lain.

“Kenapa, Yan?” Suara dalam yang menyelidik memecah lamunannya. 

“Enggak.” 

“Sakit?” tanyanya. “Kayaknya kamu susah fokus beberapa hari ini.”

“Benarkah?” 


Lian hanya tertawa kecil. Jarinya terampil memperbaiki sudut cermin kecil yang ada di mejanya. Menelisik kontur wajahnya. Mata. Cekung pipi. Hingga sudut-sudut mulutnya. Ia penasaran bagaimana ekspresi yang kini ditampilkan wajahnya sendiri di mata orang lain. Perkara yang sebelumnya bahkan tidak penting sama sekali.

Tak jelas bagaimana tanggapan pria yang sosoknya tersembunyi di balik tumpukan berkas yang lebih tinggi dari miliknya itu. Filter di telinga Lian seolah meredam suara Aksa layaknya suara-suara yang muncul dan hilang begitu saja. Benarkah? Pertanyaan itu seolah bukan ditujukan pada orang lain, melainkan untuk dirinya sendiri. Setidaknya, ia coba menata kembali pikirannya: sejak kapan tepatnya semua hal berjalan tidak seperti rencana?

Perhatiannya masih tertuju pada cermin di atas meja. Ketika menyadari sudut mulut yang sedikit terangkat, sambil mengetuk meja, pertanyaan lain terlintas dalam benaknya: apa sejak awal wajahku selalu seperti ini? 

Terkejut dengan tingkahnya sendiri, Lian terkekeh. Menyadari bahwa situasi mulai serius, bahwa pikiran-pikiran tak perlu kini sangat mengganggu pekerjaannya, ia menggelengkan kepala. Ia mendengus pelan, mengambil napas panjang, dan mati-matian kembali memasang perhatiannya pada layar yang sedari tadi masih menyala. Kebekuan yang seolah berkata “hei, sial! Ini masih jam kerja, bajingan!”

Lihat selengkapnya