OBJEK OBSESI

Widera
Chapter #1

Salju Bercampur Darah

Dengan lutut terluka, Meta terus berlari tanpa arah tujuan. Meskipun kakinya benar-benar sudah terasa sangat lelah, ia tetap berusaha untuk berlari. Udara dingin, dan salju yang mulai turun tak membuat dirinya berhenti berlari.


Hatinya penuh akan rasa takut. Saking takutnya, air mata sampai keluar dengan sendirinya. Semakin cepat ia berlari, nafasnya juga kian memburu. Penampilannya juga sudah sangat semrawut. Apalagi bagian rambut, begitu acak-acakan seperti orang gila.


Ini semua salahnya, tidak seharusnya Meta menikah dengan Derick. Tidak seharusnya ia mengiyakan saat Derick membawanya pergi ke Amerika. Bahkan seharusnya, ia tidak bertemu dengan Derick. Andai saja ia tidak bekerja sebagai pemandu wisata khusus turis di Candi Borobudur, andai waktu itu ia tidak bertemu dengan Derick. Pasti semua ini tidak akan terjadi.


Meta menyesali semuanya.


Pria itu, Derick, dia membunuh orang dengan sangat keji. Meta melihatnya sendiri, Derick dengan kejam memukulkan palu ke kepala pelayan laki-laki, hingga berdarah-darah dan bahkan sampai hancur. Dan karena memergoki hal itu, sekarang pria itu mengejarnya.


Mungkin kali ini, jika Meta tertangkap, dialah yang akan mati.


Membayangkan mati dengan kepala hancur karena dipalu, Meta semakin panik, ia berlari semakin cepat.


Hingga tiba-tiba ...


Brakkkk!!!!!!


Sebuah mobil menabraknya dengan begitu kencang. Meta tergeletak di atas salju dengan mengenaskan. Darah segar mulai keluar dari kepalanya, salju yang tadinya putih kini berubah menjadi merah karena darahnya.


Meta meremas butiran salju dengan kuat. Matanya kian berair, ia manangis tanpa suara. 'Aku belum mau mati. Aku tidak ingin mati dengan cara yang mengenaskan seperti ini.'


Dengan sisa-sisa tenaganya, Meta mencoba bargerak.


Hal itu membuat orang yang berada di dalam mobil sedikit kaget. Ia memperhatikan Meta dengan intens.


Meta bergerak dan mencoba merangkak. Namun sekali merangkak saja dirinya sudah kembali ambruk karena lemas. Meta menatap mobil yang sudah menabraknya. "Tolong ... Tolong aku," ucapnya lemah.


Orang yang berada di dalam mobil itu turun. Ia berjalan menghampiri Meta.


Betapa terkejutnya Meta sekarang, karena orang yang keluar dari mobil itu adalah Derick. Pria, sekaligus suami yang sedang berusaha ia hindari. Meta menggelengkan kepalanya dengan panik.


Dan Derick sendiri terus berjalan ke arahnya.


Meskipun setiap langkahnya pelan, namun langkah itu terlihat begitu mengintimidasi dan membuat perasaan Meta semakin ketar-ketir.


Meta berusaha kembali merangkak. Namun percuma, usahanya sia-sia. Karena Derick sudah berada di dekatnya. Pria itu kini berdiri sambil menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Salju semakin lebat, udara semakin dingin, dan keheningan yang mencekam, serta tatapan Derick yang begitu dingin membuat perasaan Meta semakin tidak karuan. Jantung Meta seakan meluncur dari tempatnya, ketika Derick tiba-tiba berjongkok dihadapannya.


Lihat selengkapnya