Suara teriakan itu kembali terdengar. Meta berjalan mengendap-ngendap mengikuti asal suara yang sedari tadi mengusiknya.
Meta terdiam. Ia yakin suara teriakan dan rintihan kesakitan itu berasal dari pintu yang ada di depannya.
Dengan perasaan yang berkecambuk, perlahan tangannya terulur membuka pintu. Kaki dan kepalanya menyembul, mengintip ke dalam. Namun Ruangan itu sangatlah gelap. Hanya ada setitik cahaya remang di tengah ruangan.
Dengan mata menyipit, ia masuk dan mendekat ke arah cahaya. Bayangan seseorang mulai terlihat. Ada sosok pria berbaju hitam yang entah sedang melakukan apa.
Saat Meta kembali berjalan mendekat, suara cabikan dan erangan kesakitan yang sangat memilukan itu kembali terdengar.
Dan seketika ia jatuh terduduk karena syok. Derick suaminya, dia baru saja mencabut jantung seseorang dengan keji.
Meta menutup mulutnya, mencoba menelan semua rasa takut dalam dirinya. Dengan kaki dan tubuh yang sudah gemetar, ia bangkit, berlari sempoyongan tak tentu arah.
Kepanikan membuatnya tidak hati-hati. Alhasil, kini ia jatuh akibat tersandung sesuatu.
"Ini terlalu gelap," gumam Meta pelan. Ia mulai meraba-raba sekitarnya, mencoba mengira-ngira benda apa yang membuatnya jatuh.
Meta tidak yakin itu apa, tapi ia merasa benda ini mirip seperti tangan manusia.
Cahaya lilin yang datang secara perlahan dari arah belakang, membuatnya sadar dengan sesuatu yang sedang ia pegang, itu memang tangan. Lebih tepatnya, tangan seseorang yang sudah mati. Warnanya sudah membiru. Belum sempat ia sadar dari rasa kegetnya, sekarang rambutnya dijambak dari belakang.
"Kenapa lari? Kau pikir, kau bisa lari dariku?"
Meta membeku.
"Mati saja kau, pembangkang!" bisik Derick dingin. Ia mengacungkan belati sambil menatap leher putih Meta dengan tatapan iblis.
Meta menutupi lehernya dengan tangan, ia menggeleng panik.
Sebelum belati itu menusuknya, tiba-tiba Meta terhenyak membuka mata. Ia baru saja terbangun dari mimpi buruk. Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat. Napasnya ngos-ngosan tidak beraturan.
Ia benar-benar bersyukur karena yang tadi itu hanya mimpi.
Tapi, dimana dia sekarang? Meta menatap ke seluruh arah dengan perasaan campur aduk.
Ia meraba keningnya yang dibalut perban. Kemudian pandangannya beralih ke arah tangannya yang diinfus. Dan barulah ia ingat akan kejadian saat dirinya tertabrak.
Meta heran, kenapa Derick malah merawatnya seperti ini? Bukankah suaminya itu ingin ia mati? Atau sebenarnya, Derick ingin menyiksanya seumur hidup? Karena itu Derick tidak membiarkan dirinya mati.
Merasakan gerakan seseorang di sebelahnya, wajah pucat Meta langsung menegang. Ia baru sadar, sedari tadi Derick tidur di sampingnya. Melihat wajah damai Derick, perasaan Meta sedikit merileks.
Wajah itu mengingatkannya pada sikap lembut yang selalu pria itu lakukan selama ini.
Hidungnya mulai memerah, dan air mata yang sudah tidak bisa Meta bendung, akhirnya menetes. Hatinya sesak bukan main. Karena sejujurnya, Meta sendiri masih tidak percaya dengan semua yang terjadi kemarin.
Pria lembut dengan senyum hangat yang selalu membuatnya bahagia ini, kenapa seperti itu? Apa semua yang ia lakukan selama ini palsu? Jika benar, lalu bagaimana dengan dirinya yang sudah mulai mencintainya ini.