Meta yang rebahan dengan rambut acak acakan, terlihat fokus memandangi layar TV yang terbentang lebar di depannya.
Sudah hampir lima jam Meta melihat konten youtube milik kreator kesukaannya. Namanya Trisna Keller, wanita di layar Televisi yang berasal dari Indonesia dan juga menikah dengan pria bule itu tampak tengah tersenyum riang sambil bercanda gurau dengan suaminya.
Kulit cokelat dan senyuman yang manis itu mungkin salah satu faktor si bule bisa menyukainya. Tapi bukankah dirinya juga tidak kalah cantik? Kulitnya putih, rambutnya panjang dan hitam mengkilat, hidungnya juga mancung. Tapi kenapa nasibnya tidak semulus wanita itu? Meta bertanya-tanya merasa tidak adil.
Meta menunduk melihat kamera dengan merek mewah yang sedang ia genggam. Sebenarnya dulu ia juga ingin mencoba menjadi konten kreator seperti Trisna. Suaminya sudah bule, dia juga kaya raya. Buktinya, lihat saja sekeliling Meta sekarang, kamar ini penuh dengan barang mewah. Jika selama ini ia menyiarkan kesehariannya, mungkin ia akan lebih populer dari Trisna, kan?
Tapi untuk sekarang, pikiran menjadi youtuber itu sudah sirna. Sekarang boro-boro menyiarkan, batre kameranya saja sepertinya sudah sejak lama dihilangkan oleh Derick. Pantas saja dulu setiap Meta sibuk mencari batre kamera, pria itu selalu mengalihkannya pada hal lain.
'Sayang, apa kamu mau belanja? Sayang, hari ini bagaimana kalau kita pergi ke restoran baru?' itulah beberapa alasan Derick yang ia ingat untuk mengalihkan perhatiannya. Hingga lagi-lagi Meta melupakan batre dan keinginannya menjadi vloger.
Bukankah dirinya terlalu bodoh dan naif dulu? Meta tertawa miris. Jika orang lain melihat keadaannya sekarang, mungkin orang itu akan berpikir Meta sudah gila karena sering tertawa dengan aneh.
Dipikir beberapa kalipun, Meta tetap merasa tidak percaya dengan semua yang sudah terjadi kepadanya. Semuanya terasa seperti mimpi. Ia tidak ingin percaya, tapi perban yang menempel di tubuhnya, serta rasa sakit bekas kecelakaan beberapa hari yang lalu ini masih terasa begitu nyata.
Mengingat malam itu membuat bulu kuduknya kembali meremang bergidik ngeri. Sebenarnya siapa suaminya? Kenapa sampai membunuh orang dengan sesadis itu? Apa pekerjaannya? Apa aslinya dia itu pembunuh? Psikopat?
Ini kebodohannya yang keberapa? Kenapa sebagai istri, ia tidak tahu suaminya seperti itu. Setahu Meta Derick adalah pengusaha Mebel. Apa lagi-lagi dirinya dibohongi?
Meta menggigiti kuku di jari-jarinya dengan perasaan cemas. Bola matanya berputar melihat seisi ruangan yang diisi barang-barang merek mewah dengan was-was. 'Apa pengusaha Mebel bisa sekaya ini? Bisa saja! Jika menyambi sebagai penjual organ dan pembunuh bayaran, tentu bisa saja kan?' pikiran liarnya menerka-nerka merasa curiga.
"Jika itu benar, tentu saja aku harus kabur!"
Meta turun dari ranjang, dan berjalan perlahan ke arah pintu. Ia mengintip keluar melalui lubang kunci.
Masih sama saja, di luar beberapa pria berbadan tinggi dengan seragam hitam tampak tengah mengobrol. Mungkin untuk menghilangkan rasa bosan disela-sela tugasnya menjaga kamar yang ditempati Meta.
Meta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih bingung mencari cara untuk kabur dari sini.
Sudah tiga hari para pria itu berjaga di depan pintu kamarnya. Ulah siapa ini? Tentu saja suaminya kan? Pria itu pasti yang menyuruh mereka. Bukankah Derick itu tidak waras? Untuk apa ia melakukan semua ini? Dari pada istri, Meta malah merasa seperti menjadi seorang penjahat yang di penjara sekarang.
Dan lagi, kemana Derick? Sudah lama Meta tidak melihat batang hidung pria itu. Tapi dipikir-pikir, bukankah ini bagus? Lagi pula ia sering mati kutu dan merasa takut berlebihan jika berada di dekatnya.
Yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini.
Terlalu banyak berpikir membuat kepalanya sedikit pusing, sekarang sepertinya ia juga flu. Meta mengusap lubang hidungnya yang terasa mulai mengeluarkan cairan, tapi rupanya itu bukan ingus melainkan darah. Dirinya mimisan!
Meta jatuh terduduk karena lemas. Ya, jujur saja sebenarnya ia sangat takut pada darah. Melihat darah sedikit saja bisa membuatnya langsung lemas seperti sekarang.
Tapi ia jadi kepikiran. Bagaimana kalau sekarang ia pura-pura mati saja? Meta tidak akan menyumbat hidungnya.
Dengan gerakan serampangan wanita itu sekarang tengkurap di lantai seakan dengan sengaja mencoba mengeluarkan seluruh darah dari hidungnya.