Derick menghentikan langkahnya. Ia menengok ke arah samping melihat ruang tengah yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang masa lalunya.
Dalam ruangan bernuansa cokelat yang tampak megah namun terlihat suram dan hampa itu, ia melihat bayangan dirinya saat kecil yang selalu duduk di pojokan sambil membaca buku-buku tebal yang selalu diberikan oleh ayahnya.
Buku-buku tebal yang sudah dibaca olehnya itu tampak menumpuk dengan tinggi di sekelilingnya. Badannya yang kecil, terlihat tenggelam tertutup oleh tumpukan buku.
Mimisan yang sering terjadi akibat kelelahan, seakan sudah biasa dan selalu ia hiraukan. Dan hanya wanita cantik dengan gaun merah itu saja yang selalu datang mengkhawatirkannya.
"Derick, kamu mimisan, Nak!" wanita berambut coklat itu mengusap darah yang keluar dari hidung anaknya dengan wajah cemas.
"Simpan buku ini dan istirahatlah sebentar." Wanita berwajah tionghoa bernama Liu Margaret itu merebut buku tebal dari tangan anaknya dengan kesal.
"Sudah ibu bilang berapa kali, jangan berlebihan dalam belajar. Kamu ini manusia, butuh istirahat!"
"Dan lagi, apa kamu sudah makan? Lihat ini, ibu membawakan bakpao isi daging kesukaanmu." Seketika wajah kesalnya berubah menjadi lembut. Wanita itu menyerahkan makanan hasil buatannya dan manatap wajah Derick dengan penuh sayang.
Derick tersenyum dan dengan senang langsung memakan bakpao putih yang terlihat menggoda itu dengan lahap. Rasanya enak seperti yang ia harapkan. Selain ilmuan yang pintar dalam mengoprasikan bahan kimia, ibunya ternyata memang hebat dalam segala hal, termasuk dalam hal memasak. Masakannya tidak pernah gagal.
"Setelah ini istirahat dulu saja, ya! Kamu sudah membaca hampir seharian di sini. Lihat saja tadi, kamu sampai mimisan. Jangan buat ibumu ini khawatir terus."
"Tapi hari ini aku ada latihan menembak. Aku tidak bisa menyia-nyiakan waktu belajarku ibu. Ayah bilang, jika aku bisa menguasai semuanya dengan lebih cepat aku bisa seperti Ayah, bahkan aku bisa lebih hebat darinya. Apa Ibu tidak ingin melihatku menjadi sehebat Ayah?" Derick kecil berucap dengan penuh semangat, pipi kecilnya tampak mengembung dan begerak lucu karena bakpao yang masih penuh di dalam mulutnya.
Dengan lembut Margaret mengusap kepala Derick, ia tersenyum namun sorot matanya terlihat layu.
"Sebutanmu saja Monster Jenius dari Keluarga Alejandro. Tentu saja kamu akan lebih hebat dari Ayahmu," ucap Margaret, mencoba menyemangati.
"Tapi bagi ibu, kamu yang biasa-biasa saja sebenarnya sudah cukup. Ngomong-ngomong ... Apa sebenarnya kamu bahagia?"
"Apa maksud ibu? Tentu saja aku bahagia. Punya Ayah dan Ibu seperti kalian, mana mungkin aku tidak bahagia." Derick tersenyum polos.
Wajah Margaret kini tampak tenang, ia memeluk putra satu-satunya itu dengan hangat. Namun tanpa wanita itu sadari, wajah Derick yang berada dalam pelukannya kini sudah berubah dingin.
Kata-kata polos, senyuman manis, tatapan lugu, semuanya bohong. Derick hanya berpura-pura di depan wanita yang sudah melahirkannya ini. Bahagia? Bagaimana bisa ia bahagia, jika ibu dan para pengasuhnya sering dipukuli oleh ayahnya hanya karena dirinya gagal dalam melakukan sesuatu.
Oleh karena itu, Derick tidak boleh mengecewakan Ayahnya lagi. Karena ia tidak ingin melihat orang yang ia sayangi harus menderita karena dirinya. Jadi, sesulit apapun pelajaran dan tugas yang ayahnya berikan, ia harus bisa menyelesaikannya dengan sempurna.
Hari demi hari Derick lewati dengan penuh ambisi. Hingga diusianya yang ke-17 tahun ia sudah bisa membantu ayahnya dalam melakukan taktik dalam berbisnis. Keuntungan dan kemajuan perusahaan berkembang pesat karena ide-ide cemerlangnya.
Namun entah mengapa, kali ini ia merasa tidak puas dan justru merasa iri. Derick iri karena hanya Ayahnya yang mendapat rasa hormat dan pujian dari banyak orang. Derick iri karena ayahnya menjadi terkenal karena ini semua. Bukankah, seharusnya dirinya yang menjadi seperti itu?
Sejujurnya Derick muak harus terus menjadi boneka ayahnya. Ia juga muak harus ikut menjalankan bisnis kotor dan melakukan tindakan keji lainnya. Tapi lagi-lagi ia harus bertahan demi kebahagian sang ibu yang sangat ia puja.
Namun karena selalu berhasil, Derick menjadi lengah. Ia tidak sengaja membiarkan seorang anak imigran hidup. Ia hampir membuat bisnis gelap milik ayahnya itu terbongkar.
Kejadian itu membuat Anton marah besar, ia murka dan memukuli istrinya tanpa belas kasihan. Anton memukuli Margaret karena merasa istrinya itu tidak mendidik anaknya dengan baik hingga bisa melakukan kesalahan seperti itu. Wanita malang bernama Liu Margaret itu kini sudah terkapar lemah dengan banyak luka di lantai.
Sementara itu, Derick yang baru saja datang syok berat melihat kondisi ibunya. Ia berlari, kemudian bersimpuh di dekat tubuh ibunya yang sudah lemah.
Derick tidak berkata apapun. Hanya air matanya saja yang terus mengalir membasahi pipi. Tangannya bergetar hebat, saat itu ia bahkan takut untuk memegang tubuh ibunya, ia takut ibunya akan semakin kesakitan atau bahkan tiba-tiba lenyap.