Meta mendorong Derick dengan tatapan takut. Ia mundur ke pojokan sambil memeluk dirinya sendiri. "Jangan mendekat! Bagaimana bisa aku percaya pada pembunuh seperti dirimu! Apa yang sebenarnya kamu rencanakan? Kenapa kamu mengurungku di sini, hah?!"
"Orang itu pantas untuk mati. Dia memata-mataimu. Aku hanya ingin melindungimu. Kenapa kamu malah bersikap seperti ini padaku?" Derick melangkah maju dan mengulurkan tangannya ke arah Meta.
Meta menatap tangan itu dengan ngeri, ia semakin ketakutan sekarang. "Apa yang mau kamu lakukan?" ucapnya dengan suara bergetar.
Ketika tangan Derick semakin mendekat ke arah wajahnya, Meta menutup matanya rapat-rapat.
"Malam itu, jika kamu tidak tiba-tiba berlari ke tengah jalan. Kamu tidak akan terluka seperti ini." Derick mengusap bekas luka goresan di pelipis istrinya penuh sayang. "Aku mengurungmu, karena aku takut kamu akan melarikan diri lagi seperti waktu itu."
Meta membuka matanya, ia menatap wajah Derick sekilas. Tapi kemudian ia langsung menepis tangan Derick dengan kasar. "Pembohong! Jelas-jelas kamu sengaja menabrakku. Berhenti bersandiwara, dan katakan yang sejujurnya. Kamu psikopat, kan?! Orang biasa tidak mungkin membunuh sekeji itu."
Derick diam tanpa ekspresi. Beberapa detik kemudian ia berucap dengan tenang, "Kamu sudah melihatku membunuh waktu itu, kamu juga menuduhku psikopat sekarang. Jika menurutmu semua kecurigaanmu itu benar, bukankah seharusnya kamu takut padaku? Tapi apa ini? Kamu malah mau membangkang?"
Tiba-tiba Derick menarik Meta, kemudian menahan pinggangnya dengan satu tangan. "Di tempat ini, untuk bertahan hidup dan melindungi orang yang kau sayang, pilihannya hanya ada dua. Membunuh orang lain, atau biarkan orang lain itu yang membunuhmu."
Meta mengernyit bingung.
"Kamu tahu, aku membunuh, untuk melindungimu."
Keduanya saling bertatapan, hingga suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar.
"Nyonya, makanan anda sudah siap. Bolehkah saya masuk?"
Hening.
Derick masih terus menatap wajah Meta dengan pandangan yang terlihat seperti sedang menahan amarah. Dan hal itu membuat Meta jadi tidak nyaman.
Hingga perlahan Meta mendorong dada bidang suaminya, membuat tubuh keduanya sedikit merenggang. Tapi tak lama kemudian, Derick kembali merangkul pinggang istrinya dari samping.
"Masuklah!" teriak Derick kemudian.
Para pelayan itu masuk, dan tertegun sejenak melihat kehadiran Derick. "Maaf Tuan, kami tidak tahu anda sudah datang." Para pelayan itu menunduk seolah takut.
"Kalau begitu cepat siapkan makanannya, dan segeralah keluar."