OBJEK OBSESI

Widera
Chapter #6

Boneka Rusak

"Apa kalian pernah membunuh orang?"

"Pernah mendengar suara tulang belulang yang remuk?"

"Pernah mencium bau daging manusia yang terbakar?"

"Bagaimana dengan merebus daging manusia menggunakan panci?"

"Atau ... Pernahkah kalian mengakhiri hidup orang terdekat kalian, karena mereka tidak kuat lagi menahan rasa sakit?"

Tiga orang remaja lusuh yang tengah diikat itu hanya diam menatap ke arah wanita berwajah mirip boneka china yang sedang berjongkok di depannya itu dengan tatapan lemah.

"Kalian tahu, aku sudah pernah melihat itu semua." Esther tertawa pelan sambil menutupi bibir mungil merah delimanya dengan polos.

"Aku juga sudah pernah merasakan berbagai siksaan. Lihat ini," Esther memamerkan lengannya yang dipenuhi bekas jahitan. "Suami ku memang pandai sekali menyiksa orang, rasanya sangat menyakitkan, tapi juga menyenangkan." Lagi-lagi Esther tertawa riang.

Rambut kecokelatan yang panjang disertai poni, wajah yang sangat imut dan cantik, serta gaun selutut yang ia kenakan membuat dirinya benar-benar terlihat sangat sempurna. Tapi tanpa orang lain tahu, di sekujur tubuhnya memang penuh dengan bekas jahitan dan memar kebiruan.

Sejak bersama Alaron, Esther memang selalu diperlakukan seperti boneka yang bisa dirusak dan diperlakukan sesuka hati. Tapi ia sendiri tidak merasa terganggu dengan itu semua, karena dirinya memang seorang masokis. Esther sangat suka merasakan rasa sakit.

Sensasi kulit yang memar dan robek adalah favoritnya. Dan suaminya selalu memberikan hal yang menyenangkan itu padanya. Tapi akhir-akhir ini ia merasa sedikit kecewa pada Alaron, pria itu sudah lama tidak menyiksanya dan lebih sering menyiksa para tawanan di tempat ini.

Ia bosan karena dari tadi hanya berkutat dengan berbagai jenis bahan kimia serta daun ganja. Untuk apa itu semua? Tentu saja untuk membuat narkoba. Karena meskipun terlihat polos dan kekanakan, sesungguhnya Esther adalah dokter sekaligus ilmuan yang bisa membuat berbagai jenis obat-obatan terlarang. Esther sadar, sejak awal dirinya memang hanya dimanfaatkan oleh keluarga Alejandro sebagai mesin pembuat opium.

Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur terjun. Keluarganya juga sudah habis dibantai, kini hanya menyisakan dirinya dan juga Derick sang kakak sepupu.

Lalu apa yang terjadi? Kenapa ia malah menikah dengan Alaron? Jawabannya, tentu karena tidak ada pilihan. Alaronlah yang sejak awal ingin menikahinya, pria itu juga yang membiarkannnya tetap hidup dihari pembantaian keluarganya.

Mungkin karena hal itu juga Esther kini malah menjadi masokis. Rasa trauma dan lukanya benar-benar sudah sangat dalam.

Lalu apakah dia tidak dendam?

Tentu saja Esther dendam, bahkan sangat dendam. Kini ia memiliki tekad yang sama dengan Derick. Yaitu menghancurkan keluarga Alejandro.

Bertahan di sini, dan menjadi mata-mata bagi Derick. Saat ini, hanya itulah yang dapat ia lakukan untuk membantu sepupunya.

"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Alaron yang baru saja tiba dengan langkah lebar menghampiri istrinya.

Esther menoleh dan tersenyum cerah, ia buru-buru bangkit dan berlari kecil menghampiri suaminya. "Aku bosan, aku pikir kamu ada di sini. Jadi aku datang. Apa kamu marah?"

"Tidak, bagaimana bisa aku marah." Alaron mengusap rambut cokelat panjang itu dengan lembut.

"Jadi kamu tidak akan memukulku?"

Wajah berseri-seri Alaron luntur, ia tahu istrinya sudah mulai kambuh sekarang. Dan entah mengapa ia tidak senang akan hal itu. Tapi kenapa? Entahlah, Alaron hanya merasa sedang tidak ingin saja menyakiti Esther. Atau mungkin, inikah yang dinamakan perasaan sayang? Karena beberapa bulan belakangan ini, ia memang sangat menjaga Esther. Alaron benar-benar tidak tenang saat melihat wanitanya itu terluka. Apalagi terluka karena dirinya.

Alaron kembali memasang wajah lembutnya. "Untuk sekarang tidak sayang," jawabnya singkat.

"Hari ini, bagaimana kalau kita bersenang-senang saja? Lihat ini, aku membawa gergaji mesin." Dengan ceria Alaron menggandeng tangan istrinya.

Dan Esther hanya tersenyum polos sambil mengikuti langkah suaminya.

***

Waktu melesat begitu cepat seperti peluru.

Sekarang, Meta tidak lagi dikurung. Ia dibebaskan pergi ke tempat mana pun yang ia mau. Seakan tidak ada yang terjadi, semuanya memang terasa kembali seperti dulu.

Tapi, meskipun sekarang ia diberikan kebebasan, semuanya tetap terasa sama saja. Karena kemanapun Meta pergi, Derick selalu menempel padanya seperti sebuah lem.

Lihat selengkapnya