Tak ada yang menarik di hari pertama sekolah saat aku hampir saja terlambat memasuki kelas.
Meletakkan tas di bangku paling belakang dekat jendela tepat ketika bel berbunyi tiga kali dalam harmoni, aku mendapati puluhan murid yang sebelumnya berkeliaran di halaman, lorong, dan taman belakang gedung segera berlari. Menaiki tangga. Saling bertubrukan. Menuju kelas dengan wajah sumringah dan berdebar-debar.
Hal yang paling mengejutkan justru terjadi saat aku pulang sekolah.
Di depan gerbang masuk yang hitam mengkilap layaknya baru dicat ulang seminggu lalu, sejumlah pelajar di SMA Mayane--Tempat aku bersekolah--tampak berkerumun mengamati seseorang dari sekolah lain.
Mereka bersembunyi di balik punggung sesama kawannya sehingga aku sempat menduga mereka adalah penguntit. Tak begitu menggubris, aku lewat begitu saja sambil menatap langit yang jingga dan sedikit silau, ketika tiba-tiba sebuah suara memanggilku, membuatku terdiam.
"Ka... Kamu!"
Arahnya dari samping.
Nadanya terbilang cukup tinggi seolah-olah ia memiliki bakat di bidang musik dengan baik. Melalui getaran yang ada, aku tahu dia agak ragu.
Mungkin ragu gara-gara ada sekelompok murid yang mengawasinya dari belakang.
Mungkin juga karena bisa jadi ia salah orang.
Atau dia malah sedang meragukan dirinya sendiri.
Aku kenal suara siapa itu.
Si gadis berambut pirang.
Dialah yang menjadi alasan mengapa kawan-kawanku dari tadi mendadak sungkan untuk pulang lebih dahulu. Mereka, teman-teman baruku itu, tertarik untuk memandanginya diam-diam. Bertanya-tanya dalam hati mengapa ada seorang gadis asing yang menunggu di depan gerbang.
Langsung menyerbuku ketika melihat bahwa kami berdua sepertinya saling kenal.
Telunjuk salah seorang dari mereka teracung.
"Ku--Kurokami-kun!!"
Aku melirik.
Nagisaki Hanami.
Dari penampilannya yang kusut dan tak sedap dipandang, siapapun akan tahu bahwa pria ini ditakdirkan untuk selalu bernasib sial dan iri terhadap orang-orang di sekitarnya.
Belum satu hari berakhir, lelaki yang letak bangkunya tepat di depanku itu sudah berani mengangkat kerah kemejaku tinggi-tinggi di hadapan murid lain. Memperlihatkan keperkasaannya di depan beberapa siswi yang kebetulan juga ikut menonton. Mengernyitkan dahi kesal.
Membentakku.
"Belum selesai masa orientasi kau sudah berani membawa seorang gadis cantik kemari, hah?! Dimana hari nuranimu yang telah tega melukai perasaan kami para jomblo sekelasmu sendiri?! Apakah kau sengaja membuat kami iri, Kurokami-kun?!"
Aku nyaris tertawa menghina demi mendapatkan pertanyaan seperti itu.
Menepis pelan kedua lengan besar yang mencengkeram kerahku sampai kusut, aku memandangi kerumunan siswa-siswi absurd yang rela menunggu demi mempertanyakan status hubunganku dengan gadis berambut pirang yang tiba-tiba nongol seperti para wartawan.
Sorot mata mereka tak berkedip ketika bertemu denganku.
Kemudian aku menghela nafas, beralih pada gadis berambut pirang.
Seragam sekolahnya berbeda dari kami. Lebih modis. Lebih rapi.
Dengan logo khas yang melekat di bagian dada, jelas sekali ia berasal dari suatu SMA favorit. Karena sempat mengalami kecelakaan ringan, sekarang kedua betisnya dipasangi hansaplast cokelat untuk menutupi lecet. Agak mencolok di antara kulitnya yang bening.
Tanpa perlu dibilangi secara langsung aku paham bahwa ia ingin membicarakan sesuatu kepadaku atas peristiwa tadi pagi.
Kedua matanya agak berkaca-kaca. Memohon dalam diam sementara kedua lututnya bergetar.
Aku mengusap rambut karena tak suka dengan situasi seperti ini yang terkesan sangat menyudutkanku.
Kemudian aku menatap balik Nagisaki yang barusan mencoba mengintimidasiku. Menantang.
"Itu benar, Nagisaki." Aku berujar lantang. Mengagetkan semua orang.
Nagisaki Hanami.
Siswa-siswi yang bersembunyi di dekat pagar.
Bahkan si gadis berambut pirang.
Aku tahu ini akan sedikit gila. Akan tetapi, supaya permasalahan yang terjadi tidak semakin melebar, aku harus melakukan sesuatu sampai orang-orang pihak ketiga tidak berani ikut campur lebih jauh.
Oleh karena itu, aku berkata,
"Dia adalah pacarku."
"kau ada masalah?"
Keheningan langsung menyergap jalanan depan SMA Mayane yang lenggang dan terhitung sepi. Gang-gang sempit yang berupa pemukiman kelas menengah hanya memperlihatkan siluet-siluet gelap dari matahari yang hampir tenggelam. Beberapa burung gagak hinggap di tiang-tiang. Menyanyikan lagu aneh yang berisik namun memiliki gaya sendiri.
Nagisaki kehabisan kata-kata saat mendapati diriku ternyata lebih berani daripada yang ia bayangkan. Pria itu jadi agak salah tingkah, mengundurkan diri sambil meludah sekali ke arah samping, mengumpat kesal. Tapi ia melangkah pergi.
"Awas saja kau... Kurokami-kun..."
Puluhan murid yang tadi menonton juga tersentak sadar dari lamunan masing-masing. Seraya tersenyum kecut dan membungkuk hormat, mereka meminta maaf kepadaku sambil menggaruk-garuk kepala mereka sendiri.
"Ka... Kalau begitu, maaf ya, Kurokami-kun..."
"... Sa--Sampai jumpa!"
"Jaga gadis itu baik-baik!"
Meninggalkan kami berdua di depan gerbang. Berlarian seperti maling.
Lima detik berlalu di antara keheningan.
Gadis berambut pirang menelan ludahnya ketika memikirkan apa yang belum lama meluncur dari mulutku. Ia mengetuk-ngetuk jalanan melalui sepatu kets putihnya yang mahal. Memelintir rambut. Membuang pandangannya.
Tapi aku tak ingin berlama-lama di sini.
Mendecikkan lidah geram karena harus diposisikan dalam situasi yang cukup buruk, aku langsung saja masuk ke inti yang sedang dimaksud. Membuka percakapan.
Sorot mataku tajam mengenai wajah wanita yang tampak alami tanpa makeup.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku, gadis asing?"