Malam datang lebih cepat daripada yang dibayangkan oleh si gadis berambut pirang, Aiochi Rena.
Di gedung apartemennya yang terbilang cukup berkelas di sekitar area Roppongi, gadis tersebut berlari menaiki lift yang berada di ujung koridor agak buru-buru. Menyembunyikan wajahnya yang agak sedih dan sedikit meratap. Menekan tombol lantai teratas yang langsung mendesing dalam cahaya kuning gemerlap.
Tapi suatu bayangan aneh tiba-tiba muncul di hadapan gadis tersebut.
Mungkin ia bisa dibilang sebagai suatu bayangan, atau bahkan angin yang secara kebetulan sedang lewat. Akan tetapi, wujudnya yang terlalu pudar dan menetap sangat berat untuk dikatakan bahwa ia hanyalah objek semu yang tak memiliki kesadaran.
Ia terlalu nyata.
Dan membuat pikiran Aiochi Rena terganggu.
Sosok tersebut tersenyum melalui pantulan logam yang terbentuk secara alami di dalam lift. Ia merangkul batang leher Aiochi erat-erat seolah tak ingin melepaskannya seumur hidup. Membisiknya pelan.
“Rena-chan…”
Hembusan nafasnya bagai tiupan salju di musim dingin.
Bahu Aiochi Rena gemetar.
“… Mama akan selalu menyayangimu.”
“KAMU BUKAN MAMAKU!” Gadis berambut pirang membentak. Mencoba menoleh untuk menatap tajam sosok yang berada di belakangnya.
Tapi kosong.
Lift ukuran dua kali dua meter itu hanya menampung dirinya seorang. Terus bergerak ke atas melalui sistem mekanis rumit. Sesekali berdecit karena gesekan lorong vertikal sebagai jalur lift tidak memiliki ukuran proporsional.
Aiochi Rena menelan ludah.
Dengan hati-hati, ia mencoba melihat pantulan di dinding lift sekali lagi.
Lalu ia terperanjat.
Sosok tersebut melakukan sesuatu kepada tubuhnya.
Ia mencengkeram leher gadis putri tunggal keluarga Aiochi dengan tangan-tangannya yang pucat. Wajahnya yang berkeriput sudah terlalu dekat dengan wajahnya. Senyumnya melebar hingga batas-batas rahang. Begitu besar hingga tampak seperti ular yang sedang memangsa.
Sosok berpakaian putih panjang berkata pelan.
“Rena-chan… Mama akan selalu menyayangimu…”
“SI—SIAPAPUN!! TOLONG AKU!!”
Decitan lift bertambah kencang ketika leher Aiochi Rena mulai merasa kesakitan dan dingin. Lantai pijakannya bergetar seperti sedang terkena gempa. Lampu yang berada di langit-langit berkedip hingga ia berpikir aliran listrik bangunan sedang mengalami gangguan.
Tawa sosok di balik pantulan pecah ketika air matnya mengalir, membasahi pakaian seragam Rena. Begitu sejuk bagai es yang dicairkan.
Nafas gadis berambut pirang terhenti di tenggorokan. Tubuhnya berusaha memberontak tapi sebuah kekuatan mencoba menahannya supaya tidak macam-macam. memastikan dirinya tak bisa berbuat apapun. Pasrah didekap sosok misterius yang wajahnya semakin menakutkan.
Beberapa saat lalu ia berusaha mengambil ponsel yang berada di tas. Namun, sayangnya sebuah tangan lain—mungkin tangan yang ketiga dari si makhluk ‘mama’—lebih dulu menepisnya. Menjatuhkannya hingga sedikit retak di bagian layar. Kemudian ia menginjaknya sampai pecah berantakkan seperti baru saja menghancurkan biscuit renyah.
Menggunakan kuku-kuku yang tajam untuk menyentuh bibir Rena. Menegur.
“Ga-dis-ba-ik-ti-dak-bo-leh-na-kal, ya?”
Aiochi Rena merasakan tubuhnya kehilangan tenaga.
“Ja—Jangan!!”
Wajahnya pucat pasi.
Tidak habis apa yang baru saja diterimanya di dalam lift, gadis tersebut mengalami keanehan lain yang tak kalah mengejutkannya.
Ketika lift sampai di lantai teratas, bukannya membukan pintu, gadis tersebut malah mendengar dari luar sebuah suara seperti tali yang putus tanpa alasan jelas.
Sangat kencang dan elastis.
Terbuat dari bahan khusus supaya dapat mengangkat bobot lift beserta para penumpangnya melawan gravitasi.
Dan Rena tahu benda apa itu.
Kawat baja lift.
“A… Apa-apaan—WHOAA!!!”
Lift kotak meluncur deras dengan kecepatan lebih tinggi daripada sebelumnya.
Dengan tubuh ringan, berbalik daripada bahan berbasis besi lift yang berat, Aiochi Rena merasakan dirinya mengambang di udara hingga mencapai langit-langit. Tubuhnya masih dipeluk oleh sosok bayangan pudar yang memeluknya tanpa henti. Tapi pandangan matanya tertuju pada nomor lantai yang bercahaya di dekat pintu masuk. Memberikan informasi penting di lantai berapa ia sekarang berada.
Lantai 20.
Lantai 15.
Lantai 10.
Angka bercahaya di depannya berpendar seperti bom waktu yang hampir meledak.
Suara Aiochi Rena hampir hilang ketika tubuhnya tiba-tiba dihempaskan ke bawah oleh si makhluk tak dikenal, ditindih kuat-kuat dengan bobot tidak masuk akal. Terkulai lemas di atas lantai. Tak dapat bergerak.
“Si… Siapapun… Tolong aku…”
Lift besi yang telah kehilangan kawat penyanggannya terus meluncur melalui lorong vertikal. Hanya menunggu waktu hingga ia benar-benar menghantam tanah. Menabrak dengan kecepatan tinggi. Hancur berantakan seperti kedua mobil yang tadi pagi hampir saja meremuk si gadis dari dua sisi sekaligus.
Tewas di percobaan pembunuhan yang keenam.
Ofuda: Lepas Segel: Kurokami Tsukiyo!
Ruangan lift sudah mencapai lantai lima saat sebuah kertas merah persegi panjang melintasi koridor lantai satu bagai shuriken. Menghindari beberapa orang yang mengantre sambil sesekali melihat jam di pergelangan tangan. Menancap di pintu ganda besi yang dingin. Memancarkan cahaya merah terang.
Para penghuni apartemen yang melihat itu terkejut. Melangkah mundur.
Sinar merah di depan mereka membuat silau. Berkedip layaknya lampu polisi. Menimbulkan kabut-kabut.
“A… Apa ini?!”
“B—BOM ASAP!”