Ofuda: Battle Of Onmyoji

Ariaria
Chapter #4

AIOCHI RENA

FUWAAAH! NIKMATNYA~!”

Gadis berkimono serba hitam itu terkekeh puas. Senyumnya meleleh lega usai menuntaskan segelas sake murni merek Ozeki—salah satu minuman kelas atas yang cukup legendaris di Tokyo. Tanpa peduli etika, sebuah sendawa keras lolos dari mulutnya, sama sekali tak mencerminkan paras cantiknya. Dengan pipi merona merah dan tatapan sayu pengaruh alkohol, ia menatapku lekat-lekat.

“Haaaruuutooo-kuuunn… Maassih mauu lagiii~!”

Di dalam kedai remang-remang yang mulai sepi pengunjung, roh kuat bernama Kurokami Tsukiyo itu terhuyung mendekat. Pipi empuknya menempel di bahuku sambil terus merengek, menyodorkan gelas kecilnya tinggi-tinggi.

Aku menghela napas panjang dan menggeleng tegas. “Sadar diri sedikit. Sudah mabuk berat begitu masih minta tambah?”

“Umurku sudah lima ratus tahun lebih! Pelit sekali, sih~!” Tsukiyo menghentak-hentakkan kakinya.

“Tidak tetap tidak.”

Aku buru-buru menyumbat kembali botol sake murni—minuman sesaji yang biasa dipakai untuk menyenangkan entitas spiritual—lalu memasukkannya ke kantong belanjaan. Dari balik saku jas, kuambil selembar Ofuda, jimat kertas berisi deretan mantra bertinta khusus.

Tanpa basa-basi, kusegel dahi roh pemabuk itu.

“Haa—Haruuutoooo-kuuuuunn—?!”

“Maaf ya, Nona Tsukiyo. Selamat tidur.”

WHOOSH!

Bagaikan debu yang tersedot ke dalam ruang hampa, tubuh gadis itu terhisap masuk ke dalam kertas jimat yang kutempelkan. Tsukiyo yang cuma bisa meronta pasrah perlahan lenyap—dimulai dari kepalanya yang terdistorsi ke dimensi lain, disusul badan, hingga kedua kakinya.

Plak.

Jimat kertas itu jatuh terkulai di atas lantai kayu kedai.

Aku menarik napas dalam-dalam, memungut jimat tersebut, lalu menepuk-nepuk seragam sekolahku yang agak kusut. Namun, begitu aku berbalik hendak membayar...

...seorang gadis berambut pirang sudah berdiri mengadangku.

Aiochi Rena. Bajunya masih kotor dan kusut, kentara sekali kalau ia habis berlari menembus malam demi mengejarku. Tatapannya tajam penuh selidik—tipe tatapan yang menandakan masalah besar sedang menanti.

“Siapa?” tanyaku polos.

“Jangan pura-pura amnesia!” serunya keras.

Sentakan itu sukses membuat paman pemilik kedai mencolokkan kepalanya dari balik meja bar, mengintip curiga. Aku buru-buru menyembunyikan jimat Tsukiyo ke dalam saku.

Bergerak menjauh.

“Ah, Nona sepertinya salah orang—”

“Jangan coba-coba kabur!”

Rena langsung memotong pergerakanku dengan mencengkeram pergelangan tangan erat-erat. Tenaganya cukup kuat sampai membuatku hampir tersandung meja. Hanya sesenti hingga menghantam sudut siku-siku yang jelas tidak bersahabat.

Begitu aku menoleh, dadanya naik turun menahan jengkel.

“Aku melihat semuanya, bodoh,” bisik Rena penuh penekanan.

Aku menelan ludah. Mengulang.

“Se… Semuanya?”

Ia menyeringai.

“Benar. Semuanya.”

“Gadis berkimono tadi… dia muncul dari mana, huh?”

Pemilik kedai di belakang langsung terperanjat.

“Sudah… melihat semuanya?!” gumamnya dramatis.

“Jangan-jangan… cinta segitiga?!”

Aku menyapu pandangan dengan panik.

“Bukan! Kau salah paham, Nona! Di dunia ini banyak hal ajaib yang bisa terjadi karena kebetulan! Mungkin anda bisa memeriksa mata setelah ini!”

“Kebetulan?” Rena memicingkan mata, melangkah makin mendekat. “Aku baru saja mengecek rekaman CCTV apartemen. Kertas yang tiba-tiba menyala terang itu… aku melihat jelas kau yang melemparkannya! Apa perlu kutunjukan rekamannya?!”

Suaranya begitu meyakinkan sampai-sampai beberapa pengunjung lain ikut bergabung mendekat. Berbisik-bisik di balik bahu pemilik kedai. Penasaran.

“Ada drama apa ini?”

“Biasa, masalah anak muda.”

“Perselingkuhan?”

“Kurang ajar betul anak sekolah zaman sekarang…”

Skakmat.

Aku tak bisa mengelak lagi.

Lihat selengkapnya