Aiochi Rena hampir meloncat dari tempat duduknya saat mendengar penawaranku yang terdengar tak ubahnya ajakan bunuh diri.
“A… Apa yang kau bicarakan, Haruto-kun?!” teriaknya panik.
Aku tak mengalihkan pandangan. Kuantarkan tatapan dingin yang sama padanya. “Kau tidak dengar? Kalau kau mau, aku bisa memanggil kembali hantu yang tadi berusaha membunuhmu. Bagaimana?”
Jelas sekali Rena keberatan. Ia menggeleng tegas, suaranya melengking memantul di dinding-dinding apartemen. “Kau gila! Baru beberapa menit lalu aku hampir mati dicekik, sekarang kau mau mengundang makhluk itu ke kamarku?! Dendam juga ada batasnya, bodoh!”
“—Mau atau tidak?” potongku datar. “Aku tidak rugi apa-apa kalau kau menolak. Tapi setelah ini, kau akan mendekam dalam jurang ketidaktahuan seumur hidupmu. Kau siap?”
Hening.
Gertakan singkatku sukses membungkamnya.
Kebingungan menjalar di wajahnya yang basah oleh sisa air mata.
Ia berpaling, menyembunyikan pergolakan batin. Namun aku tahu, rasa ingin tahu yang pekat pasti tengah membakar dadanya. Bayangan keluarga yang tewas mengenaskan menuntut jawaban yang jujur.
Saat aku berpura-pura hendak berbalik pergi, Rena mendadak berputar.
Wajahnya memang merah padam, tangannya mengepal erat seolah menahan sebuah ketakutan yang menjadi-jadi, tetapi matanya memancarkan aura berani atau nekat yang menyala-nyala.
“Ba—Baiklah, Kurokami-kun!” serunya patah-patah. Menyingsingkan lengan seragamnya seolah ingin berkelahi.
“Demi menuntaskan misteri kematian keluargaku…”
“… Ayo kita interogasi hantu sialan itu sampai dia buka mulut!”
Aku diam saja menanggapi jawaban gadis yang tiba-tiba saja berubah di detik akhir tersebut. Menghela napas pelan, memicingkan mata. “Kau yakin?”
Ia menegaskan. “Jangan remehkan tekad seorang gadis!”
“Baiklah, kalau begitu…”
Aku merogoh saku dalam jas, mengeluarkan Ofuda merah tempat kusimpan roh Kurokami Tsukiyo. Lembaran tipis itu memancarkan pendar cahaya yang berdenyut pelan bagai detak jantung, sementara tulisan kaligrafi kanji di atasnya bergetar samar.
“…Apa pun yang terjadi, Aiochi-san,” panggilku serius. “Jangan berteriak, jangan lakukan hal konyol, dan tetap berada di dekatku. Mengerti?”
Rena tak lagi membantah. Ia mengangguk cepat meski kedua kakinya mulai gemetar.
Kulemparkan jimat merah itu ke tengah meja. Kertas itu tak jatuh, melainkan melayang kaku di udara.
Ofuda: Buka Segel: Kurokami Tsukiyo!
WHOOSH!!
Gelombang angin berkabut mendadak berembus dahsyat di dalam kamar 123. Pigura foto dan kaleng minuman terlempar dari meja, menciptakan kegaduhan yang memekakkan telinga. Lampu gantung menyala-mati secara liar.
Belum sempat wujud apa pun muncul, Rena sudah panik setengah mati. Tanpa canggung, ia mencengkeram tanganku erat-erat, memeluknya dengan tenaga luar biasa hingga tulang lenganku serasa mau remuk.
“A—AIOCHI-SAN!!” teriakku.
“KUROKAMI-KUN!! TOLOONG!!”
“BELUM ADA ENTITAS YANG MENGGANGGUMU, BODOH!”
“AKU TAKUT!!”
POOF!
Sebuah letupan kecil mengakhiri kabut merah tersebut. Dari pendar cahaya yang menyilaukan, seorang gadis kecil berkimono hitam muncul. Ia berdiri di atas meja dengan posisi tak sopan, melangkah mendekati Rena sambil menyipitkan mata sinis.
Hawa keberadaan yang berat dan sarat kemarahan mendadak memenuhi ruangan.
“Haaaruuutooo-kuuun…” bisiknya dengan nada serak pengaruh sisa alkohol. “Aappaaa yaaang kaaau laakuukaan deeengaaan gadiiis seelaaaiinnkuu…?”
Aku mendesah pelan, lalu melirik Rena. “Tolong ambilkan air.”
“E… Eh?”
Rena sebenarnya bingung sekaligus tidak paham apa yang sebenarnya kuinginkan. Akan tetapi, justru karena gadis itu tidak paham, ia hanya manggut-manggut menuruti kataku. Berlari cepat ke kamar mandi yang pintunya berada di sisi lain ruangan. Kembali dengan rok yang agak basah, mengusung seember air keran.
“Kerja bagus,” gumamku. Mengambil seember air tersebut.
BYUUURR!!
Tanpa ragu, kusiramkan seluruh air es tepat ke wajah Kurokami Tsukiyo.
Rena membeku di tempat.
“WO—WOY!! APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN PADA LELUHURMU, BOCAH BRENGSEK?!!”
Tsukiyo berteriak histeris. Air dingin itu sukses menumpas rasa mabuknya secara instan. Kini, dengan kimono basah kuyup dan rambut lepek seperti boneka tersiram air, ia mengamuk hebat. Tangannya menyambar kerah seragamku.
Tapi aku mencoba membela diri.