Ofuda: Battle Of Onmyoji

Ariaria
Chapter #6

HANTU YANG SEDANG BERBOHONG

Perdebatan panas yang menguras tenaga akhirnya mulai surut di dalam kamar apartemen nomor 123, Roppongi Ark Tower. Penghangat ruangan menyala redup, berusaha memangkas hawa dingin mistis yang menguar dari sosok roh wanita berambut hitam yang terikat di atas kursi. Lampu gantung yang semula berkedip remang kini memancar stabil, menerangi wajah gusar hantu wanita itu. Aku, Tsukiyo-sama, dan Aiochi-san memasang posisi siaga, menatapnya tanpa berkedip.

Sosok roh berwujud anak perempuan berkimono hitam, Kurokami Tsukiyo, menguap lebar-lebar. Tangan mungilnya menutupi mulut. Roh sepertinya pun ternyata bisa lelah. Ia menggerakkan kaleng bir kosong pemberian Rena yang tergeletak di atas karpet dengan ujung kakinya. Menggerutu. “Ayolah, wanita sialan…” Pipi Tsukiyo-sama menggelembung. “Mengaku saja dan ceritakan semuanya. Kami juga butuh tidur, tahu.”

Roh wanita yang terikat tangan-tangan gaib itu meronta frustrasi. “Justru itu!” Katanya.

“Dari tadi yang kuucapkan adalah kebenaran, tahu?! Aku ini ‘Mama’ baru Rena-chan yang baru datang sejak beberapa bulan lalu! Justru aku yang menyelamatkannya dari berbagai kecelakaan yang mengancam nyawanya!”

Ia menatap Tsukiyo-sama dengan dahi berkerut. “Lagipula, kenapa hantu sepertimu bisa-bisanya tunduk dan bekerja sama dengan manusia?!”

Aku membuang muka, pura-pura tidak mendengar.

Namun Tsukiyo-sama malah mengangkat bahu santai dengan seringai polos. “Sake pemberian Haruto-kun selalu lezat. Aku sampai jatuh cinta.”

Roh wanita bernama Irumi Natsuo itu melotot hebat, membentak keras hingga bau mulut gaibnya berhembus ke arahku dan Aiochi-san. “KAU BISA DISOGOK?!’

“Aku menyewakan jasa profesional,” sahut Tsukiyo-sama penuh wibawa.

Melihat pembicaraan putar otak ini tak kunjung mengarah ke mana-mana, aku melirik jam dinding. Sudah pukul sebelas malam.

“Baiklah, karena belum ada titik terang, mari kita lanjutkan besok sepulang sekolah di sini,” kataku lelah. Memberi aba-aba. “Tsukiyo-sama~”

Gadis cilik berkimono itu mengangguk. Ia mengulurkan tangan mungilnya, memicu kemunculan mulut raksasa bercelah gelap yang menganga lebar di udara untuk menelan kembali Irumi Natsuo ke ruang penyimpanannya.

Irumi menjerit ketakutan. “To—Tolong! Jangan kembalikan aku ke tempat menjijikan itu!” Ia sengaja menjatuhkan diri dari kursi, merayap pasrah di atas karpet.

Saat kepala Irumi sudah berada tepat di depan mulut raksasa bertaring tajam itu, ia menatap gadis berambut pirang di dekatnya dengan mata berkaca-kaca. “Rena-chan… hiks… Tolonglah mamamu ini, Rena-chan~”

Aku mendengus menyeringai, siap menyaksikan proses penelanan tersebut. Namun, di luar dugaan, Aiochi Rena tiba-tiba bergerak cepat. Ia berjongkok persis di hadapan mulut gaib Tsukiyo-sama, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk melindungi arwah Irumi.

Atmosfer kamar mendadak hening seketika.

“Hantu ini berkata jujur,” pangkas Rena dengan sorot mata yang teramat serius.

Irumi yang awalnya menangis histeris mendadak beruraian air mata haru. Ia berusaha memeluk Rena dari belakang, tapi gerakannya terbatas oleh ikatan gaib.

“Meski dia menakut-nakutiku dan hampir membuatku tewas di dalam lift… itu bukan alasan untuk menuduhnya berbohong atas hal yang tidak dia lakukan!” tegas Rena.

Tsukiyo-sama terdiam. Menoleh padaku, meminta keputusan akhir. Sebagai Onmyoji, pengalamanku menegaskan bahwa arwah sering kali licik dan pandai bersandiwara. Namun, saat mataku tak sengaja beradu dengan bola mata biru bagai lautan milik Rena—dipadu rambut pirangnya yang berkilau serta lengannya yang mulus di balik kaos santai—pikiranku mendadak buyar.

“Ba… Baiklah,” ujarku salah tingkah, refleks mengangguk.

Tsukiyo-sama memicingkan mata curiga ke arahku.

Aku tersenyum kecut. Mengangkat bahu. “Jika Aiochi-san berkata begitu…”

“… Mau bagaimana lagi, bukan?”

Tsukiyo-sama langsung menyemprotku.

“Pikiran kotor apa yang sedang meracuni otakmu sampai berubah pikiran secepat ini, Haruto-kun?!”

Aku menunduk pura-pura menyesal. “Seorang pria sejati… Tidak mungkin menolak permohonan gadis di depannya, kan?”

Aiochi Rena jadi salah tingkah.

“Ku… Kurokami-kun…”

“HA-RU-TOOOOO!!”

Lihat selengkapnya