Ofuda: Battle Of Onmyoji

Ariaria
Chapter #7

KUIL KUROKAMI

Ratusan patung batu di sepanjang undakan Kuil Kurokami berdiri membisu, berbaris kaku memagari tangga yang menanjak di tengah kegelapan Gunung Takao. Deretan artefak tua itu tampak seperti benteng pelindung sakral. meski entah apakah ia dipasang disana untuk melindungi area dalam dari kejahatan luar…

… Atau justru menahan ancaman di dalam kuil agar tidak keluar memangsa warga yang tak tahu apa-apa.

Dalam tempias rembulan yang temaram, aku, seorang pemuda SMA yang baru keluar dari stasiun terdekat dan berjalan tiga kilo, menyusuri anak tangga batu berlumut itu dengan napas terengah.

Sebagai seorang Onmyoji, penglihatanku mampu menembus tabir tak kasatmata: potongan kepala bertengkorak hancur menyembul mendadak dari balik tanah, sosok-sosok tanpa tungkai melayang di angkasa bak memiliki sayap tak berwujud.

Tangisan dan rintihan pilu pun bersahut-sahutan, memantul di gendang telingaku bagai melodi pengantar maut. Bercampur bersama erangan burung hantu yang hinggap di puncak-puncak pohon.

Sambil menggaruk bagian belakang leher yang kedinginan, aku mengeluh. “… Aduh.” Kataku.

“… kali ini, sepertinya aku pulang terlalu malam.”

Aku menatap bangunan utama keluargaku, klan Kurokami, yang berdiri dingin di sebelah altar penyucian.

Inilah Kuil Kurokami.

Tempat terisolasi di lereng gunung Takao yang pekat akan trauma dan tragedy masa lalu. Menjadi tempat yang terkenal angker dan dipenuhi penampakan-penampakan mengerikan yang kerap dituju para penggemar horror dan uji nyali.

Jika melihat sejarah, dahulu sebuah bencana longsor pernah mengubur satu desa bernama Hamaguchi yang terletak di kaki tangga kuil. Karena proses evakuasi saat itu berlangsung dengan lambat dan jepang masih belum terlalu berkembang, akhirnya ratusan nyawa itu melayang perlahan karena kehabisan nafas. Baru bisa dikuburkan secara menyeluruh satu pekan setelah bencana terjadi. Menjadi roh gentangan dalam jumlah besar yang menyimpan kesedihan, hasrat, dan dendam.

Namun bukan itu saja yang menjadi alasan mengapa area sekitar gunung Takao menjadi sangat angker.

Berabad-abad lagi sebelumnya, pada era Oda Nobunaga, pembantaian masal pernah terjadi tepat di depan altar suci oleh pasukan berkuda Kuro-horo-shu yang terkenal kejam dan tak mengenal ampun.

Para pria disembelih dengan kapak besar satu per satu.

Sementara para wanita dan anak-anak dilecehkan secara semena-mena lalu dibakar hidup-hidup.

Darah dan dendam dari masa ke masa pun tak elak menumpuk di tanah ini. Melahirkan energi negatif yang begitu pekat dan membuat orang-orang merinding secara otomatis.

Para peziarah kuil akhirnya perlahan kabur ketakutan. Meninggalkan kuil Kurokami yang dahulu mereka kunjungi bersama keluarganya sebagai lokasi religius penyucian jiwa.

Kuil Kurokami pun sepi dan senyap.

Bertambah antik, unik dan misterius dimakan masa.

Aku tahu, sebagai penerus kuil kuno yang memiliki sejarah panjang dan seringkali berdarah-darah, jalan yang kutempuh akan sangat berat. Aku harus membagi waktu antara bangku sekolah, melakukan ritual harian, merawat bangunan sekaligus berlatih. Tetapi, aku menolak untuk lari.

Tugas yang telah diamanatkan keluarga besar kepada diriku… Tidak mungkin kulepas begitu saja.

Benteng terakhir klan Kurokami adalah diriku.

Semuanya percaya bahwa hanya akulah yang mampu merawat kuil tersebut dengan baik. Memiliki kemampuan dan bakat yang sudah ‘terbaca’ oleh para ahli spiritual yang mumpuni sejak kecil. Berasal dari keturunan murni yang diakui oleh tujuh dewan keluarga.

Untuk itu, setiap kali ada kesempatan—apalagi saat pulang sekolah—aku harus terus-menerus mengasah ilmu ofuda—kertas mantra mistis—sebagai senjata utamaku.

Ia adalah kertas ajaib yang multifungsi dan memiliki biaya produksi rendah. Berbeda dengan pengguna ilmu darah yang sering melukai diri sendiri ketika melakukan ritual atau menyegel roh jahat, aku hanya perlu kertas—bahkan jika itu adalah kertas origami yang lucu—dan sepucuk pena yang memiliki tinta lima warna.

Lihat selengkapnya