Ofuda: Battle Of Onmyoji

Ariaria
Chapter #8

MENJADI TERSANGKA

Ayane Mitsuha baru saja tiba dan melempar tasnya asal di atas bangku sebelum mendatangi mejaku dengan pendar mata penuh curiga. Tanpa aba-aba, ia melingkarkan lengannya yang hangat di leherku, merangkul erat, lalu berbisik bagai sedang menyusun rencana kejahatan besar.

“Hei… Kurokami-kun…” Panggilnya pelan.

Hembusan napasnya menyapu kulit leherku, mendatangkan sensasi merinding yang menggetarkan dada.

Ia menyipitkan manik matanya yang sehitam jelaga.

“… Aku boleh pinjam jimat terlarang… yang kau pakai itu, bukan?!”

Aku melongo total. “Ma… Maksudmu?”

“Jangan pura-pura bodoh!” Gadis tomboy berambut pendek itu memekik. Dengan watak kasarnya yang kumat, ia mengacungkan telunjuk tepat di depan hidungku. Menaikkan sebelah kakinya yang jenjang ke atas meja.

Gadis tersebut mendelik sinis, seolah aku adalah penjahat kelamin yang layak dikutuk sampai ke neraka.

“Gadis cantik dari sekolah sebelah yang jadi pacarmu kemarin…” Gumamnya penuh dendam, “… Pasti kena guna-guna atau pelet jimatmu, kan?!”

“Mengakulah! Atau kulaporkan kau ke polisi!”

Aku mengacungkan kedua tangan, mengangkat bendera putih. “Tu… Tunggu dulu, Ayane-san! Aku yakin ini cuma kesalahpahaman—”

“—Halo, Pak Polisi?”

Ayane Mitsuha sudah menempelkan ponsel di telinganya. Jemari lincahnya ternyata sudah mendial nomor darurat di atas meja tadi.

Mulutku menganga lebar.

“Iya, Pak. Saya mau melapor.” Suara gadis tomboy terdengar begitu meyakinkan secara ajaib.

“Teman sekelas saya terbukti mengguna-guna siswi cantik dari SMA sebelah. Iya, betul. Nanti kalau PDRB berhasil mengamankan pelaku, bakal saya kenalkan ke teman-teman saya yang imut. Oke, Pak, makasih ya—bye!”

Bip.

Sambungan ditutup.

Anak-anak sekelas yang menonton aksi itu hanya bisa melongo dalam keheningan canggung. Aku kehabisan kata-kata untuk merespons kegilaan di depan. Ayane terkekeh puas.

Menatapku dengan binar kemenangan. “Nah.” Katanya, lega.

“Sekarang kau tidak bisa kabur lagi, Kurokami-kun.”

“Kabur dengkul anda!” Akhirnya aku menyembur.

“Kau baru saja menyogok polisi cuma buat menyudutkanku?!”

“Menyogok?” Ayane mendengus. “Itu namanya pelicin.”

“Sama saja!”

“Wah, wah, ada apa ini pagi-pagi? Kok Mitsuha-chan sudah nangkring di meja Kurokami-kun~?”

Seorang siswi lain ikut bergabung. Dengan gaya tengilnya, ia cepat-cepat meletakkan ransel hitam di bangku, lalu berdiri bersedekap di samping Ayane. Mengulas senyum lebar yang manis.

Ayane menoleh. Memeluk erat lengan gadis yang baru datang tersebut.

“Ah, Chi-chan! Pas banget!”

Ekspresi wajahnya tampak jelas meminta persetujuan konspirasi.

“Kau mau jadi saksi atas kejahatan Kurokami-kun bersamaku, kan?”

Dahiku berkerut.

Sakit hati rasanya mendengar tuduhan yang dilontarkan begitu mudah tanpa beban.

Gadis berambut cokelat yang dipanggil Chi-chan—nama aslinya Mikko Chitanda—mengerjapkan matanya. “Kejahatan… Kurokami-kun?”

Ia terdiam sejenak.

“Memangnya Kurokami-kun bisa jahat?”

“Tentu saja!” Seru Ayane bersemangat.

“Kemarin sore kau lihat sendiri ada siswi cantik dari sekolah sebelah yang bela-belain menunggu pria sialan ini! Menurutku, dia pasti kena pelet atau ilmu hitam!”

Mikko diam lagi.

Langkah kakinya bergerak mendekatiku. Ia membungkuk, mengikis jarak hingga wajah kami hanya terpaut setengah jengkal.

Bahuku menegang hebat, menahan napas.

Namun, Mikko tiba-tiba menegakkan tubuhnya seperti semula dan tersenyum lebar. Ia melambaikan tangan pada sahabatnya.

“Tenang saja, Mitsuha-chan~” Celetuk Mikko santai.

Melangkah kembali ke samping temannya.

Lihat selengkapnya