Ofuda: Battle Of Onmyoji

Ariaria
Chapter #9

UJI NYALI DI TAMAN TOYAMA

“Chi-chan! Kenapa dari tadi tidak ada hantu yang muncul sama sekali, sih?! Padahal aku sudah bersiap mengetes seberapa ampuh jimat perlindungan yang diberikan Kurokami-kun tadi pagi!”

Suara Ayane memecah keheningan yang mengendap di antara deretan pohon sakura dan bangku-bangku kayu Taman Toyama—lokasi yang berjarak sekitar sepuluh menit dari hiruk-pikuk Stasiun Shinjuku. Gadis berjaket kuning dengan rok merah itu menghentakkan kakinya kesal di dekat Hakone-yama, sebuah bukit buatan yang berdiri mencurigakan di tengah area taman, dengan pipi mengembang

Bau basah dan samar-samar kelam dari tanah di bawah kaki seolah mengenyitkan panca indera.

Tempat ini menyimpan sejarah peninggalan fasilitas militer yang menelan ratusan korban eksperimen biologis—alasan utama mengapa Taman Toyama dikategorikan sebagai S-Rank dalam peta penjelajahan mistis di Tokyo.

Sahabatnya, Mikko Chitanda—atau yang biasa dipanggil Chi-chan—menyelipkan helai rambut cokelatnya ke belakang telinga. Angin malam yang menusuk membuat dedaunan berguguran dengan gemerincing halus bagai bisikan gaib. Ponsel di tangan kanannya terus menyorotkan pendar pualam ke arah Ayane; mereka sedang melakukan siaran langsung di Yutube, berharap berburu kepopuleran jika berhasil mengabadikan fenomena aneh di kamera.

“Tentu saja tidak akan ada yang muncul, Mitsuha-chan~” sahut Mikko santai dengan bahu terangkat.

“Kita kan masih mengantongi jimat origami imut ini? Mungkin hantu-hantu di sini ciut duluan sebelum sempat mengganggu kita.”

“Haaa?!” Ayane terbelalak heran. Ia merogoh saku jaket, menarik keluar selembar kertas lipat putih yang terlihat imut. “Entitas mengerikan bekas korban eksperimen terlarang… takut pada kertas origami mungil begini?!”

Ayane mengibas-ngibaskan kertas itu di depan wajah Mikko. “Yang benar saja!”

“Kalau begitu, mau coba dilepas?” tawar Mikko dengan nada datar yang kelewat tenang.

Hening seketika.

Pendar pualam dari lampu taman berkedip redup beberapa kali. Bayangan pepohonan meliuk janggal di atas permukaan tanah, menciptakan efek visual yang merayapkan sensasi dingin.

Ayane sebenarnya ingin langsung mengiyakan ide mentah sahabatnya. Namun, entah mengapa, bulu kuduk di tengkuknya mendadak berdiri kaku. Ada desakan tidak nyaman di dadanya—seolah-olah dari balik kegelapan semak-semak, ada puluhan pasang mata yang sedang mengawasi mereka tanpa berkedip.

Gadis tomboy itu meneguk ludah berat. Ia menatap Mikko yang masih memasang senyum lebar—seolah aksi nekat malam ini tak lebih dari sekadar wahana rumah hantu di taman bermain.

Setelah terdiam selama sepuluh detik yang mencekam, Ayane akhirnya membuka suara. “Chi-chan…” Panggilnya.

“Berapa penonton yang sedang menonton siaran kita sekarang?”

Pertanyaan yang terkesan tak masuk akal di tengah atmosfer mencekam itu membuat Mikko berkedip pelan. Namun, gadis itu tetap melirik angka di sudut layar ponselnya. “Hmm…” Ia mengeram. “… sepuluh ribu.”

“Sepuluh ribu?!” Ayane menjerit tertahan. “Itu lima kali lipat lebih banyak dari penonton harian kita!”

Mikko, yang bertindak sebagai juru kamera, terkekeh pelan. “Selamat ya, Mitsuha-chan~ Habis ini kau wajib membelikanku Ramen Jumbo Paman Goro di dekat sekolah.”

“Jangankan ramen.” Bisik Ayane meluap-luap, menudingkan telunjuknya pada Mikko. “Kalau angka penonton kita tembus seratus ribu… kita bisa terbang mewujudkan mimpi kita berlibur di Okinawa!”

Derik jangkrik malam kembali mengisi kekosongan saat suara Ayane luruh.

Pendar temaram bulan menembus celah dedaunan, memproyeksikan bayangan mereka berdua meliuk panjang di atas jalan setapak.

Lihat selengkapnya