Ofuda: Battle Of Onmyoji

Ariaria
Chapter #10

TANGISAN DARI NAGASAKI

Ayane Mitsuha merapatkan kedua telapak tangannya di atas mulut, berusaha menahan deru napas yang tersengal saat pupil matanya benar-benar mengecil.

Mengandalkan celah sempit di antara dua mesin penjual minuman otomatis di Taman Toyama, gadis itu memaku tubuh. Ia berjuang keras tak membiarkan suara sekecil apa pun bisa lolos—bahkan detak jantungnya yang berpacu liar berusaha ia tekan, meski ia tahu itu akan sia-sia.

"Si... siapa?" bisik gadis bernampilan tomboy itu memecah sunyi, merinding hebat. "Wanita seram yang melotot padaku tadi... jelas bukan Chi-chan, bukan?"

"Miii... tssuuu... haaa~?"

Suara berat dan serak milik seorang gadis berambut cokelat menggema di koridor taman yang lengang. Wajahnya pucat pasi bagai mayat yang telah kehilangan seluruh darah. Bola matanya kosong melompong—seolah-olah baru saja dicungkil dari kelopaknya melalui sebuah alat.

"Kaaauu... adaaa... dimmaaanaaa?"

Jantung Ayane berdegup kian kencang. Suara mengerikan itu terdengar makin dekat, mungkin hanya berjarak sepuluh meter dari tempatnya bersembunyi. Ayane meringkuk lebih dalam, memeluk erat kedua lututnya di sela mesin yang dingin dan gelap.

Ia merogoh saku, berniat memanggil bantuan—polisi, sahabat atau siapa saja yang bisa ia hubungi. Namun di saat yang paling krusial, ponselnya justru hilang sinyal. Membuatnya ingin sekali menonjok perusahaan internet yang biasa mengumbar garansi internet cepat bahkan dan kuat.

Si… Sial!—Ayane menjerit dalam hati.

Satu-satunya ponsel yang sekarang masih bekerja mungkin milik Mikko Chitanda di lokasi awal ia 'berubah'. Dengan gangguan gaib sejelas ini, Ayane yakin penonton siaran langsungnya sudah melonjak dua kali lipat. Lebih dari cukup untuk meningkatkan jumlah subscribers yang tentu juga menambah penghasilan mandiri di akhir bulan.

Ia segera menyusun rencana mutakhir.

Kelabui makhluk yang menyerupai Chitanda, lari secepat kilat, ambil ponsel yang masih menyala, lalu lanjutkan siarannya—Ayane menerawang di dalam kepala.

Dengan begitu, usahaku malam ini tidak akan sia-sia—

"Keeeeteeemuuuuu~"

Tanpa disadari oleh gadis tomboy, sosok Mikko Chitanda ‘palsu’ rupanya berhasil melacak keberadaannya lewat aroma parfum yang ia kenakan. Kini, anomali mengerikan dengan sendi-sendi yang meliuk patah itu tengah merangkak masuk ke dalam celah mesin. Ia menyeringai selebar rahang yang robek, dengan penuh gariah, menyongsong wajah Ayane.

Rasa takut seketika menjalar, melumpuhkan seluruh saraf Ayane.

"To... tolong aku..."

Suaranya yang serak tertahan tepat di tenggorokan. Ia hanya mampu terisak menangisi nasib. Pasrah menatap moncong anomali di depannya yang mendadak mekar lebar, siap melahap kepalanya bulat-bulat.

“Seeelaamaat maakkaaann~!”

PLUK

Namun, tepat sebelum kepalanya terpisah dari leher dan menjadi berita utama di stasiun TV NHK besok pagi, keajaiban ternyata benar-benar menghampiri.

Dari belakang tubuh Chitanda palsu, sesosok bocah laki-laki berusia belasan tahun muncul dari ruang antah-berantah. Suara lirihnya terdengar. Begitu datar, dingin, dan ganjil.

"Ketakutan," ucap bocah itu. "Hei, Kakak…” Bocah itu meremas bahu kanan Mikko Chitanda erat-erat. “… Aku… sangat ketakutan."

"Aaareee...?"

Monster bermulut lebar spontan batal mengunyah. Ia menoleh setelah bahunya ditepuk pelan dan diremas. Di belakangnya, berdiri seorang anak laki-laki berpakaian kusam—kaos putihnya terkoyak, kakinya berdarah, sementara celana pendeknya kumal selutut.

"Keeenaaaapaaa kaaauu meemaaanggilku, aaanaaak keeecill?"

Dengan seringai mengerikan yang berbalik arah, sosok Chitanda ganti mengincar mangsa yang baru. Ia membuka rahang raksasanya lebar-lebar, bersiap mencaplok kepala si bocah antah-berantah.

Namun, anak laki-laki itu ternyata tak bergeming sedikit pun. Ia menatap kosong ke arah kegelapan mulut monster di depannya, seolah memang sengaja menumpahkan dirinya untuk dimangsa. Air mata mengalir deras melewati pipinya yang kusam.

"Hei, Kakak..." desis bocah itu lagi. Lebih dingin.

Seketika, raut wajah anak-anaknya bertransformasi lebih mengerikan—kulitnya meleleh terbakar, hancur lebur, dan dipenuhi bintik-bintik infeksi parah.

"... Kenapa aku..." Lanjutnya, mulai terisak, "... tidak bisa berhenti menangis?"

Udara di sekitar mereka mendadak menyusut. Suasana menjadi hening, panas, dan mencekam hingga memicu sesak napas dengan cara yang ganjil. Ayane, yang memaku tubuhnya di celah mesin, turut merasakan tekanan gaib yang menurutnya sangat baru.

Air mata si bocah berganti warna menjadi merah darah, lalu pekat berubah hitam.

Monster berwujud Chitanda itu mendadak menghentikan gerakannya. Tubuhnya diganjar rasa panas yang membakar dari dalam. Ia mulai mengalami gejala yang sama: matanya perih luar biasa, lalu memuntahkan air mata darah dalam jumlah masif.

"Aaapaaa yaaang kaauu laakuukaaan?!"

Monster rahang raksasa itu kejang-kejang hebat. Meski didera rasa sakit yang tak terbayangkan, tubuhnya tetap membeku kaku seakan diikat oleh rantai tak kasat mata.

Jurus Tangisan Dari Nagasaki: Tangisan Darah.

Usaha monster itu meloloskan diri berakhir sia-sia. Meski si bocah hantu tak melakukan kontak fisik selain tepukan di bahu tadi, ia ternyata sanggup memutus intervensi dimensi gaib yang nyaris saja merenggut nyawa seorang Ayane Mitsuha.

Diiringi jeritan kematian yang merobek malam, sebuah ledakan gumpalan kabut hitam meletus tepat di hadapan si gadis yang mengenakan jaket kuning dan rok merah tersebut. Gelombang tekanannya menampar keras wajahnya, mengacak-acak rambut hitam yang ia miliki hingga kusut.

Lalu, segalanya kembali hening.

Taman Toyama di dekat Stasiun Shinjuku kembali ke wujud aslinya yang tenang.

Lihat selengkapnya