Ofuda: Battle Of Onmyoji

Ariaria
Chapter #11

KELANJUTAN INVESTIGASI

“Si bocah cengeng bernama Hanoki itu benar-benar tak bisa menahan diri dan melenyapkan seluruh roh yang sebenarnya bisa dimanfaatkan, ya? Sayang sekali… Seharusnya kau mengajakku saja saat beraksi di taman Toyama, Haruto-kun. Lihat, Tsukiyo-sama-mu yang anggun ini kan jauh lebih kuat, bisa diandalkan, perhatian, mana cantik pula—kurang apa aku di matamu, hah?”

Sembari membelah keramaian jalanan kawasan Roppongi yang tersohor di Tokyo, aku dan roh Kurokami Tsukiyo berbisik-bisik sepanjang jalan menuju gedung apartemen mewah yang beberapa hari lalu sempat kami sambangi.

Tentu saja kami ke sini bukan untuk berfoya-foya, menumpang tidur, apalagi berbuat yang tidak-tidak dengan salah satu penghuni apartemen berkelas tersebut.

Kami datang dalam rangka konsultasi spiritual—menelusuri benang kusut gangguan gaib yang meneror keluarga kaya bernama Aiochi.

Klien kami di sana adalah seorang gadis cantik bernama Rena. Beberapa waktu lalu, ia mengirim pesan bahwa hantu pelindungnya telah menemukan titik terang dalam investigasi ini. Maka malam ini ia mengundang kami secara khusus untuk mengunjungi kamarnya—dan, tentu saja, telah menyiapkan sebotol sake mewah sebagai bayaran atas kehadiran roh Tsukiyo-sama.

Meja resepsionis dari kayu jati mengkilap langsung menyapa kami begitu melintasi pintu kaca otomatis yang menyemburkan hawa AC dingin, merengkuh kulit hingga menggigil.

Saat kusebutkan nama Aiochi Rena yang menghuni kamar nomor 123 di lantai teratas, resepsionis berseragam hitam-putih yang cukup ketat itu segera mempersilahkanku masuk dengan ramah. Ia sempat menawarkan diri untuk mengantar. Namun, karena Nona Tsukiyo di balik ofuda merah berbisik kepadaku supaya tidak tergoda oleh wanita yang macam-macam, kutolak secara halus agar tidak merepotkannya.

Langkahku membawa kami menyusuri koridor bisu yang dibasahi pendar cahaya temaram kekuningan dari langit-langit. Di ujung sana, berjejer dua pintu lift yang salah satunya tengah dipasangi tanda perbaikan akibat ‘suatu insiden’ yang tentu saja aku tahu persis siapa yang terlibat.

Lima menit meluncur di dalam lift yang hening, kami akhirnya tiba di depan pintu kamar nomor 123. Aku mengetuk pintunya tiga kali seraya menyebutkan nama begitu terdengar sahutan dari dalam.

Bukan Aiochi-san yang berada di balik pintu, bisik hati kecilku seraya menelan ludah. Menyadari bahwa suara sahutan tadi terlalu berbeda dari gadis berambut pirang yang kukenal.

Ada wanita lain di dalam kamar nomor 123 ini.

“Selamat malam, Tuan Onmyoji~ Rena-chan baru saja masuk kamar mandi lima menit yang lalu. Silahkan masuk.”

Awalnya kubayangkan sosok yang membukakan pintu adalah saudara sepupu, bibi, atau kerabat dekat yang masih memancarkan garis wajah serupa dengan Aiochi Rena. Namun, begitu menangkap rambut hitam pekat yang tergerai indah dari wanita di hadapan, aku seketika sadar bahwa dia adalah orang yang asing—atau setidaknya, tak memiliki ikatan darah dengan silsilah keluarga Aiochi. Semacam pihak ketiga yang tidak ada hubungan.

Yang membuatku agak tertegun, kendati pesonanya masih setingkat di bawah Aiochi-san dengan rambut kuning keemasan berkilaunya, wanita ini memiliki daya pikat yang menarik sebagai orang dewasa. Ia mengenakan apron putih yang membalut daster hitam lengan pendek. Aroma bumbu masak yang gurih dan menyengat menguar dari tubuhnya, menandakan bahwa ia baru saja bergelut di dapur.

Dengan ukiran senyum manis yang merekah, wanita asing itu membimbing kami menuju ruang tamu minimalis yang elegan. Ia menghilang sejenak ke dapur lalu kembali membawa nampan berisi minuman segar serta aneka camilan manis. Tanpa sanggup kucegah, Kurokami Tsukiyo—yang sudah kulepaskan dari wujud rohnya sejak mengetuk pintu—langsung menyambar kudapan itu dan melahapnya penuh nafsu.

“Enak bangett~!” Leluhurku sendiri yang mewujud dalam sosok gadis kecil memegangi kedua pipinya yang menggembung. “Haruto-kun! Besok-besok aku tidak mau lagi diberi sake basimu itu! Kalau butuh bantuan, pastikan kau menyetok makanan ringan manis seperti ini, ya?!”

Mulutnya kembali mengunyah tanpa henti.

Sosok ber-apron putih terkekeh geli melihat ekspresiku yang merana.

Kurokami Tsukiyo adalah salah satu ‘roh jahat’ dalam kontrakku yang memiliki biaya operasional teramat mencekik. Gadis ini sangat oportunistik. Seolah tak peduli bahwa aku adalah keturunan darahnya sendiri, Tsukiyo-sama selalu menuntut bayaran yang pelan tapi pasti menguras kantong saku sekolahku. Kalau aku sampai menunggak hutang beberapa hari saja, ia tak segan-segan menarik bunga kompensasi yang mencekik—persis seperti sistem pinjaman era Heian.

Benar-benar hantu yang mengerikan.

Dan kali ini, ia menuntut pergantian mata uang pembayaran?

Lihat selengkapnya