Toriimoto, Kyoto adalah sebuah wilayah yang terbentang di sepanjang jalan setapak sepi menuju Kuil Adashino Nenbutsuji. Sejak zaman Heian, area ini dijadikan tempat pemakaman terbuka bagi orang-orang yang meninggal tanpa keluarga dan dibuang oleh masyarakat. Di ujung jalannya, berdiri sebuah gerbang Torii tua yang lapuk. Gerbang itulah yang menjadi asal-usul nama wilayah ini, sekaligus dipercaya warga lokal sebagai batas terakhir yang memisahkan dunia fana dengan alam baka—katanya begitu.
Jika pandangan dilempar sedikit jauh, Kuil Adashino Nenbutsuji akan terlihat seolah diselimuti kabut abu-abu tebal. Kuil itu terkenal dengan himpunan 8.000 patung batunya sebagai simbol peringatan sunyi bagi arwah penasaran yang tak pernah tenang. Menjadi tempat destinasi wisata sekaligus uji nyali bagi siapapun yang ingin mencoba.
Rumor mistis yang menyelubungi perbukitan Toriimoto terlalu pekat untuk diabaikan. Konon, siapa saja yang melintasi lereng bukit ini di malam hari akan diikuti suara langkah kaki misteri tanpa wujud. Bahkan, ada yang bilang, jika kita mencoba menghitung 8.000 patung batu di Kuil Adashino berulang kali, jumlahnya tidak akan pernah sama—seakan-akan patung itu bisa bergerak dan menghilang saat pandangan kita lalai.
Masa lalu Toriimoto yang dipenuhi darah dan mayat-mayat terbuang telah menyemaikan dendam yang tak pernah padam. Tempat ini sering dikaitkan dengan legenda Hyakki Yagyo (Pawai Malam Seratus Iblis) yang bisa merenggut nyawa manusia secara acak. Apesnya, jejak penyelidikan kami untuk berburu dalang di balik kutukan berdarah keluarga Aiochi justru membawa kami tepat ke jantung neraka ini.
[Sumur Tua Toriimoto.]
"Posisinya ada di persimpangan jalan Toriimoto yang sepi, sejajar dengan lereng bambu menuju pemakaman kuno Adashino Nenbutsuji yang gelap," tegasku memberi peringatan keras sebelum melangkah. "Intinya, selain makhluk yang mendiami Sumur Tua itu, jangan coba-coba cari masalah sama roh-roh jahat lain di sekitar sini. Keselamatan adalah yang nomor satu. Kalian paham?"
"Siap, komandan~!"
"Ah... Enggak sabar banget~!"
"Hei... Hei… Kira-kira habis ini video kita bakal viral lagi nggak, ya?!"
Biar aku jelaskan situasinya.
Aiochi Rena—seorang gadis yang jadi korban kutukan keturunan keluarganya—terlalu takut untuk melangkahkan kaki ke wilayah berbahaya ini sendirian. Karena itu, dia meminta bantuanku untuk membawa 'tenaga bantuan darurat' sebagai teman dan pelindung sementara. Pada awalnya, aku menyarankan agar dia mengajak teman-teman sekolah saja, toh dia cukup populer. Tapi Rena ternyata menolak keras. Katanya, teman-teman sekolah gadis tersebut cuma sekumpulan penakut yang akan menjerit histeris hanya karena mendengar suara kucing melompat di tengah malam—dia butuh partner yang lebih berani.
Lalu…
Yah…
Entah bagaimana logika berpikirku saat itu…
… aku malah mengajak dua orang content creator, Ayane Mitsuha dan Mikko Chitanda, yang sudah agak baikan setelah insiden di Taman Toyama. Sekarang, kami berempat melangkah beriringan di atas jalan setapak Toriimoto yang dingin dan sunyi. Sebagai tindakan preventif, kami berusaha bergerak semaksimal mungkin untuk tidak mencari perhatian…
… Atau setidaknya begitulah yang kuharapkan.
"Rena-chan... Cheese~!"
"A... Ah, iya... C-Cheese..."
JEPRET!
Foto dokumentasi pertama berhasil diambil di bawah rimbunan bambu hijau yang suram—padahal matahari masih berada di puncaknya. Melihat kelakuan tiga gadis yang santai saja seolah sedang liburan musim panas, aku tidak bisa menahan rasa kesalku. Alisku berkerut tajam. "Kalian bertiga ini..." Suaraku menekan, memotong keriangan mereka. "... Tidak lupa akan tugas kalian masing-masing, kan?!"
Suasana di jalan Toriimoto seketika kembali hening.
Mitsuha, yang bertindak sebagai ketua rombongan cewek-cewek, tertawa pelan. Dengan santai dia mengindikkan bahu sambil memeluk erat tubuh Rena bagaikan mainan. Ia nyengir lebar. "Tugas kami?” Tanya gadis tersebut. “Ya ingatlah! Aku dan Chi-chan hanya perlu melindungi dan menemani cewek imut ini sampai semuanya selesai, kan~? Mudah saja!"
Rena tertawa canggung. "A... Ayane-san... sepertinya kita terlalu dekat..."
"Jangan panggil Ayane! Panggil nama depanku! Mi-tsu-ha-chan! Paham?!"
“Ta… Tapi…”
"Ara, kelihatannya Mitsuha-chan langsung jatuh cinta pada Rena-chan di pandangan pertama ya~!"
Mikko-san... Ucapanmu itu sangat mudah membuat orang salah paham!
Aku berdehem keras, berusaha mengendalikan situasi. "... Lalu, Rena-san. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan habis ini?"
"Tahu kok.” Jawab Aiochi Rena. Menundukkan pandangan. “Aku cuma perlu menyerahkan diri jadi umpan untuk memancing keluar dalangan kutukan ini… apa aku salah?"
"Hmm… Sudah benar…—Kau tidak keberatan dengan hal itu?"
"Tidak,"Aiochi Rena mengepalkan kedua tangan. "Jika ini demi membebaskan keluargaku dari kutukan berdarah, sudah semestinya aku ikut berjuang semampu yang kubisa, bukan?" Gadis itu kemudian terdiam sejenak, tatapannya menerawang jauh. "... Lagian... jika situasinya menjadi gawat… Kurokami-kun akan berusaha melindungiku sekuat tenaga, bukan? Kurasa aku tidak keberatan…—“
Suasana mendadak hening.
Tanpa tedeng aling-aling, Mitsuha yang seolah kesurupan tiba-tiba menerpa dan menarik kerah jaket hitam yang kukenakan. Tatapannya begitu buas nan liar.
"Ku... ro... ka... mi... kun!"
"Ba... Baik...?!"
"Jangan bilang... gadis imut ini masih berada di bawah pengaruh guna-guna milikmu?!”
"Sejak kapan aku bisa main guna-guna ke cewek?!"
“Guna-guna?” Wajah Aiochi Rena memiring.
Tepat jam 1:00 siang, kami akhirnya sampai di lokasi tujuan: Sumur Tua Toriimoto yang beraura pekat.
Bentuknya tak beda jauh dari sumur-sumur kuno era Heian atau sisa peninggalan zaman Edo yang penuh intrik dan pertumpahan darah. Bahan utamanya terbuat dari batu granit Izutsu, dengan penutup kayu lapuk di bagian atas. Pada sekeliling kayu tersebut, terikat simpul tali Shimenawa yang sudah menghitam—sebuah simbol peringatan bahwa apa pun yang terkurung di dalam sumur tersebut sama sekali tidak boleh dibiarkan keluar.
Sayangnya, pemandangan di depan kami menghancurkan harapan itu.
Penutup kayu sumur yang menjadi simbol segel mistis sudah hancur berantakan. Papan-papan lapuknya terbelah, berserakan di antara rumput liar.
Angin dingin mendadak berembus kencang dari arah tenggara. Tiga gadis yang tadinya bercanda langsung refleks memeluk lenganku erat-erat. Wajah mereka yang tadinya sok berani berubah pucat pasi, melayangkan tatapan mengiba memintaku segera pulang.
“Ku… Kurokami-kun!”
“A… Apakah yang barusan itu ulah salah satu kemampuan Cenayangmu?!”