Rahasia besar mengapa aku masih hidup padahal tubuhku telah ditembus tali ari-ari runcing milik hantu janin adalah sederhana saja. Yakni, sebab, pada kenyataannya, serangan tersebut memang tidak pernah berhasil mengenai tubuh asliku yang berada di luar sumur.
Tunggu.
Jika memang tubuh asliku berada di luar sumur... Lalu…
... Siapa yang tadi terseret, dan tercebur bersama para gadis?
Jawabannya: ia adalah salah satu roh jahat milikku yang lain, yakni hantu bernama Kitsune-sama.
Sesuai namanya, Kitsune-sama merupakan entitas roh jahat tipe Obake, yang memiliki kemampuan berubah wujud, mengelabui musuh layaknya seekor bunglon hanya dengan memanfaatkan satu helai rambut atau bagian tubuh orang yang ingin ditiru.
Dalam kasus ini, sehari sebelum aksiku dimulai, aku telah mengorbankan sehelai rambutku agar ia dapat mengambil bentuk rupaku ketika aku bersembunyi, sementara ia akan memainkan peran ‘umpan’ yang bertugas memancing para hantu keluar dari persembunyian.
Tentu saja entitas sepertinya tidak akan binasa hanya karena sabetan tali ari-ari berdarah yang tajam dan fleksibel itu.
Kitsune-sama tergolong dalam jajaran hantu tingkat S. Berkat usianya yang teramat tua dan purba, ia menguasai berbagai macam kekuatan magis yang jauh melampaui hantu-hantu biasa, membuatnya hampir mustahil untuk ditundukkan apalagi hanya dengan menembus tubuhnya belaka.
Roh jahat yang berada di bawah kendaliku itu kini mulai menanggalkan samarannya. Ia menampilkan wujud asli yang berupa wanita jelita berambut putih panjang dengan ekor berbulu lebat, mengenakan kimono Furisode salju yang dipadu rok Hakama merah menyala.
Wanita cantik tersebut melayangkan seringai manis penuh provokasi kepada roh janin yang baru saja menyerangnya.
Di tengah kedalaman air yang kian menghimpit dan tekanan menyiksa, wanita yang mengenakan seragam kuno dan antik hanya menatap santai hantu tipe Inugami seraya mengepak-ngepakkan sepasang kakinya yang jenjang.
Sebenarnya, ia bisa saja mengalahkan lawannya kali ini dalam sekejap. Namun, gara-gara Kitsune-sama yang kumiliki bertipe siluman rubah dari spesies Yako, ia malah sengaja menahan kekuatannya, ingin bermain-main terlebih dahulu sebelum membasmi target yang telah kupilih.
Ketiga gadis yang tengah menahan napas di dalam air terperanjat saat mendapati sosok yang mereka kira diriku ternyata merupakan siluman rubah berekor indah yang sedang menyamar. Mereka berusaha berteriak dan menunjuk dengan jari, tetapi suaranya tertahan oleh massa air yang berat.
Pada akhirnya, empat entitas yang tenggelam itu tersedot kian dalam ke pekatnya dasar sumur.
Diiringi kecipak air yang berdengung tenang namun ganjil, mereka merasakan ruang di sekitar berputar tak terkendali layaknya pusaran arus laut lepas. Rasa pusing yang luar biasa menghantam kesadaran, sementara arus air tanpa ampun terus mendorong mereka melintasi celah tersembunyi di balik dinding sumur.
Lalu, segalanya mendadak gelap.
Empat pendatang baru itu pun resmi menginjakkan kaki di tempat yang selama ini menjadi mitos.
Yaitu [Meido], atau, yang biasa disebut sebagai—
—Alam Kematian.
***
Sementara itu, di luar sumur, aku dan Tsukiyo-sama bahu-membahu menghabisi sisa hantu kroco yang berkeliaran.
Mengandalkan origami pedang bermantra serta proteksi dari kekuatan leluhur klan Kurokami, para penunggu Sumur Toriimoto dibuat tak berkutik hingga terpaksa dikirim kembali ke alam baka.
Masalah utama yang tersisa sekarang hanyalah hantu bersayap yang bertengger angkuh di bibir sumur, menutup akses kami untuk menyusul para gadis.
Aku dan roh jahat terkuatku sudah melancarkan berbagai variasi serangan. Namun, segesit apa pun pergerakan kami, sayap hitam milik makhluk itu selalu bereaksi secara presisi—menembakkan ribuan bulu hitam setajam jarum yang memaksa kami berulang kali mundur, mengambil posisi bertahan seperti semula.
Meski pada dasarnya gadis kimono hitam di sebelahku merupakan roh yang telah mati berabad-abad yang lalu, Kurokami Tsukiyo tetap bisa merasakan sakit dan mengalami luka fisik sehingga ia tak bisa menyerang gila-gilaan begitu saja tanpa perhitungan.
Hantu berwujud gadis cilik itu berpaling menatapku dengan pipi mengembang kesal. Mulutnya terbuka lebar.
"Woi, Haruto-kun!" seru Tsukiyo-sama, seraya mengerutkan dahi. "Pikirkan cara untuk menjatuhkannya secepatnya, dasar cucu dari cucu-cucuku yang bodoh!"
Sebuah senyum kecut terulas di wajahku yang masam.
"Astaga...” Aku pura-pura kecewa. “… Apakah Anda tidak tahu kalau ilham selalu muncul di detik-detik terakhir yang mendesak, Nona Leluhur? Sebagai nenek dari nenek-nenek Kurokami yang selalu dihormati, kesabaran Anda ternyata hanya setipis kertas HVS."
"A—APA KATAMU?!"