Oh, Anakku ... BEGO!!!

DMRamdhan
Chapter #1

Kuberi Nama Dia, Valian!

Ketika melihatnya pertama kali, aku tidak bisa berpikir apa-apa. Nyaris kebas. Aku terpana menatapnya, seperti tidak peduli dengan darah yang berceceran mengiringi keberadaannya, bahkan kala keterhubungannya dengan sang ibu diputus paksa, aku bergeming seperti terhipnotis oleh nyaring tangisnya. Ya, aku masih bisa membayangkan tiap momennya. Seperti rangkaian citra yang serasa tak tersentuh namun nyata dan dekat.

Subhanallah … subhanallah …,” ucap Fitri berulang-ulang sampai dia terima jiwa baru itu dari tangan asisten bidan. Dia menerimanya, merengkuhnya, memasang senyum yang terapit aliran air mata lega. Lalu dia beralih kepadaku, menatapku dengan sorot mata syahdu.

“Anakmu, Ken,” ucapnya lirih, menahan haru.

Aku mendekat.

Dengan bantuan asisten bidan, bayi laki-laki itu beralih ke tanganku.

Aku belum pernah memegang bayi sebelumnya. Tidak tahu cara menggendong yang benar dan tidak tahu bagaimana menghadapi makhluk kecil nan rapuh itu. Tapi … seperti ada semacam sistem dormant yang tersembunyi dalam diriku dan terbangun oleh tangis nyaring jabang bayiku, aku terima dia seolah itu adalah tindakan alamiah, seolah aku telah berpengalaman, seolah evolusiku menjadi seorang ayah telah tercetak jelas di atas blueprint semesta dan tereksekusi tanpa ada keraguan.

Aku menggendongnya, menimangnya dan menatap raungan jiwa baru itu sambil tersenyum. Kemudian aku beralih ke istriku. Saat itu Ibu Bidan sedang menjahit bagian yang diterabas putraku ini dan meski masih memasang senyum, sesekali ada ringis sakit. Ringis sakit yang segera terabaikan karena matanya seperti menaruh bahagia pada sosok berangasan udik yang dari sudut pandang lain seperti tidak setara dan tidak pantas menyentuh buah cinta ini.

“Jangan ditahan-tahan, Ken. Kalau mau nangis, nangis aja,” ujar Fitri, masih lirih, masih lemah.

Cih, kamu ini!” dengkusku sambil mengalihkan bayiku dan menggendongnya dengan sebelah tangan seolah itu juga tindakan alamiahku, sementara tangan yang lain meraih tangan Fitri dan menggamitnya.

Lalu aku dengar asisten bidan memanggil. “Bawa sini bayinya, Pak Ken, biar ditimbang dulu.”

Aku lepas tangan Fitri dan membawa jabang bayi itu. Di sudut ruang bersalin terdapat meja dengan timbangan berbentuk seperti tempat tidur bayi ukuran kecil. Aku serahkan putraku ke asisten bidan dan membiarkannya mengukur berat dan panjangnya.

“Sudah ada namanya, Pak Ken?”

Umm, itu, Valian. Namanya Valian,” jawabku sedikit grogi.

“Wah, nama yang bagus!”

“I-iya.”

Ya, aku memberinya nama Valian. Valian Pranoto karena namaku Ken Pranoto. Aku memberinya nama itu merujuk ke kata valiant dalam bahasa Inggris yang berarti berani. Tentu dengan harapan anakku ini tumbuh menjadi anak pemberani. Namun aku pikir kata valiant itu sendiri memiliki nuansa yang lebih dari sekadar berani; ada unsur mulia atau berjiwa ksatria di dalamnya. Atau kutipan Mark Twain ini bisa menjadi gambaran harapanku itu.

“Keberanian adalah resistansi terhadap rasa takut—mastery of fear—bukan absennya rasa takut.”

Ya, aku tidak mengharapkan Val tumbuh menjadi sosok yang tidak mengenal rasa takut. Justru itu akan menumpulkan jatidirinya sebagai manusia yang utuh, atau dengan kata lain, menyesatkan dirinya dari sifat pemberani yang sesungguhnya.

Coba amati pengalamanku bersama Val berikut ini; Val yang telah tumbuh menjadi bocah cilik.

Usianya enam tahun kalau tidak salah ingat. Dia pernah meminta dibelikan kaus bergambar tokoh kartun Jepang, Demen Rider. Secara spesifik dia meminta gambar yang si tokoh sedang menaiki sepeda motor bertajuk Jangkrik Tempur yang sedang melompat dengan latar ledakan api. Demi memenuhi keinginannya, aku bawa putraku ke sebuah mal di pusat kota, biar dia memilih sendiri. Dia senang bukan kepalang.

Sampai di mal, aku menuntun tangan putraku saat menaiki tangga di halaman depan gedung bertingkat lima itu. Di ujung atas tangga, kami berpapasan dengan sekumpulan anak punk  yang tengah duduk-duduk. Dengan menyebut kata punk, coba bayangkan anak-anak muda berpakaian corak gelap, lusuh dengan asesoris rantai dan kancing-kancing duri mengkilap di sana-sini, dan tentu saja sepatu lars hitam yang sepertinya apparel wajib anak punk. Namun yang paling mencolok dari mereka adalah bentuk dan warna rambut yang mirip gulali; pink, oranye, merah dan hijau dengan salah seorang dari mereka bergaya rambut Mohawk.

Lihat selengkapnya