Oh, Anakku ... BEGO!!!

DMRamdhan
Chapter #1

So I Dub Thee, Valian!

Bodoh! Idiot! Tolol! Bego!

Memang semua itu ekspresi yang terlalu eksesif bila aku terapkan kepada anakku sendiri—brutal, malah! Tapi mengingat karakterku yang tertempa tampang bengis layaknya Yakuza, orang-orang mungkin akan memaklumi kalau makian itu biasa keluar dari mulutku—mau ke anakku sendiri atau bukan. Namun bukan berarti apa yang aku utarakan itu adalah makian yang mengekspresikan amarah semata. Atau dalam argumenku, amarah hanyalah sebentuk lain kasih sayang bila diikat oleh saling pengertian. Atau dengan kata lain, makian itu hanya ekspresi pribadi yang kesulitan bertingkah lemah lembut, walau tidak terbersit sama sekali niat buruk. Hanya ekspresi batin yang kewalahan menghadapi situasi … dalam hal ini anak laki-lakiku sendiri.

Namanya Valian dengan Val sebagai panggilan kecil. Aku yang memberinya nama, merujuk ke kata valiant dalam bahasa Inggris yang berarti berani. Tentu dengan harapan anakku ini tumbuh menjadi anak pemberani. Namun aku pikir kata valiant itu sendiri memiliki nuansa yang lebih dari sekadar berani; ada unsur mulia atau berjiwa ksatria di dalamnya. Atau kutipan Mark Twain ini bisa menjadi gambaran harapanku itu.

“Keberanian adalah resistansi terhadap rasa takut—mastery of fear—bukan absennya rasa takut.”

Yah, aku tidak mengharapkan Val tumbuh menjadi sosok yang tidak mengenal rasa takut. Justru itu akan menumpulkan jatidirinya sebagai manusia yang utuh atau dengan kata lain, menyesatkan dirinya dari sifat pemberani yang sesungguhnya.

Coba amati pengalamanku bersama Val cilik berikut ini.

Semasa dia di kelas satu SD, dia pernah meminta dibelikan kaus bergambar tokoh kartun Jepang, Demen Rider. Secara spesifik dia meminta gambar yang si tokoh sedang menaiki sepeda motor bertajuk Jangkrik Tempur. Demi memenuhi keinginannya, aku bawa putraku ke sebuah mal di pusat kota, biar dia memilih sendiri. Dia senang bukan kepalang.

Sampai di mal, aku menuntun tangan putraku saat menaiki tangga di halaman depan gedung bertingkat lima itu. Di ujung atas tangga, kami berpapasan dengan sekumpulan anak punk  yang tengah duduk-duduk. Dengan menyebut kata punk, coba bayangkan anak-anak muda berpakaian corak gelap, lusuh dengan asesoris rantai dan kancing-kancing duri mengkilap di sana-sini, dan tentu saja sepatu lars hitam yang sepertinya apparel wajib anak punk. Namun yang paling mencolok dari mereka adalah bentuk dan warna rambut yang mirip gulali; pink, oranye, merah dan hijau dengan salah seorang dari mereka bergaya rambut Mohawk.

Kalau saja manis, aku jilat tuh rambut! celetuk batinku sambil tertawa dalam hati. Ya, dalam hati karena wajahku tetap dingin menatap ke dalam mal. Aku melihat mereka hanya sepintas, tapi sepertinya tidak dengan putraku.

“Apa liat-liat, bocah?!”

Salah seorang dari mereka menyalak.

Aku berhenti berjalan dan melirik anakku. Dia tersentak, kaget yang membuatnya berhenti melangkah. Tatapannya masih tertuju ke kumpulan anak punk itu. Otomatis aku melirik mereka sambil mengerenyitkan kening.

“Bego lo, Cok! Liat-liat dulu dia sama siapa!” desis seorang berambut pink sambil menepuk kepala si Mohawk hingga rambutnya melengkung ke depan, membuatnya tampak seperti jengger ayam jago kalah sabung.

Dalam waktu singkat anak-anak punk itu bubar. Cukup jelas ketakutan melihat bapak bocah yang pelototi mereka ini.

“Kamu liatin mereka?”

Hehe, iya,” jawab Val, cengengesan.

“Kamu bodoh? Itu gak sopan.”

Lihat selengkapnya