Childhood is gone in the blink of an eye ….
Pernah dengar ungkapan seperti itu? Masa kanak-kanak hilang hanya dalam sekejap mata. Meski aku tahu itu hanya jebakan ilusi waktu yang bersifat emosional, aku tidak bisa menyangkalnya. Serasa kemarin aku mendekap bayi itu, dan kini … dia dikejar anjing.
Ya, Val pernah dikejar anjing. Waktu dia 9 tahun.
Waktu itu minggu sore, baru pulang cuci mobil setelah terpapar bau pasar induk saat belanja bahan jualan. Hampir sampai rumah, aku berada persis di pertigaan jalan saat melihat Val berlari dari jalan yang lebih kecil persis tepat ke arahku. Aku mungkin tidak akan melihatnya seandainya tidak ada polisi tidur yang menghambat lajuku. Saat melihatnya aku berhenti seketika. Untunglah di belakangku tidak ada kendaraan lain, malah sedang sepi.
Aku keluar dari kabin kemudi, memutar bagian depan mobil ke pintu geser mobil di sisi lainnya, persis menghadap mulut jalan yang Val lalui.
“A … Ayah!” Val memanggil, terengah-engah. Di belakangnya ada seekor anjing jantan yang tingginya setengah dari tinggi Val. Cukup besar, tapi tidak terlalu mengancam. Hanya anjing kampung.
Ketika Val mendekat, aku geser pintu samping GrandVan-ku, dan Val secepatnya melompat masuk. Simultan, aku tutup kembali pintu itu, menghalangi jalan anjing itu yang kemudian menggonggong berulang seolah protes buruannya tak lagi bisa ia kejar. Aku yang berdiri di samping anjing itu seolah diabaikan, tapi tidak lama. Saat anjing itu menyadari kehadiranku, dia sempat menggonggong ke arahku dan aku hanya menatapanya. Mendapati tatapanku, anjing itu seperti kebingungan, beralih ketakutan, kemudian memutar pantatnya dan melarikan diri.
Aku kembali ke kabin kemudi dan melanjutkan perjalanan pulang. Aku dengar napas lega Val di kabin belakang.
“Untung ada Ayah,” ucap Val di ujung napas leganya.
“Apa tadi sebelumnya anjing itu menggonggong?” tanyaki.
“Iya. Bikin takut teman, terus Val pancing buat menjauh,” jawab Val. Ada perasaan bangga dari nada suara bocah itu.
“Terus kamu dikejar?”
“Hehehe ….”
“Kamu tahu kalau anjing menggonggong gak bisa gigit?”
Dari kaca spion dalam aku bisa melihat Val mendadak termenung. Matanya berbinar seperti benar-benar memikirkan ucapan konyol bapaknya ini.
“Iya, juga, ya! Kalau sibuk ngegonggong, gak bisa gigit, ya, Yah?”
“Jadi abaikan saja. Bilang sama teman-teman kamu. Biarkan anjing menggonggong.”
“Kafilah berlalu, hehehe. Tapi Ayah tadi keren! Cuma pelototin doang, anjingnya langsung kabur!”
“Ah, jangan bego! Anjingnya aja tau diri, gak mau lawan orang dewasa.”
“Hehehe.”