Kepalan demi kepalan terayun ke depan, berulang-ulang, namun ketika momentumnya melambat, maka ….
PLAK!!!
Sebatang rotan mengenai lengannya.
“ULANGI!”
Si bocah meringis, namun dia telah bertekad. Dia tidak bisa menyerah, Dan tentu saja bocah itu adalah aku, bukan Valian! Aku mana tega pukuli anak sendiri!
Yang memukuliku itu juga bukan ayahku. Aku tidak pernah mengenal ayahku. Tidak juga ibuku—oh, soal ibuku mungkin agak samar. Sepertinya aku memiliki kenangan tanganku dituntunnya, menemui laki-laki yang jauh lebih tua darinya, lalu dia menyerahkan tanganku kepada laki-laki itu. Aku tahu nama laki-laki itu, Yogi Pranoto. Meski aku berbagi namanya, Pranoto, aku bukan anaknya, bukan juga cucunya. Pernah aku menanyakan soal perempuan yang membawaku itu kepadanya, tapi Pak Yogi selalu menjawab, lupa lagi namanya dan memastikan kepadaku kalau dia bukan ibuku. Ada bagian dari diriku yang tidak ingin mempercayai beliau, tapi beliau persembahan sebuah argumen yang sulit aku sanggah.
“Memangnya kalau kamu mau cari orang tuamu, kamu mau cari ke mana, Ken? Mau mulai dari mana? Bapak sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Tapi dengar ini, Bapak tahu kamu ingin mengetahuinya, dan ada harapan kamu akan menyayangi mereka—dan itu sudah seharusnya! Di sisi lain, kalau kedua orang tuamu peduli sama kamu, maka mereka akan mencari kamu. Jadi tunggu saja. Kamu sekarang fokus saja pada mengembangkan dirimu menjadi anak yang terbaik.”
Ya, aku tidak bisa menyanggah argumen yang kokoh seperti itu.
Maka untuk menjadi anak yang terbaik itu, aku dilatihnya ilmu bela diri.
Awalnya aku tidak tahu ilmu bela diri apa yang diajarkan beliau. Ada struktur baku, tapi beliau tidak pernah memberi istilah pada setiap gerakannya, tidak pula memberiku tingkatan-tingkatan yang mesti aku capai, hanya latihan dan latihan, gemblengan demi gemblengan—tegas tanpa ampun. Hanya saja, ketika aku disekolahkannya ke Sekolah Dasar Negeri terdekat dan aku sampai ke kelas 3—kelas dimana murid diizinkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, aku tertarik dengan Pencak Silat. Aku meminta izin Pak Yogi untuk mengikuti Pencak Silat dan beliau sangat mendukung.
“Nah, bagus, Ken! Bagus punya inisiatif seperti itu!” serunya sambil menepuk-nepuk pundakku.
Aku sungguh senang mendengar tanggapan beliau. Hanya saja, usai hari pertama latihan Pencak Silat, aku sedikit kecewa karena apa yang diajarkan Guru Silat di sekolah berbeda jauh dengan apa yang diajarkan Pak Yogi.
“Tentu saja berbeda. Yang Bapak ajarkan itu Karate! Bukan Pencak Silat!” seru Pak Yogi saat aku utarakan kekecewaanku. Beliau berseru diikuti tawa yang pecah dan bergetar.
“Jangan kecewa, Ken. Karate yang Bapak ajarkan bukan buat pertandingan apalagi buat ekstrakurikuler! Bukan buat orang-orang biasa! Kamu ikuti saja Pencak Silat itu! Mata batinmu akan lebih terasah dengan Pencak Silat. Kamu perlu itu!”
Aku tidak tahu apa yang dikatakannya itu benar atau hanya menghiburku saja. Tapi aku tetap mengikuti Pencak Silat meski sayangnya aku tidak pernah berprestasi karenanya. Kata guru silat-ku, gerakku terlalu kaku untuk kategori ngibing. Sementara untuk tanding, kemampuanku tidak bisa diukur karena tidak ada yang berani sparing denganku—sekalinya ada yang berani, performa mereka seperti tidak optimal karena terintimidasi olehku. Apa aku seseram itu sewaktu SD?
Lepas SD aku tidak lagi mengikuti Pencak Silat. Tidak ada Kegiatan Ekstrakurikuler Pencak Silat di SMP-ku. Beralih ke ilmu bela diri lain pun aku sedikit sungkan karena … jika tidak bisa berkembang karena tidak ada yang mau menjadi lawan sparing-ku, lalu bagaimana aku bisa mencetak prestasi?
“Bagaimana dengan Paskibra?” usul Pak Yogi.
Mengingat Pak Yogi adalah pensiunan tentara, segera aku menganggap ide beliau adalah ide yang jitu. Namun, aku tertolak. Katanya tinggiku tidak setara dengan yang lainnya. Terlalu tinggi, katanya. Entah kenapa alasan itu seperti mengada-ada, tapi aku terima saja. Pak Yogi sempat ingin protes dan hendak bicara dengan pihak sekolah soal penolakan keanggotaanku di Paskibra, tapi aku cegah.
“Mungkin sekarang saatnya saya cari kegiatan yang lebih akademik, Pak. Ada Kegiatan Karya Ilmiah Remaja, atau jug mungkin saya bisa masuk Kegiatan Tata Boga,” dalihku, meski sebenarnya niatku tidaklah seperti itu. Aku tidak tahu hendak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apa. Tidak ada yang menarik perhatianku, sampai suatu hari Pak Yogi digigit ular.
Untuk menempatkan peristiwa Pak Yogi digigit ular itu pada konteksnya, perlu aku ceritakan kalau rumah Pak Yogi berdiri di lahan seluas 900 m2 dengan lebih dari setengahnya berupa lahan kosong. Pak Yogi manfaatkan lahan kosong itu untuk berkebun, khusus tanaman sayuran—untuk keperluan sehari-hari dan selebihnya biasanya diberikan ke tetangga. Aku jarang membantunya di kebun, hanya sesekali. Aku lebih sering mengerjakan pekerjaan rumah—bersih-bersih dan sesekali memasak. Oleh karena itu, ketika aku mendengar jerit kesakitan beliau, aku langsung keluar rumah dan menghampiri.
Saat aku keluar dari pintu belakang rumah, aku segera melihat Pak Yogi yang terduduk di tanah, tengah melempar ular hijau jauh-jauh. Sempat aku bergidik, tapi segera sadar dan aku menghampiri Pak Yogi.
“Ambil tali, Ken! Buat ikat kaki Bapak!” perintah Pak Yogi sambil memegangi betis kanannya. Tapi aku tidak menurutinya. Alih-alih mencari tali, aku lepas ikat pinggang standar seragam SMP, dan mengikatkannya ke bagian atas betis beliau, mendekati lutut. Bisa aku lihat ada luka bekas gigitan ular di sisi luar betis itu. Setelah aku ikat betis beliau supaya bisa ular tidak menyebar, aku pijit-pijit betis beliau supaya darah yang terkontaminasi bisa ular itu keluar. Sempat terpikir untuk mengisap luka itu, tapi ketika aku hendak melakukannya, kepalaku ditepuk Pak Yogi cukup kuat.
“Apa-apaan kamu! Mending panggil dokter sana!” sentak Pak Yogi.
Tergugup, aku beranjak dan berlari ke pagar depan.
“Minta tolong ke Pak RT!” seru Pak Yogi, mengkoreksi perintahnya.
Aku berpaling sesaat untuk mengangguk sebelum melesat ke rumah sebelah. Rumah Pak RT.
“Ada apa, Ken?”