Oh, Anakku ... BEGO!!!

DMRamdhan
Chapter #5

Efek Seram

Aku masih bisa membayangkan diriku dulu bermain bola bekel dengan Fitri, bahkan aku bisa mengkhayalkan sudut pandang lain yang melihat aku dan Fitri bermain di teras rumahnya, bagaimana interaksi kami, juga bagaimana Fitri ngotot aku curang. Akan tetapi, aku tidak bisa mengkhayalkan sedikit pun Val main permainan yang sama. Selain beda zaman dan beda aspirasi, Val punya terlalu banyak teman untuk membatasi rentang jenis permainan mereka, dan yakinlah bola bekel ada diluar radar minatnya. Lepas dari itu, aku bersyukur dia tidak mewarisi tampang seram ayahnya. Aku pikir tampang jadi faktor penting juga dalam pergaulan Val.

Ada kalanya aku sendiri heran, apa yang seram dari diriku? Setiap bercermin aku tidak bisa menemukan unsur itu. Memang ada semacam bekas koreng di leherku, sebesar kepalan tangan, letak tepatnya di pangkal bawah leher sebelah kanan. Bekas koreng itu membentuk mirip kepala naga yang menggigit leherku, tapi itu juga kalau diperhatikan dengan seksama. Lagipula, itu hanya aksesoris yang menambah keseramanku, sementara sumber seramnya sendiri, aku tidak tahu. Kalau menurut Fitri, auraku yang sebenarnya berkesan seram.

“Lalu kamu tidak merasa seram?” tanyaku. Waktu itu aku sedang berdiri di depan cermin dan Fitri berdiri di sampingku, sama-sama memperhatikan tampangku. Val belum ada dan masih jauh keberadaannya.

“Bagaimana aku bisa merasa seram? Aku kenal kamu sejak kecil! Tahu kamu itu pendiam, pemalu, penyendiri yang sukanya baca buku misteri. Tapi aku juga tahu kamu itu pintar dan gak mudah menyerah. Dan tahu kamu itu sebenarnya lembut dan baik hati. Aku sangat ingat pertama kali kamu traktir aku es krim. Kamu ingat?”

“Ya, aku ingat.”

“Tapi waktu itu aku belum punya rasa sama kamu, ya.”

“Apalagi aku.”

“Ah, masa?” Fitri cubit pipiku seolah aku mengatakan jawaban yang salah.

“Waktu itu aku masih bocah ingusan! Jadi kesimpulannya, aura seramku ini ada di kesan pertama, `kan?”

“Iya. Bisa disebut gitu.”

“Terus bagaimana aku bisa jualan, kalau kesan pertama udah ngusir calon pembeli?” keluhku, setengah memelas.

“Kalau di sekitar sini mungkin bisa kamu sendiri, tapi kalau di luar lingkungan sini, aku akan bantu. Aku bisa menetralkan aura seram kamu, aku kan orangnya manis.”

“Sangat! Sampai aku merasa tak pantas bersanding dengan kamu.”

“Kok kedengarannya kayak gombal yang suram.”

Aku mendengkus. “Kamu pikir aku sanggup ngegombal?”

“Enggak. Karena itu aku cinta kamu.” Fitri berjincit dan mengecup pipiku.

Dari percakapanku dengan Fitri itu tersirat ada satu contoh efek negatif tampang seramku, `kan? Ada tingkat kesulitan yang cukup tinggi bila aku ambil karir berdagang. Tampangku seperti jimat anti-hoki! Tapi kalau bicara efek, harus aku akui juga kalau tampang seramku ini ada kalanya bisa mendatangkan efek postif, tapi aku tidak bisa mengandalkannya karena efek positf itu selalu tidak terduga, nyaris random dan bersifat situasional.

Case in point, coba perhatikan kejadian berikut ini.

Bayangkan Val yang telah 14 tahun. Kelas 8 SMP.

Val remaja sedang menundukan kepala. Ada amarah dari setiap desah embusan napasnya. Aku duduk di sampingnya dan ini bukan di rumah. Kami berada di ruang Kepala Sekolah SMP-nya Val. Val kedapatan memukul seorang murid dan aku dipanggil.

Menurut Kepala Sekolah, seorang guru melihat Val memukul seorang murid. Sementara itu Val berdalih kalau murid yang dipukul itu telah memukuli temannya lebih dulu, bahkan merampas uang temannya itu. Tentu saja murid yang dituduh Val membela diri. Aku juga mendengar kesaksian guru yang melihat Val memukul dan menurut pendapatnya, apapun alasannya, pemukulan yang dilakukan Val tidak bisa dibenarkan.

Jujur, aku tidak tahu harus berbuat seperti apa dalam situasi seperti itu. Membela Val? Membiarkan Val menelan tuduhan itu? Aku memang pernah berkelahi, tapi ada pembenaran yang nyata di mana aku memang sedang membela diri, dan itupun hanya sekali. Selebihnya bisa dikatakan tidak pernah atau lebih tepatnya tidak pernah sampai ke taraf baku hantam. Yang paling mendekati ke taraf itu hanya menatap lawanku dan berkata, “Kamu yakin dengan ini?” dan dia pun mundur, menjauh. Kalau misalkan melumpuhkan anjing gila termasuk pengalaman berkelahi dan kamu setuju, sebaiknya kamu jangan pernah sekalipun berkelahi. Aku sendiri tidak bisa menganggap melumpuhkan anjing gila itu berkelahi. Berkelahi harus ada unsur kesetaraan. Kalau tidak setara, itu perundungan namanya. 

Setara, ya ….

Aku mendesah dan mendadak aku melihat reaksi tercekat Kepala Sekolah dan Pak Guru yang menyaksikan pemukulan Val itu. Eh? Apa mereka takut sama aku? Aku cuma mendesah loh?

“Maaf, Ibu Kepala Sekolah dan Pak Guru, jadi sekarang apa yang Valian mesti lakukan?” tanyaku, sesopan yang aku bisa, tapi tetap saja ketika aku tatap mata kedua orang itu, mereka segera berpaling ke satu sama lain, seolah saling melempar peran untuk menjawab pertanyaanku. Apa mereka menyesal sudah memanggilku?

“Kami hanya berharap Valian mau meminta maaf pada murid yang bersangkutan,” jawab Ibu Kepala Sekolah.

“Baiklah,” tanggapku, lalu berpaling ke Val dan menepuk pundaknya. “Val, sekarang kamu minta maaflah.”

“Tapi, Yah, Val gak salah!” protes Val.

“Ini bukan soal salah gak salah, Val,” potongku. “Minta maaf saja dulu. Percaya ke Ayah.”

Val menggigit bibir bawahnya sebelum terpaksa mengangguk.

“Baik, Val sepertinya siap, Bu,” ucapku kepada Ibu Kepala Sekolah. Lalu aku lihat Ibu Kepala Sekolah mengangguk kepada Pak Guru dan Pak Guru pun bangkit, menghampiri pintu dan membukanya.

“Niko! Sini masuk,” kata Pak Guru.

Kemudian masuk anak laki-laki bertubuh gempal yang sedikit lebih besar dari Val.

Aku berdiri, menarik bahu Val untuk ikut berdiri.

“Nah, Val, minta maaflah,” ucapku. Dan ketika mendengar perkataanku, wajah bocah bernama Niko itu seperti beralih rupa, yang tadinya ketakutan, kini menyeringai seolah puas.

Val membuang muka. Jelas kesal. Tapi dia masih menurut untuk berkata, “Maaf.”

“Maaf karena apa?” desakku.

Lihat selengkapnya