Oh, Anakku ... BEGO!!!

DMRamdhan
Chapter #4

Tak Pantas

Aku bersyukur.

Aku telah diberkati.

Aku dikaruniai keluarga yang mengagumkan, yang luar biasa, yang … yang kerap membuatku merasa tidak pantas. Relung-relung hitam dalam jati diriku masih bersemayam untuk tetap merantaiku pada dasar nista kalau aku tidak layak mendapatkan kebahagiaan. Mungkin kata-kataku itu berlebihan, tapi setidaknya mewakili perasaanku. Perasaan yang tertempa masa kecil yang sangat sadar akan posisiku di rumah Pak Yogi, juga di lingkungan sekitarku. Anak yang tak jelas asal usulnya, yang beruntung bisa berada di bawah lindungan seorang pensiunan tentara dihormati dan disegani.

Berbeda dengan Val, masa kecilku jauh berbeda. Aku jarang sekali main keluar rumah. Waktu luang terbanyak yang biasa aku nikmati semasa kecil adalah mengurung diri di ruang kerja Pak Yogi dan membaca koleksi bukunya. Tak jarang aku di sana sambil menemani Pak Yogi bekerja di meja kerjanya, sementara aku bersila di lantai, membaca sambil bersandar ke rak buku. Tapi tidak selalu seperti itu; aku juga ada kalanya main keluar rumah, tapi itu juga kalau disuruh Pak Yogi, sisanya tidak pernah.

Suatu hari aku pernah menemani Pak Yogi di ruang kerjanya, sambil membaca buku petualangan detektif Sherlock Holmes (ada 4 buku Sherlock Holmes di rak buku beliau dan aku lupa lagi saat itu buku yang mana dan entah yang keberapa kalinya) , dan aku melihat Pak Yogi tampak serius menulis sesuatu pada buku tebal. Usiaku 12 tahun kala itu.

“Sedang menulis apa, Pak?” tanyaku, penasaran.

Pak Yogi tersenyum sambil menatapku melewati kacamata bacanya. Ada binar semangat dari sorot matanya.

 “Cerita misteri, hehehe,” jawab beliau riang.

Aku mengerenyit heran, tapi aku tidak bertanya lagi. Ada kemungkinan beliau berdusta, karena aku tidak pernah membaca karyanya. Tapi jikapun saat itu aku bertanya, aku tidak akan mendapat jawaban karena mendadak telepon di samping Pak Yogi berdering. Beliau mengangkatnya dan kemudian beliau berbicara dengan bahasa asing, mungkin bahasa Inggris. Saat itu aku belum mengerti, dan aku ingin bisa, juga ingin bisa membacanya. Ada salah satu judul di rak buku Pak Yogi berjudul, Lord of The Ring, karya J. R. R. Tolkien yang dicetak dalam bahasa Inggris. Aku sangat ingin bisa membacanya. Aku pernah bertanya arti judul itu, dan beliau menjawab, “Penguasa Cincin.” Anak mana coba yang tidak tertarik dengan judul seperti itu? Judul yang sepertinya akan membawa keajaiban. Tapi aku mesti menunggu sampai SMP untuk bisa belajar bahasa Inggris. Kurikulum waktu itu belum mengizinkan anak SD belajar bahasa Inggris, berbeda dengan Val. Ah, irinya ….

Aku lihat Pak Yogi menutup teleponnya dan kemudian beralih kepadaku.

“Ken, kamu main di luar sana, gih,” perintah beliau sambil merogoh laci samping mejanya mengambil selembar uang kertas yang diberikannya kepadaku. “ Buat jajan.”

Aku simpan kembali buku Sharelock Holmes ke raknya, menerima uang beliau, lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya. Entah apa yang akan beliau lakukan sementara aku main di luar. Aku juga tidak tahu apa yang akan aku lakukan di luar rumah. Sedikit ada perasaan terusir, tapi aku tidak bisa mengeluh—bisa dikatakan cukup senang juga mendapat sejumlah uang yang hendak aku belanjakan es krim ke toko Encik Oyan di ujung kanan jalan. Es krim adalah sebuah kemewahan yang sesekali masih bisa aku nikmati. Sayangnya, kemewahan es kirm itu perlu sedikit menunggu karena ketika melewati rumah Fitri, aku dipanggilnya.

“Ken! Main, yuk! Bosan, nih!”

Dari semua anak sebayaku di kawasan ini, cuma Fitri yang pernah mengajakku main. Aku tidak ingat kapan awal mulanya. Mungkin karena tetangga sebelah, aku tidak terlalu memikirkannya. Dia anak yang sedikit suka memaksa dan tidak suka kekalahan.

“Main apa?” tanyaku, masih berjalan menyusuri pagar rumahnya.

“Bekel! Kali ini aku pasti menang!” seru Fitri saat aku memasuki pintu pagar yang setengah terbuka. Saat itu Fitri masih belum berkerudung dan rambut panjangnya dikepang tunggal. Penampilannya agak kekanak-kanakan seingatku, celana selutut dan kaus hijau bergambar jerapah.

Aku terima tantangannya. Memang aku cukup sering main bola bekel dengannya, entah sejak kapan, aku lupa lagi. Bisa dikatakan aku selalu menang mengingat tanganku yang tertempa pukulan rotan Pak Yogi bisa lebih cepat dari pada laju jatuhnya bola bekel. Sesekali aku menyengaja kalah karena ada kalanya Fitri yang marah bisa merepotkan. 

Ehm, kamu tahu permainan bola bekel, `kan?

Permainan tradisional dengan menggunakan sebuah bola karet dan sepuluh biji bekel dari kerang kecil yang kami biasa menyebutnya kuwuk. Diawali dengan menggenggam semua kuwuk di sebelah tangan, lalu melempar bola karetnya ke atas. Ketika bola karet memantul ke lantai maka sebarkan kuwuk ke lantai lalu tangkap bolanya sebelum jatuh. Langkah selanjutnya, lemparkan lagi bola, biarkan memantul sekali ke lantai lalu ambil kuwuk—awalnya satu persatu setiap lemparan bola, setelah berhasil habis, sebarkan lagi ke lantai lalu babak berikutnya ambil dua biji secara simultan, juga sampai habis, kemudian tiga-tiga, empat-empat sampai bisa mengambil kesepuluhnya sekaligus dalam satu lemparan. Ada syarat di mana saat mengambil kuwuk, jangan sampai menyenggol kuwuk lainnya. Permainan yang membutuhkan kecepatan tangan.

“Curaaang! Itu ada yang kesenggol!” tuduhFitri sambil menunjuk tanganku yang kini sudah mengambil lima kuwuk sekaligus.

“Curang dari mana?” ucapku, lebih terkesan heran daripada protes. Tanpa berdebat aku serahkan giliranku kepadanya. Memang dinamika yang biasa terjadi.

Ketika aku serahkan bola dan kuwuknya, Fitri menatapku. “Seharusnya kamu protes lagi. Siapa tahu aku yang salah lihat, `kan?” katanya.

“Gak apa-apa. Bisa menang meski dicurangi rasanya bakal lebih puas,” tanggapku.

Fitri seketika cemberut dan menyambar hidungku. “Belagu!” makinya sambil menarik hidungku.

“Au!”

Lalu Fitri mulai melempar bola, tapi urung menangkapi kuwuk karena ibunya melongok dari pintu depan dan memanggil Fitri.

“Fit, tolong belikan gula setengah ke Cik Oyan,” pinta ibunya.

“Ah, Ibu!” keluh Fitri.

“Eeh! Ayo cepetan! Ibu lagi tanggung masak!” desak ibunya.

Agak malas Fitri bangkit dan menghampiri ibunya.

Lihat selengkapnya