Oh, Anakku ... BEGO!!!

DMRamdhan
Chapter #6

Amarah dan Cinta

Horatius berkata, “Amarah adalah kegilaan yang singkat.”

Aku tidak menyangkalnya. Hanya saja bila dikorelasikan dengan idom, “Tergila-gila cinta”, maka cukup adil, bukan, kalau aku beranggapan amarah merupakan buah dari cinta? Meski sama gilanya, namun bila dibalut saling pengertian, amarah sejatinya adalah wujud cinta itu sendiri. Jelas aku mencintai anakku, karenanya aku memarahinya. Akan tetapi, aku juga tidak bisa menyangkal elaborasi Ali bin Abu Thalib kalau amarah adalah awal dari kegilaan yang berujung penyesalan.

“APA KAMU BEGO? GAK PAKE OTAK?”

Ketika aku mengeluarkan kata-kata itu, aku lihat mata Val terbelalak. Kaget bukan kepalang! Rasa takut seperti gelap yang menyergap cepat cahaya matanya, merebut paksa rasa lega setelah keluar dari satu masalah. Seolah harus menghadapi horror yang lebih besar, yang tidak pernah ia sangka. Dan … hatiku hancur melihatnya. Tapi ini perlu! Aku perlu memarahinya!

“Apa yang kamu pikirkan saat memutuskan memukulnya, Val? Kamu pikir urusan akan seketika selesai setelah kamu memukulnya?”

Wajah Val menekuk, air matanya berurai dengan cepat, bibirnya gemetar—oh, bukan, bukan bibirnya saja, bahunya juga, tangannya juga. Dia gemetar ketakutan.

Bertahanlah, Val. Ayah mohon, bertahan sebentar ….

“Ma … maaf ….” Suaranya seperti tercekik

Aku menarik napas panjang.

“Ayah tidak keberatan kamu memukul, tapi jika dan hanya jika memukul itu adalah salah satu dari rangkaian alat kamu untuk mencapai tujuan. Dan dari apa yang Ayah lihat tadi, kamu tidak punya rencana lanjutan setelah memukul Niko! Padahal kalau saja kamu minta maaf, lalu kamu mainkan peran kamu seperti yang Ayah mainkan, lalu kamu bisa bekerja sama dengan Raffa, kamu bisa membuat Niko mengaku dan bahkan jera!”

Val mulai terisak. Napasnya tersendat.

“Ma … maaf …, Yah ….”

Penyesalan menggembung dan menyesakkan. Hela napas panjangku tidak sanggup melepas raa lega, tapi setidaknya memberi Val sinyal kalau marahku telah reda.

“Dengar ini, Val. Pejuang sejati itu selalu memenangkan peperangan sebelum pertempuran terjadi! Itu artinya, pertempuran hanyalah tindakan akhir, hasil dari rangkaian siasat yang terjalin rapi sampai terjaminnya sebuah kemenangan. Kalau kamu tidak mengerti, contoh Raffa. Dia catat nomor seri uanganya sebagai siasat kalau Niko merampas lagi uangnya. Tapi sayangnya, Raffa gak punya keberanian seperti kamu, sementara kamu memang punya keberanian tapi kurang akal sehat. Kalian bisa saling belajar, sebenarnya. Saling menutupi kekurangan masing-masing.”

“Maaf …(hiks) , Yah …. Val … (hiks) mengerti,” ucap Val serak, di sela seguk tangisnya. Terdengar seperti memaksakan diri. Terdengar seperti mendera diri sendiri.

Maafkan Ayah juga, Val, bisik batinku sambil meraih kepalanya dan mengusap-usapnya dengan sebelah tangan.

Aku tunggu isak tangisnya mereda.

“Mau dengar sesuatu yang keren?” tanyaku. Saat itu isaknya sebenarnya masih ada, namun napasnya telah relatif teratur.

Val menatapku. Tatapan yang penasaran.

Know your enemies and know yourself then you shall never fear the result of hundred battles!

“Sun Tzu!” seru Val, mendadak antusias.

“Kamu tahu?”

“Val (hiks) pernah liat di game,” jawab Val.

“Kenali musuhmu dan kenali dirimu, maka engkau tidak akan pernah takut akan hasil ratusan pertempuran! Dari pertempuran kamu tadi, kita tahu kamu itu cukup berani untuk melawan orang yang lebih besar dari kamu, cukup setia kawan sampai kamu berani membela kawan kamu. Itu adalah kelebiham kamu, tapi apa kamu sudah tahu kekurangan kamu?”

Val menuduk, sorot matanya bergerak-gerak seolah memindai kenangannya, membaca dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya