Oh, Anakku ... BEGO!!!

DMRamdhan
Chapter #7

Sensasi Terancam

Aku ingat saat itu aku seusia Val, kelas 2 SMA—atau lebih tepatnya saat itu disebut SMU, Sekolah Menengah Umum.

Di tengah pelajaran, seorang guru menjemputku. Ada tamu, katanya. Beliau juga menyarankan aku membawa tasku. Saat keluar kelas dan mengikuti guru itu, benakku tak bisa berhenti bertanya-tanya.

Langkahku mengimbangi langkah guru itu yang memang relatif cepat. Kami susuri barisan kelas menuju ruang guru.

“Val! Ada apa?”

Tiba-tiba seseorang memanggilku dari samping dan aku lihat Fitri melongok dari jendela salah satu kelas.

“Entah! Ada yang jemput katanya!” jawabku sambil berpaling, sedikit memperlambat langkahku.

“Aku ikut!”

Apa yang Fitri katakan dan apa yang Fitri lakukan selanjutnya membuat kelasnya mendadak riuh.

“Cieeee!”

“Fitri agresif!”

“Yang langgeng Fit!”

“Apaan sih mereka!” gerutu Fitri setelah menyusulku.

Di depan ruang guru, kami melihat Kak Roy sedang berdiri menunggu. Ada guru lain yang menemaninya tapi mereka tampak diam saja. Wajah Kak Roy tampak masygul yang seketika mengirim sinyal tak baik ke benakku. Ada sesuatu yang buruk telah terjadi!

Ketika melihatku, Kak Roy langsung menghampiri.

“Ada apa, Kak?” tanyaku, bahkan sebelum dekat.

“Ayah—umm,  Pak Yogi meninggal dunia,” jawabnya.

“Eh?” Hanya itu yang keluar dari mulutku, tapi memang mendadak benakku terasa hampa. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Aku mulai bereaksi ketika bahuku diusap Fitri.

“Me-meninggal bagaimana?” tanyaku, merasa tak percaya. Ta-tapi tadi pagi beliau baik-baik saja! Malah sarapannya lahap, bahkan ….

Mendadak ada semacam imaji kenangan yang seketika berputar dalam benakku, menggambarkan Pak Yogi yang sedang sarapan di hadapanku, dengan lahap menyantap sepiring nasi yang diiringi telur mata sapi, tahu dan tempe, bersama oseng kangkung dan sambal terasi. Mengiringi lahapnya, beliau berceloteh, “Ken, kalo makanan di surga seperti ini, cukuplah buat Bapak!”

Aku tertegun. Kak Roy menjelaskan tapi … aku tidak bisa sepenuhnya menangkap kata-kata Kak Roy. Tidak bisa sepenuhnya bisa meregristasi ke dalam otak kalau Kak Roy yang menemukan PakYogi menelungkup di meja kerjanya, tadi pagi menjelang siang.

“Kamu pulang sama Kak Roy, Ken, aku akan menyusul pake bis,” ujar Fitri yang kemudian berpaling kepada salah satu guru yang bersama kami. “Boleh `kan, Pak?”

Guru itu mengizinkan Fitri dan aku pun digiring Kak Roy ke sepeda motornya, membawaku pulang dalam keadaan sedikit linglung.

Sensasi itu aku rasakan ketika melihat rumah Pak Yogi telah ramai oleh pelayat. Perasaan terancam yang menggelembung dalam dada.

Menyesakkan.

Ketika memasuki halaman, Pak Surya menemuiku. Sensasi yang aku rasakan seperti memupus daya tangkapku untuk mengerti apa yang Pak Surya ucapkan saat itu. Ada juga beberapa tetangga yang berbicara kepadaku dan aku memang menanggapinya, tapi … tidak tercetak dalam kenanganku. Tak teregristrasi otak. Hanya perkataan satu orang yang berhasil menembus kebas benakku dan saat itu ketika aku memasuki rumah.

Keempat kakaknya Kak Roy sudah ada di dalam rumah, mengerumuni jenazah Pak Yogi yang telah berbalut kain kafan. Salah satunya yang perempuan dengan cepat bangkit, menghampiriku dan menjambak kerah seragamku.

“KEMANA SAJA KAMU, BANGSAT?! KENAPA KAMU TINGGALKAN BAPAK SENDIRIAN?! SEHARUSNYA KAMU TAHU DIRI! GAK PERLU PAKE SEKOLAH SEGALA!”

Aku bergeming. Hanya berayun mengikuti guncangan tangannya menjambak kerah seragamku.

“Kak! Sudah!” pekik Kak Roy, berusaha melepaskan kakaknya dariku.

Tapi memang benar …. Aku seharusnya … tidak meninggalkan beliau sendirian ….

Lihat selengkapnya