Oh, Anakku ... BEGO!!!

DMRamdhan
Chapter #8

Paradoksial Perasaan Manusia

Perempuan itu menunduk terdiam, menungguku berbicara. Val yang duduk di sampingnya, tampak gelisah; ada rona amarah di kegelisahannya itu. Aku bisa mengerti. Setelah menyaksikan ungkapan ibunya yang teburu-buru memberi verdict tidak merestui hubungan mereka, aku bisa mengerti Val marah. Tapi justru karena dia marah, aku sedikit kecewa. Dia belum dewasa! Bagaimana bisa mulai menjalin hubungan dengan ….Oh, tunggu dulu! Apa itu yang sebenarnya Val inginkan? Dengan menjalin hubungan bersama Anita, Val ingin memancing kedewasaan dirinya? Ah, itu absurd!

“Maaf, Bu Anita—”

“Panggil saya Anita saja, Pak Ken,” potong perempuan itu.

“Baiklah, Nona Anita,” tanggapku, sengaja aku tekan suaraku pada kata “Nona”, untuk menyampaikan “keramahan” diriku yang belum siap secara kasual menyebut namanya. Dan apa yang aku lakukan ini mendapat dua reaksi. Satu, dari Anita sendiri yang dengan cepat menunduk—malu, gelisah, takut. Dan dua, dari Fitri yang mendengkus samar seolah suka dengan perlakuanku terhadap Anita. Dan keduanya bukan buah dari niatku yang sebenarnya. Val sendiri nyaris tidak berubah ekspresinya, seolah bisa menduga perlakuanku.

“Supaya kami tidak salah tangkap, maksud dari hubungan istimewa bersama Valian ini apakah bersifat romantis?” tanyaku.

Anita mengangkat wajahnya dan menatapku. “Benar, Pak Ken,” jawabnya, lugas tapi tidak bisa menyembunyikan sipu malu yang kentara. Wajahnya memerah, bibirnya gemetar dan sepertinya dia mengeluarkan segenap tenaga untuk balas menatapku.

Eh? Tunggu dulu? Apa perempuan ini belum pernah punya hubungan romantis sebelumnya? Belum pernah punya pacar?

Aku mendesah, lalu mentautkan jemariku dan menyimpannya di atas meja.

“Saya yakin Nona Anita punya alasan untuk menjalin hubungan dengan Val, tapi sepertinya saya tidak akan menanyakan alasan Nona. Saya hanya ingin mengajukan pertanyaan yang … lebih spesifik dari sudut pandang ayahnya Val—juga ibunya Val. Apa kalian sudah memikirkan ini matang-matang? Maaf, Val saat ini berusia tujuh belas tahun, sementara Nona Anita … dua puluh delapan, mungkin?”

“Dua puluh tujuh, Pak.”

“Nah, terpaut sepuluh tahun. Bayangkan ketika Val mencapai usia Nona sekarang, Nona akan memasuki usia yang cukup rawan bagi perempuan untuk hamil. Sementara kami, mengharapkan bisa menimang cucu yang sehat. Ini mungkin penjelasan yang egois dna terkesan mengada-ada, tapi bila sudut pandang diputar ke kalian, kalian juga bisa disebut egois dengan meminta restu kami. Jadi, apa solusi dari ini?”

Aku lihat Anita tercenung. Aku bisa melihat kecerdasannya sedang bekerja di balik sorot matanya. Sementara Val, tampak sedikit kebingungan—kewalahan malah.

“Bagaimana dengan kamu, Val? Sebagai laki-laki pada dasarnya harus mengambil keputusan pada kondisi yang tak wajar dan mesti bertanggung jawab terhadap keputusan itu,” desakku.

“Kondisi yang tak wajar?” tanya Anita.

“Dari sudut pandang umum—atau lebih sempit lagi, dari sudut pandang tetangga-tetangga kita, hubungan kalian bisa disebut tidak wajar, bukan?” jawabku.

Anita kembali tercenung, hanya sebentar sebelum dia berpaling ke Valian. “Bagaimana menurutmu, Val?”

Aku tatap Val dan berharap dia tidak akan mengatakan, “Persetan dengan tetangga!” Itu tidak hanya tidak dewasa, tapi juga akan menanam bibit di benak Anita kalau Val kelak bisa bermasalah. Ungkapan apatis semacam itu tidak menghapus masalah.

Val memejamkan matanya sejenak. tangan kirinya masih di atas meja dan kepalan tangannya mengendur. Aku masih bisa mengatakan dia sedang membulatkan tekad, tapi bentuk tekad yang berbeda. Ketika matanya terbuka, aku melihat sorot mata yang tenang, sorot mata yang mustahil mengatakan, “Persetan dengan tetangga!”

“Apa yang Val rasakan saat ini adalah, Val tidak bisa kehilangan Anita. Berkat Anita, Val bisa meminjam sudut pandangnya sebagai orang dewasa dan memperlihatkan bagian kekanak-kanakan Val sehingga Val bisa memperbaikinya. Seperti barusan tadi, Anita meminta pendapat Val dan, jujur, jika Val bicara seadanya, Val akan bilang, ‘Persetan sama tetangga!’ Tapi Val tahu Anita mengharapkan jawaban yang lebih umm … utuh …, bukan semburan emosi tanpa solusi nyata. Mirip Ayah, sih, tapi itu dilihat dari rasa hormat Val sama kalian sebagai orang dewasa. Tapi … ketika Val memikirkan kemungkinan Anita hilang dari hidup Val, Val seperti tidak rela. Mungkin … bagian ini, Val lebih mirip Ibu, ya? Tapi Ibu dan Val akan selalu terikat. Umm, abadi sebagai ibu dan anak. Sementara Anita …, Val tidak bisa tidak melihat Anita sebagai seorang perempuan …, karena itu … Val mencintainya.” Val menunduk, entah malu atau memang menghayati jawabannya.

Aaaaah, asesmenku sepertinya tepat sasaran …. Bahkan “Persetan dengan tetangga”-nya juga!  

Aku lirik Anita dan melihat sendu dari mata perempuan itu. Dia terharu dan mungkin itu yang membuat dia jatuh hati kepada Val. Kejujuran dan kepolosan Valian, juga daya juangnya untuk memperbaiki diri. Aku lihat sebelah tangan perempuan itu terangkat ke atas meja dan menimpa tangan Val. Dia menggamitnya.

“EHEM!”

Aku mendehem kencang dan seketika Anita terperanjat. Dia lepas tangannya dan membuang muka. Val juga membuang muka. Mereka berdua tampak malu bukan kepalang.

“Ma-maaf,” ucap Anita, belingsatan, tampak lugu seperti … yah, seperti gadis yang sedang jatuh cinta.

Samar aku dengar kekeh dari sampingku. Tanpa aku sangka, Fitri menutup mulutnya dengan sebelah tangan, mencegah tawa menyembur keluar. Sorot matanya telah berubah. Melembut.

“Jawaban yang cukup adil, Val,” tanggapku, mengabaikan kekeh Fitri untuk sementara. “Tapi perlu juga Ayah ungkapkan kalau … sebenarnya restu kami tidaklah relevan bila kalian ngotot menjalin hubungan.”

“Ken!” Fitri hendak protes, tapi aku angkat sebelah tangan kepadanya sebagai isyarat untuk percaya dengan pendekatanku.

“Tapi karena melihat kalian mendatangi kami dan meminta restu kami, maka kami hormati niat kalian. Namun saya harap Nona Anita bisa memenuhi satu syarat egois saya.”

“Apa itu, Pak Ken?” tanya Anita heran, sedikit ada aprehensif yang mengantisipasi permintaanku dari kerenyit keningnya.

“Pertemukan saya dengan ayah Nona—eh, apakah beliau masih ada? Maaf bila sudah tidak ada!”

Anita terkekeh mendapati aku salah tingkah di ujung permintaanku.

“Masih ada, Pak. Ibu saya yang sebenarnya telah meninggal.”

“Oh, maaf.”

“Tidak apa-apa. Baiklah, akan saya usahakan supaya bisa memperkenalkan Pak Ken dengan ayah saya.”

Lihat selengkapnya