Hari itu masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Seorang perempuan dan tiga laki-laki, berdiri mengelilingi sebuah makam. Mereka semua tersenyum seakan-akan waktu sudah membuat keempatnya berdamai. Berdamai dengan perasaan kehilangan.
“Pa. Kita semua dateng. Kayak biasa.”
“Kayak tahun-tahun sebelumnya.”
“Ngerayainnya masih bareng-bareng.”
“Papa pasti tau kalo kita selalu kangen, ‘kan?”
Adila menoleh ke tempat si bungsu. Adik terkecilnya sekarang sudah tumbuh tinggi—hampir menyusul tinggi Adila. Tangan Adila terangkat dan jatuh di puncak kepala Ryan. “Ryan udah nggak cengeng lagi, lho Pa.”