Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #2

BAB 1

“Pokoknya gue yang nganterin Ryan!”

“Ish. Apaan, sih? Muka lo masih muka bantal aja sok-sok-an mau nganterin Ryan. Si Ryan malah malu, nanti,” balas Adila sambil melihat Adnan yang tampak kesal.

“Ck. Gue tinggal cuci muka bentar—”

Ryan yang saat ini sudah berpenampilan seragam SMP rapi dengan berbagai atribut penunjang MOS hanya bisa geleng-geleng kepala. Ryan beralih melihat Gibran. “Kak Gibran aja yang nganterin aku, gimana?”

Adila dan Adnan sontak melihat Gibran. Sedari tadi laki-laki itu memang hanya diam sambil menonton perdebatan kedua saudaranya. Saat mendengar ucapan Ryan, Gibran lantas bicara. “Mau kakak aja yang nganterin?”

“Iiih, enggak-enggak. Ryan … kok malah minta dianterin Iban, sih? Kan yang dari tadi rebutan mau nganterin kamu itu, kakak sama Adan,” ucap Adila sambil memanyunkan bibir karena sedih.

Namun, Ryan malah tersenyum geli. “Abisan … kalo kalian ribut terus, nanti aku malah telat, terus dihukum, gimana??” balasnya, membuat Adila dan Adnan saling pandang.

“Oke. Pake cara terakhir aja,” kata Adnan sambil mengangkat tangan kanannya.

Adila mengerutkan kening. “Cara terakhir?”

“Kita hompimpa. Kak Iban juga ikutan, ayo,” ajak Adnan, sedangkan Gibran hanya bisa pasrah karena tidak mau perdebatan kedua saudaranya makin berlarut dan justru membuat adik bungsu mereka terlambat.

Suasana tampak ramai di depan gerbang SMA Bintang Gemilang. Kalian bisa melihat banyak murid yang datang—ada yang diantar orang tuanya, ada yang berjalan kaki bersama teman-temannya, ada yang menaiki sepeda.

Sekolah ini bukan sekolah elite seperti kebanyakan sekolah yang biasa ditemui di kota besar. Namun, sekolah ini memberikan warna yang terasa baru bagi Ryan. Ryan yang memang memilih untuk tidak melanjutkan sekolah di tempat ketiga kakaknya dulu.

Ryan turun dari motor, lalu melepaskan helm. “Makasih, ya Kak, udah nganterin aku.”

Gibran mengangguk sambil menerima helm yang diberikan Ryan. “Nanti pulangnya dijemput, ya—”

“E-eeh, nggak usah, Kak. Aku pulangnya sendiri aja,” potong Ryan.

“Kenapa? Emangnya kamu nggak ngerasa ribet sama bawaan kamu sekarang?” tanya Gibran sambil melihat adik bungsunya. Ryan mengenakan seragam SMP dengan atribut MOS seperti pita di lengan, papan bertuliskan biodatanya, lalu membawa plastik berisi kebutuhan lainnya.

Menurut Gibran, itu terlihat merepotkan.

“Nggak, Kak … kan nanti kalo udah jam pulang, boleh dilepas. Lagian yang bawaan aku ini ditaro semua di sekolah, kok,” jelas Ryan.

“Gitu?”

Lihat selengkapnya