“Woy, Nan! Gue hampir ngira lo bakalan telat, tau.”
Adnan tersenyum setelah membalas lambaian tangan temannya. Laki-laki itu menaruh tas dan langsung duduk di pinggir lapangan. “Ya nggak mungkinlah gue telat, apalagi ini hari pertama gue latihan sebagai anggota resmi, hehehe,” jawabnya, kemudian mengeluarkan sepatu futsalnya dari tas.
“Berarti lo udah nggak ada kelas lagi, Nan? Enak banget.”
“Iya. Beruntung banget karena hari ini emang cuma satu kelas doang,” balas Adnan yang masih sibuk memakai kaus kaki.
“Btw, Nan. Kalo nggak salah lo itu empat bersaudara, ya?”
“He-eh. Kenapa nanya-nanya?” Adnan mengangkat wajah sambil melihat temannya yang baru saja bertanya.
“Dan kalo nggak salah, kalian—”
Ucapan temannya lebih dulu dihentikan oleh senggolan di lengan dari seseorang. Dia bahkan memberi tatapan tajam agar temannya itu tidak melanjutkan pembicaraan. Namun, Adnan yang sudah bisa menebak arah pembicaraan mereka malah tertawa geli.
“Santai aja, Ren. Gak pa-pa, kok,” kata Adnan, “lagian itu juga fakta, ‘kan?”
Maren—seseorang yang tadi menyenggol lengan dan memberikan tatapan tajam itu, melihat Adnan masih tersenyum dan sudah melanjutkan kegiatannya mengikat tali sepatu.
“I-iya, tap ikan nggak ada hubungannya sama latihan kita hari ini.”
Adnan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian berdiri setelah selesai. “Oke. Ini kita disuruh pemanasan mandiri atau nunggu coach selese briefing sama senior??” tanyanya, “lagian kenapa kita nggak diajak briefing juga, ya? Kan kita anggota.”
“Ya kita kan anak baru, Adnaaan—jangan melampaui batas, deh.”
“Jangan sampe lo dikeluarin dari lapangan, padahal belom ngapa-ngapain.”
Adnan tertawa geli mendengarnya.
><><><
Di pusat kota, sebuah gedung tinggi berdiri kokoh. Tampilannya cerah dengan banyak kaca besar yang menghiasi. Di salah satu lantainya terdapat banyak meja, banyak komputer, banyak berkas. Mungkin lantai itu adalah lantai yang paling ramai—dalam konteks pekerjaan setiap harinya.
Suara papan keyboard, obrolan, saling bercanda untuk mencairkan suasana. Lantai itu bisa dibilang paling hidup setidaknya sampai jam kerja berakhir—kecuali mereka yang lembur di kantor, pasti akan tetap membuat lantai itu terasa ramai.
Gibran sudah menempati mejanya. Mejanya tidak terlalu ramai, tapi terasa pas untuk ukuran Gibran. Laptop, agenda kecil, tempat alat tulis, dan sticky notes berwarna biru muda. Sisanya masih ada di dalam tas Gibran, termasuk tumbler air minum. Dia memang biasanya mengeluarkan barang yang diperlukan saat bekerja saja.
Sisa-sisa lelah semalam masih terasa menempel di tubuhnya, tapi Gibran harus tetap profesional. “Kak, draft-nya udah gue selesein. Bisa dicek,” ucap laki-laki itu kepada seseorang yang baru saja berjalan melewati mejanya.
“Eh? Seriusan, Gib?”
Gibran hanya mengangguk, sedangkan senior itu memberikan acungan ibu jari untuk mengapresiasi pekerjaan Gibran walau dia belum benar-benar memeriksanya. Karena selama dua tahun terakhir ini, kontribusi Gibran di dalam tim sangat baik untuk ukuran pemula. Walau tidak banyak bicara, tapi Gibran bicara di dalam pikirannya dan tentu saja mengeksekusi hal itu dengan sangat baik.
“Gib. Ke pantry, yuk? Kerjaan lo udah kelar, ‘kan?” ajak salah satu rekannya.
“Duluan aja. Gue masih mau ngecek referensi lokasi yang dibahas pas meeting tadi pagi,” kata Gibran yang sudah kembali melihat laptopnya.