Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #5

BAB 4

“Aduh, Dan. Lo kenapa nggak ngabarin kalo hari ini lo tanding, sih? Gue kan nggak bisa nonton karena mau ngurus pesenan buket yang dikirim langsung,” keluh Adila.

“Ya kenapa? Gue juga nggak minta lo nonton, kok,” balas Adnan yang terlihat sudah siap dengan jersey futsalnya. Laki-laki itu sedang memasukkan sepatu dan perlengkapan lain ke dalam tas.

Ryan berjalan mendekati Adnan dengan perasaan tidak enak. “Kak, maaf … Ryan juga nggak bisa nonton. Hari ini mau ada kerja kelompok.”

Adnan malah tersenyum geli melihat wajah bersalah adik bungsunya. “Iya, gak pa-pa, kok. Kamu kerja kelompoknya dianterin siapa?”

“Sama gue. Sekalian jalan, soalnya,” jawab Adila.

Gibran di sisi lain hanya berdiri. Laki-laki itu juga sudah bersiap untuk pergi. Gibran sedikit merasa tidak enak karena sebenarnya hari ini harusnya dia free, tapi Gibran teringat kalau dia sudah telanjur mengiyakan permintaan Tomi untuk ikut ke panti asuhan.

“Sorry, Dan. Coba lo ngasih tau dari kemaren-kemaren. Mungkin gue nggak ngambil job tambahan hari ini,” kata Gibran, sedangkan lagi-lagi Adnan malah tersenyum geli.

“Astaga, kalian … gue beneran gak pa-pa. Gue sengaja nggak ngasih tau karena nggak mau kalian dateng juga,” jawab Adnan, membuat ketiga saudaranya bingung.

Adnan berdiri sambil menggendong tasnya. “Karena gue takut gugup kalo ditonton sama kalian—kalo tim gue kalah? Bisa-bisa gue langsung dikeluarin dari tim. Padahal ini kan pertandingan perdana gue,” balasnya.

Gibran mengembuskan napas pelan sambil melihat pemandangan di luar mini bus itu. walaupun adiknya sudah berkata kalau dia tidak apa-apa tidak ditonton, tapi Gibran tetap merasa tidak enak.

Ya … gue bantu doa aja. Gue harap Adnan dan timnya bisa menang hari ini, batinnya.

“Oy, Gib. Lo kenapa?”

Gibran menoleh ketika salah satu rekannya bertanya sambil menyenggol lengan laki-laki itu. “A-ah, gak pa-pa—kita udah mau sampe?” tanyanya.

“Bentar lagi, sih,” ucap Ica, “pokoknya lo di sana nggak boleh kayak biasanya, ya.”

“Maksudnya?” Gibran tampak tidak mengerti.

Ica berdecak pelan. “Kita mau ke panti asuhan, Gib … tempat banyak anak-anak. Kalo lo kayak biasanya—kaku, dingin, pendiem seakan-akan ada tembok yang menghalangi—nanti anak-anaknya malah takut,” kata Ica diakhiri tawa geli yang juga berhasil mengundang tawa dari rekan-rekannya yang lain.

Gibran mengembuskan napas pelan. “Gue bakal coba.”

“Tenang. Kita-kita juga bakal bantu, kok,” lanjut Kafi.

“Tugas kita hari ini bukan cuma liputan dan bikin anak-anak panti happy,” kata Tomi, “tapi bikin Gibran juga mencair dari sikap dinginnya walau Cuma sehari. Siap, semuanya??”

“SIAP!”

Gibran yang mendengar hal itu sempat terkejut, tapi akhirnya hanya bisa pasrah. Gue kenapa nggak ada kecurigaan bakal dijebak gini pas Tomi minta bantuan kemaren, ya? Gue terlalu polos atau gimana?

><><><

Pertandingan sudah memasuki lima menit terakhir babak kedua dengan keunggulan tim futsal kampus Adnan. Sekarang pun Adnan masih dipercaya pelatihnya untuk bermain. Laki-laki yang saat ini terlihat ramai—penampilannya.

Lihat selengkapnya