Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #6

BAB 5

Minggu berganti minggu. Ryan tidak bisa benar-benar menghindari Nakula di sekolah. Karena pria itu adalah guru olahraganya. Ryan sudah terhitung bertemu empat kali secara langsung saat jam pelajaran olahraga. Walaupun Ryan belum pernah benar-benar bicara di luar pembahasan tentang materi pelajaran.

Selama beberapa minggu itu, Ryan merasakan sesuatu memenuhi dirinya setiap kali melihat Nakula. Kerinduan dengan mendiang kedua orang tuanya. Bukan hanya Sadewa, tapi juga Kamelia. Ryan benar-benar merindukan mereka.

“Ryan kayaknya nanti bakalan bisa setinggi Adil, deh.”

“Kamu yakin banget, Ma? Gimana kalo Ryan bakal terus imut kayak gini?”

Ryan yang mendengar ucapan sang ayah langsung memanyunkan bibir. “Iiiih, aku mau tinggi juga, Pa … abisan kalo pendek terus kayak gini, Kak Adan jadi gampang ngejahilin aku,” ucapnya, lalu melihat Adnan yang malah menjulurkan lidahnya.

Sadewa berpindah duduk ke sebelah putra bungsunya. “Tapi kamu lebih gemesin pas pendek gini, Ryan … emang jadi gampang dijahilin, tapi … gampang dipeluk jugaaa.” Sadewa langsung memeluk tubuh kecil Ryan dari samping dengan perasaan gemas.

Senyum bahagia Kamelia langsung terukir saat melihat keduanya, apalagi ketika Ryan berusaha menjauhkan kedua tangan Sadewa karena mulai merasa sesak. “P-Pa ….”

“Aduh, Dew. Kamu jangan keterlaluan gitu, deh—i-itu Ryannya sesek!”

Harusnya kenangan itu bisa membuat Ryan tertawa karena merasa lucu. Namun, Ryan saat ini hanya bisa mengembuskan napas pelan sambil menyandarkan kedua tangannya di pembatas balkon di depan kelasnya.

Beberapa kali Ryan menarik dan mengembuskan napasnya pelan, lalu mengepalkan kedua tangan untuk menahan perasaan yang bergejolak di hatinya. Tenang, Ryan … tenang … ini di sekolah ….

Di sekolah. Padahal kenyataannya Ryan juga tidak bisa benar-benar mengungkapkan isi hatinya saat sudah di rumah. Ryan berpura-pura terlihat biasa karena tidak mau membuat ketiga kakaknya khawatir.

Namun, Ryan juga tidak tahu apakah ketiga kakaknya menyadari kalau beberapa hari ini Ryan memang lebih pendiam. Di rumah saat mereka sedang berkumpul, menghabiskan waktu bersama, Ryan hanya sesekali merespons, tapi tetap memperlihatkan senyum dan tawa untuk menanggapi obrolan dengan ketiga kakaknya.

“Yan. Main bola, yuk!”

“A-ah, maaf. Nggak dulu.”

“Ck. Elo suka banget sendiri, sih.”

“Udah biarin. Mungkin dia emang nggak mau main.”

“Tapi niat kita kan baik—biar lo nggak sendirian.”

Ryan hanya memberi senyum kecil. “I-iya, maaf. Gue lagi nggak pengen aja.”

“Ya udah, guys. Yuk!”

Ryan kembali mengembuskan napas pelan. Dia tahu maksud teman-temannya baik, tapi Ryan memang tidak memiliki keinginan untuk bermain, pergi ke kantin, atau melakukan kegiatan apapun dengan mereka. Walau kenyataannya hal itu sudah berlangsung selama berminggu-minggu.

Tiba-tiba Ryan memegangi kepalanya, merasa suara ramai di sekitarnya mengganggu. Akhirnya laki-laki itu memilih pergi dari sana, mencari tempat lain yang lebih sepi. Saat Ryan baru saja bergerak pergi dari koridor, seseorang sebenarnya sudah memerhatikan laki-laki itu sejak beberapa menit lalu.

“Dia mau ke mana?”

><><><

Ryan juga tidak tahu kenapa kakinya membawa laki-laki itu ke area belakang sekolah. Mungkin karena dia pikir di sana adalah tempat yang kemungkinan sepi. Namun, baru saja Ryan sampai di sana dan menoleh ke samping, dirinya justru dibuat terkejut.

Beberapa murid yang sepertinya kakak kelas Ryan sedang berkumpul di pojok gedung sambil merokok. Salah satu dari mereka langsung melihat keberadaan Ryan. Beberapa dari mereka berjalan menghampiri Ryan yang awalnya berniat untuk pergi.

“Eh-eh, mau ke mana, lo?” tanya salah seorang murid sambil memegangi tangan Ryan.

Lihat selengkapnya