Beberapa kali Adila menoleh ke tempat Ryan duduk saat mereka masih berada di jalan menuju ke rumah. Ryan belum bicara apa-apa lagi dan itu sangat membuat Adila khawatir. Karena tidak mau membiarkan suasana sunyi terlalu lama menyelimuti mereka, Adila bicara.
“Ryan mau makan apa? Biar kita mampir dulu.”
“A-atau es krim? Mau beli es krim?”
“Apa aja, deh. Ryan tinggal bilang—”
Adila bahkan berusaha terdengar normal agar Ryan tidak merasa makin tenggelam. Namun, Ryan sama sekali tidak menjawab. Ryan hanya menggeleng pelan. Melihat kondisi adiknya sekarang membuat dada Adila sakit.
Tiba-tiba Ryan menoleh, lalu bicara pelan. “Aku … mau ke tempat papa sama mama.”
Adila langsung terdiam saat mendengar permintaan adik bungsunya. Namun, setelah itu Adila juga mulai mengerti. Ryan kangen papa sama mama ….
Mobil yang dikendarai Adila akhirnya melaju menuju ke tempat yang ingin didatangi Ryan, makam Sadewa dan Kamelia. Saat sampai, keadaan sangat sepi sore itu. Adila membeli bunga tabur dan memasuki area pemakaman sambil menggandeng tangan Ryan.
Sesampainya mereka di depan makam Sadewa dan Kamelia, Ryan memilih berjongkok di samping makam Kamelia. Ryan mengusap nisan bertuliskan nama sang ibu dan akhirnya memperlihatkan sebuah senyum.
Adila sampai terkejut saat melihatnya. “Mama pasti seneng liat Ryan senyum gitu.”
Ryan tersenyum geli, lalu berbalik dan melihat makam ayah mereka. Namun, kakaknya justru dibuat bingung karena saat melihat nisan Sadewa, senyum Ryan sudah menghilang lagi. Adila terus memerhatikan sampai sesuatu yang dia lihat berhasil membuatnya terkejut.
Ryan menangis. “Pa … aku kangen ….”
Adila langsung mendekat dan ikut berjongkok. Tangan kanannya mengusap punggung sang adik dengan lembut. Tangis Ryan mulai tidak tertahankan. Beberapa kali dia mencoba menghapus air matanya, tapi tetap keluar lagi.
“Ryan kangen banget sama papa … papa yang dulu selalu berisik, selalu dukung Kak Adan kalo gangguin aku … yang selalu meluk aku kenceng—”
Adila mendengar semuanya dan masih bertahan di posisinya. Walau setiap cerita sang adik terasa menyakitkan, tapi Adila tidak memeluk Ryan. Perempuan itu hanya ingin memberi ruang agar Ryan bisa meluapkan semua perasaan yang selama ini dia tahan.
Maafin kakak karena nggak cepet sadar kalo kamu lagi kangen banget sama mereka, Yan …. Adila masih terus melihat Ryan yang belum lelah bercerita seakan-akan Sadewa benar-benar sedang mendengarkan.
Seperti yang selalu dia lakukan dulu.
><><><
Gibran sudah memakai baju rumahan karena habis mandi. Laki-laki itu langsung sibuk di dapur karena ingin membantu Adila menyiapkan makan malam. Adnan juga sudah pulang. Dia sedang mengerjakan tugas di ruang tengah.