“Hari ini Ryan nggak masuk karena sakit, Pak. Tadi dikasih tau sama wali kelas.”
Nakula tadinya sedang menyiapkan peralatan untuk materi olahraga hari ini, lalu dia baru menyadari kalau tidak melihat Ryan di antara murid-murid lainnya. Nakula pikir hari ini akan bertemu Ryan karena kebetulan jadwal Nakula mengajar di kelasnya.
“Oh … sakit apa?” tanya Nakula kepada ketua kelas yang tadi bicara.
“Kurang tau, Pak. Bu Tia nggak ngasih tau detailnya.”
“Mungkin kecapean, kali?”
“Iya. Gue perhatiin emang beberapa hari ini Ryan kayak lesu banget.”
“Nggak ada semangat-semangatnya gitu, ya?”
Bisik-bisik dari pada murid masih terdengar jelas oleh Nakula, tapi pria itu tidak terlalu memperlihatkannya dengan menyibukkan diri menyusun peralatan olahraga untuk pelajaran hari ini.
Ryan sakit …? Sebenernya dia kenapa, ya? Sebagai guru, gue juga emang merhatiin kalo kemaren dia lagi nggak baik banget, tapi katanya dia juga nggak mau terbuka soal apa yang lagi dia alamin, batin Nakula yang sekarang sedang duduk di kursinya di ruang guru.
Sekarang Nakula sedang tidak ada jam mengajar dan akhirnya memilih bersantai di sana. Namun, sedari tadi Nakula tidak bisa berhenti memikirkan salah satu anak muridnya yang hari ini tidak masuk.
Pandangan Nakula beralih ketika melihat Bu Tia memasuki ruang guru dan langsung menempati mejanya. Nakula lantas menggeser kursi putarnya untuk mendekat. “Siang, Bu.”
“Eh, Pak Nakula. Siang juga,” jawab Bu Tia sambil merapikan buku-bukunya.
“Tadi pagi saya ngajar di kelas ibu, terus ada murid yang nggak masuk—Ryan—katanya sakit, ya Bu?” tanya Nakula, membuat Bu Tia menoleh.
“Ryan? O-oh, iya. Tadi pagi kakaknya ngasih kabar kalo Ryan demam, jadi nggak masuk sekolah dulu,” jelas Bu Tia, “kata teman-temannya, Ryan memang belakangan ini terlihat tidak bersemangat. Entah kecapean atau apa, saya juga belum bisa memastikan.”
“Oh, begitu ….” Nakula menanggapinya dengan nada biasa selayaknya guru, tapi jauh di dalam hatinya, perasaan khawatir itu muncul.
“Bu Tia ada rencana jenguk dia? M-maksudnya, ya … kan biasanya kalo ada adak murid yang sakit, ada rencana juga buat jenguk,” kata Nakula sambil menggaruk tengkuknya.
“Saya juga berencana begitu, tapi kalo untuk hari ini saya tidak bisa. Karena beberapa guru termasuk saya harus menghadiri agenda setelah pulang—”
“Agenda itu? Kebetulan saya nggak ikut. Gimana kalo saya aja yang jenguk Ryan?”
Nakula tidak sadar kalau baru saja memotong ucapan Bu Tia dan terlihat bersemangat saat menawarkan diri. Bu Tia hanya sempat mengerutkan kening, tapi akhirnya justru merasa lega.
“Pak Nakula beneran mau? Nggak keberatan? Saya sebagai wali kelas Ryan sebenarnya merasa tidak enak karena tidak bisa menjenguk dia, tapi di satu sisi saya juga khawatir,” ucap Bu Tia.
“Iya, Bu. Saya beneran bisa dan nggak keberatan. Kebetulan juga nggak ada acara apa-apa lagi setelah pulang sekolah,” jawab Nakula, sedangkan Bu Tia terlihat memberi senyum.
“Terima kasih, ya Pak.”
><><><
Adila sedang menyelesaikan pesanan buket di ruang tengah ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana di rumah sangat sepi karena ketiga adiknya pasti sudah tidur.
Namun, Adila tiba-tiba dikejutkan ketika mendengar panggilan keras dari lantai atas. “KAK ADIL!” Itu suara salah satu dari dua adiknya—Gibran atau Adnan. Namun, jika sampai berseru seperti itu, Adila langsung menebak kalau Adnan yang memanggilnya.
Adila buru-buru berdiri dan bergegas naik ke lantai atas. Adila melihat Gibran yang juga keluar dari kamarnya dengan wajah mengantuk. Mereka beralih ketika menyadari kalau pintu kamar Ryan terbuka.