“Kak Adil ….”
Ryan terbangun dari tidurnya dan langsung diserang pusing. Saat Ryan menggerakkan tubuhnya dan berdiri, laki-laki itu baru sadar kalau kakaknya tidak ada di ruang tengah. Ryan berdiri sambil berpegangan dengan sofa.
“K-Kak ….” Suara Ryan serak.
Baru beberapa langkah, Ryan merasakan tubuhnya tidak lagi memiliki tenaga untuk sekadar berdiri. Kepalanya seakan-akan berputar bersamaan dengan pandangan Ryan yang mulai kabur. Ryan pingsan, tapi tangannya tidak sengaja menyenggol lampu di meja sebelah sofa sehingga menimbulkan suara yang cukup keras karena pecahannya.
Di luar, Adila tersentak saat mendengar suara dari dalam rumah. Gerbang rumah yang sudah terbuka juga membuat Nakula langsung mengikuti Adila ke dalam. Adila terkejut saat melihat Ryan terbaring miring di atas karpet.
“RYAN!”
Adila langsung berlutut di sebelah Ryan sambil memangku kepalanya. Tangisnya tidak bisa ditahan karena Ryan yang tampak sangat pucat. Nakula yang melihat itu semua juga tidak tinggal diam. Nakula mendekati Ryan dan menempelkan punggung tangannya di dahi laki-laki itu.
Panas banget, batin Nakula.
“Kita harus bawa dia ke rumah sakit,” kata Nakula sambil melihat Adila.
Adila mengangguk dan langsung menyingkir karena Nakula yang akan menggendong Ryan. Adila bergegas mengambil kunci mobil dan mengikuti langkah Nakula yang sudah lebih dulu ke luar.
Setelah Ryan dibaringkan di kursi belakang, Adila terlihat masih bingung. Nakula juga menyadari kalau Adila tidak dalam kondisi yang stabil untuk mengemudi. “Kalo kamu tidak keberatan, biar saya yang nyetir. Kamu temani Ryan di belakang,” kata Nakula meminta izin sambil mengulurkan tangannya.
Adila hanya tahu itu memang yang terbaik untuk saat ini. Tanpa pikir panjang lagi, dia memberikan kunci mobil itu kepada Nakula, kemudian masuk ke kursi belakang. Nakula juga langsung bergegas masuk ke kursi pengemudi setelah membuka gerbang rumah.
><><><
Ryan … kakak mohon … bertahan, Sayang.
Adila duduk di kursi panjang yang ada di luar koridor dekat ruang UGD. Kedua tangan bertumpu di atas paha sambil menutupi wajahnya. Perempuan itu benar-benar khawatir. Dia mengangkat wajahnya pelan, lalu menggenggam kedua tangannya erat. Sisa air mata terlihat jelas di wajahnya.
Adila tampak sangat takut, bingung, cemas, panik. Nakula bisa melihat itu.
Ya. Nakula masih ada di sana. Tentu saja dia masih ada di sana karena bagaimanapun Ryan adalah murid Nakula. Setidaknya Nakula harus tahu kondisi Ryan setelah dibawa ke rumah sakit walau jelas harapannya tentu yang terbaik untuk Ryan.
Saat Adila kembali melihat Nakula. Ada seseorang yang terasa menusuk di hati Nakula sampai-sampai pria itu sebisa mungkin menghindari pandangannya. Apa mungkin kehadiran gue di sini justru bikin kakaknya Ryan nggak nyaman? Gue pergi aja, kali ya? Nakula sampai membatin seperti itu.
“Maaf, Mba. Apa ada anggota keluarga lain yang bisa dihubungi? Mungkin saya nggak bisa nunggu sampe dokter keluar,” ucap Nakula sambil berdiri di depan tempat Adila duduk.
Adila sempat tidak fokus sebentar, kemudian langsung mengangguk. Saat Adila baru berniat menyalakan ponselnya, dia teringat sesuatu. “T-tapi … motor Bapak ada di ru—”