Ruang rawat Ryan makin terasa hangat karena hari sudah pagi. Sekarang ruangan itu kembali hanya diisi oleh Adila dan Ryan saja. Gibran dan Adnan sudah pergi pagi-pagi sekali. Walau Adnan sempat protes karena ingin tetap berada di sana.
“Kak … gue beneran bisa bolos. Cuma sehari juga nggak berasa apa—”
“Ssshh, nggak ada. Janji lo apa pas di makam papa? Katanya mau ngeringanin beban gue,” potong Adila sambil melihat Adnan dengan wajah serius.
“Y-ya bener juga, ‘kan? Gue di sini buat bantuin lo jagain Ryan.”
Adila menggeleng. “Gue bisa, Dan. Gue beneran bisa,” ucapnya, “lagian ini rumah sakit dan Ryan bakalan baik-baik aja.”
Gibran ikut bicara sambil menepuk pundak Adnan. “Makin lo cepet kuliah, makin lo bisa cepet pulang juga buat ketemu Ryan lagi,” kata laki-laki itu.
Pada akhirnya Adnan mengalah dan pergi bersama Gibran.
Sekarang Adila masih menempati kursi di sebelah ranjang sambil terus melihat Ryan. Tiba-tiba Adila dibuat terkejut karena Ryan mulai membuka matanya. Perempuan itu sampai bangkit dan sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat.
“K-Kak Adil …?”
Adila tersenyum penuh kelegaan. “Iya, Sayang. Ini kakak,” ucapnya.
Ryan langsung melihat ke sekitar dan menyadari kalau dia tidak sedang berada di kamarnya. “Maaf … Ryan bikin repot …,” kata laki-laki itu, tapi Adila langsung menggeleng dan meraih tangan Ryan untuk digenggam.
“Ssshh, aku nggak boleh ngomong gitu. Kan Ryan lagi sakit, jadi emang harus dirawat,” ucap Adila, kembali tersenyum untuk menenangkan sang adik.
Suasana kembali hening, tapi tidak lama. Adila harus menanyakan tentang Nakula. Dia yakin kalau Ryan pasti memang sengaja menyembunyikan fakta itu. Karena Ryan bukan baru kemarin menjadi murid di SMA Bintang Gemilang.
“Ryan,” panggil Adila, membuat Ryan melihatnya.
“Kenapa kamu nggak cerita?”
Ryan tampak bingung. Namun, belum sempat bicara apa-apa, kakaknya sudah lebih dulu melanjutkan. “Guru olahraga kamu. Pak Nakula,” kata Adila dan tentu saja membuat Ryan terkejut saat mendengarnya.
“K-kakak udah tau …?”
Adila mengangguk pelan. “Kemaren Pak Nakula dateng ke rumah buat jengukin kamu, tapi pas masih di depan, kamu tiba-tiba pingsan,” jelas kakaknya, “Pak Nakula juga yang bantu kakak buat bawa kamu ke rumah sakit.”
Ryan mendengarkan dengan kening sedikit berkerut karena raut wajah kakaknya tidak menunjukkan keterkejutan seperti saat Ryan pertama kali melihat Nakula. “K-Kak Adil … kok biasa aja? Kakak nggak kaget? Pak Nakula … mirip banget sama papa,” tanya Ryan.
“Kaget.”
Ryan sontak terdiam.
“Jelas kakak kaget, Yan. Pas kakak ke luar rumah buat bukain gerbang, kakak sampe nggak tau harus ngapain pas liat guru kamu itu,” ucap Adila sambil memijat pelipisnya.
Namun, setelah itu Adila kembali melihat adik bungsunya. “Tapi kenapa kamu nggak pernah cerita, Ryan? Kamu pasti udah tau soal ini dari lama, ‘kan? Dari pertama kamu masuk ke SMA itu. Iya?” tanyanya, benar-benar menuntut kejujuran sang adik.
Ryan akhirnya mengangguk pelan. Tangannya meraih tangan Adila sebelum kembali bicara. “Aku … sengaja nyembunyiin ini semua karena … karena aku nggak mau kakak-kakak sedih,” kata Ryan, “itu cuma mirip. Itu bukan Papa ….”
Adila menelan ludah sambil melihat mata Ryan yang tampak berkaca-kaca. Sakit sekali rasanya melihat Ryan harus menyimpan hal ini sendirian karena memikirkan ketiga kakaknya. Bahkan Ryan sampai drop karena terlalu merindukan kedua orang tuanya.
Hal itu mungkin juga dipicu dengan kehadiran Nakula yang benar-benar mirip dengan sang ayah. Ryan tidak mau ketiga kakaknya juga merasakan apa yang dia rasakan. Menyadari kemungkinan itu membuat Adila merasa tidak becus sebagai kakak.
><><><
Nakula baru sampai di sekolah dan langsung pergi ke ruang guru seperti biasa. Bu Tia melihat kedatangan Nakula. “Selamat pagi, Pak.”