Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #11

BAB 10

“Gue harus cepet sampe ke rumah sakit.”

Adnan terus mengucapkan hal itu ketika sedang mengendarai motornya di jalan. Dia baru menyelesaikan urusan kampus dan berniat memberi kejutan dengan tiba-tiba datang ke rumah sakit.

Senyum di wajah Adnan terukir di balik helmnya. Selama dua hari ini, Adila pasti sudah sangat terbebani karena harus merawat Ryan yang sakit, mengurusi pesanan buketnya. Adnan tahu kalau Adila tidak akan mengeluh karena itu semua dia lakukan sebagai bentuk kepedulian dan rasa sayang kepada ketiga adiknya.

Tapi kalo gue bisa ngurangin beban itu, kenapa enggak, ‘kan?

Adnan seketika membulatkan mata ketika melihat anak kecil yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan. Refleks laki-laki itu membelokkan motornya untuk menghindar, tapi hal itu justru membuat Adnan oleng dan jatuh bersama dengan motornya.

“Awh ….” Adnan terbaring di aspal dan refleks memegang tangan kanannya.

Insiden itu berhasil menarik perhatian beberapa pejalan kaki dan pengendara lainnya. Mereka membantu menepikan motor Adnan agar tidak menghalangi jalan dan dengan hati-hati membawa Adnan untuk duduk di trotoar.

Untungnya Adnan tidak mengalami luka serius. Hanya beberapa lecet di tangan, baju yang kotor, serta bagian bawah celana yang sedikit sobek. Sesekali Adnan masih merasa nyeri di tangannya.

Aduh, kasian banget.

Itu juga anaknya siapa, sih? Main lari-lari aja.

Ini harus dibawa ke rumah sakit, ‘kan?

Adnan sedang berusaha menenangkan diri sehingga tidak terlalu mendengarkan kata demi kata yang diucapkan orang-orang di sekitarnya. Namun, laki-laki itu dibuat terkejut saat melihat salah satu dari orang-orang yang mengelilinginya.

Beberapa saat lalu, seorang pria ikut menepikan motornya karena melihat kecelakaan di depan. Pria itu melepaskan helm dan sedikit mempercepat langkah menuju ke kerumunan orang tempat pengendara motor yang jatuh itu berada.

Nakula awalnya sedang mengendarai motornya dengan santai, tapi kejadian itu benar-benar membuatnya juga ikut terkejut. Saat sudah ikut bergabung di dalam kerumunan, pria itu melihat sosok laki-laki yang sekarang posisinya duduk di trotoar sambil memegangi tangan kanannya.

Saat laki-laki itu mengangkat wajahnya, dia melihat Nakula. Namun, laki-laki itu sama sekali tidak memalingkan wajah dan masih melihat Nakula. Karena Nakula pikir laki-laki itu syok karena baru saja mengalami kecelakaan, Nakula langsung menepuk pundaknya.

“Mas? Saya teleponin ambulans dulu—”

Namun, tangan Nakula langsung ditahan cepat. “J-jangan!”

“Eh?” Nakula tampak bingung.

Adnan menggeleng. “Saya gak pa-pa, kok. Saya cuma mau pulang.”

Adnan masih terus memegangi tangan Nakula sambil menundukkan kepala perlahan karena kembali merasakan nyeri di tangannya. Bayangan Adila di rumah sakit langsung muncul dan tentu saja Adnan tidak mau menambah beban sang kakak.

Ryan masih dirawat dan kalo gue ke rumah sakit dengan keadaan gini … Kak Adil pasti khawatir—gue cuma nambah beban pikiran dia, kata Adnan dalam hati.

Nakula memerhatikan raut wajah laki-laki yang masih memegang tangannya dan tanpa sadar mengeratkan pegangan itu seakan-akan menahan rasa sakit. “Ya udah. Biar saya anterin Masnya pulang,” ucap Nakula.

Adnan kembali melihat pria itu. “S-saya bisa sendiri—”

Aduh, jangan maksain diri, Mas.

Iya. Biar dianterin aja, tuh.

Terus motornya gimana, ini??

Nakula melihat motor Adnan dan juga motornya di belakang. Pria itu lantas mengambil dompet dari sakunya, mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada seorang penjual yang kebetulan memiliki warung di sebelah lokasi kejadian.

Lihat selengkapnya