Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #12

BAB 11

Hari-hari setelahnya berlangsung biasa. Hari ini Ryan akan kembali ke sekolah. Kondisi Ryan memang sudah membaik dan bahkan sudah terlihat lebih ceria. Walau belum benar-benar ceria seperti biasanya, tapi itu sudah cukup membuat ketiga kakaknya merasa lega.

Namun, sepertinya hanya Gibran yang benar-benar merasa semuanya berjalan seperti biasa. Karena bagi Adila dan Adnan, mereka masih memiliki satu beban pikiran. Nakula. Sejauh ini Adila berpikir kalau sosok Nakula hanya baru diketahui oleh dirinya dan Ryan, sedangkan bagi Adnan, dia berpikir kalau Ryan menyembunyikan tentang Nakula dari ketiga kakaknya.

“Hari ini gue yang nganterin Ryan ke sekolah.”

Adila sedang menuangkan susu cokelat ke gelas Ryan saat mendengar Adnan bicara. Di meja makan, hanya ada Ryan dan Adnan. Gibran memang berangkat lebih awal karena ada agenda di kantor.

“Naik motor? Nggak-nggak. Ryan baru sembuh, malah dikasih kena angin,” ucap Adila, “lagian gue juga lagi nggak ada pesenan. Gue bisa nganterin Ryan.”

“Ya elah, Kak. Kan sekalian jalan. Nanti Ryan pake jaket double kalo perlu.”

Ryan melihat Adila dan Adnan secara bergantian. “Kak Adil … aku gak pa-pa kalo ke sekolah naik motor, kok. Biar cepet juga,” ucapnya, “ini kan hari pertama aku masuk sekolah lagi. Nggak boleh sampe telat.”

Adila beralih melihat jam dinding. “Ya, tapi ….”

“Udah, Kak. Lo pokoknya tenang aja. Walaupun naik motor, gue nggak bakal ngebut, apalagi kalo lagi boncengin Ryan,” kata Adnan, kemudian menghabiskan susu cokelatnya dan berdiri.

Ryan juga ikut berdiri karena sudah menghabiskan sarapannya. Laki-laki itu berjalan ke tempat Adila untuk memberi pelukan. “Makasih, ya Kak. Kakak udah ngerawat Ryan pas sakit kemaren,” kata Ryan penuh rasa sayang.

Adila tersenyum sambil mengusap rambut Ryan. “Iya, Sayang. Di sekolah yang baik, ya. Kalo badannya ngerasa nggak enak atau apa, pokoknya langsung ngabarin,” ucap perempuan itu sambil memegang wajah Ryan dan melihatnya dari jarak dekat.

Ryan mengangguk pelan diikuti senyum, lalu menyusul Adnan yang sudah lebih dulu keluar dari rumah. Di luar, Adnan sedang memutar arah motornya, sedangkan Ryan langsung membuka gerbang rumah.

“Ini helmnya,” kata Adnan sambil memberikan sebuah helm putih kepada Ryan.

“Maka—” Ucapan Ryan terhenti karena tangan Adnan langsung maju untuk merapikan jaket adiknya yang belum tertutup rapat. Perlakuan sederhana itu berhasil memunculkan senyum hangat di wajah Ryan.

><><><

Selama perjalanan menuju ke sekolah, Adnan terus mengajak Ryan bicara. Apa saja. Walau mereka harus sedikit berteriak agar bisa saling mendengar apa yang dikatakan. Ryan sesekali dibuat tertawa karena ucapan lucu kakaknya.

Adnan tersenyum karena merasa senang bisa mendengar suara tawa itu lagi. Namun, sebenarnya dia sedang membangun momen. Ini waktu yang pas. Gue harus nanya langsung ke Ryan, kata Adnan dalam hati.

“Yan,” panggil Adnan, membuat Ryan refleks mendekatkan wajahnya.

“Iya, Kak?”

“Di sekolah kamu … ada guru yang namanya Pak Nakula?”

Ryan langsung membeku dengan posisi masih mencondongkan tubuhnya. Sang kakak menoleh sekilas ke belakang, melihat dengan jelas perubahan raut wajah adik bungsunya yang tampak terkejut.

“Jadi beneran ada, ya?”

Lihat selengkapnya