Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #13

BAB 12

“Gib. Lo oke?”

Beberapa hari ini Gibran memang terlihat lebih pendiam di kantor. Walau memang dia dikenal diam dan tidak banyak bicara, tapi bagi rekan-rekannya, Gibran seperti terbebani oleh sesuatu.

Gibran menoleh saat ditanya, kemudian menjawab singkat. “Gue gak pa-pa.”

Tomi ikut menghampiri meja Gibran. “Kalo ada masalah, cerita-cerita, Gib. Siapa tau kita bisa bantu, ‘kan?” Namu, Gibran hanya membalasnya dengan senyum kecil dan kembali fokus ke laptopnya.

Sebenarnya memang ada yang sedang membebani pikiran Gibran. Gue masih nggak tau, tapi … kayak ada sesuatu yang lagi disembunyiin Kak Adil sama Adnan. Gue pengen nanya langsung, tapi … kalo gue nggak tau, berarti emang belom boleh tau, ‘kan?

“Gib, draft buat tayangan kunjungan panti kemaren udah oke?”

Gibran kembali disadarkan ketika salah satu rekannya bertanya. “Lagi gue cek, Kaf.”

“Kalo udah selese, gue mau liat dulu, ya.”

“Oke.”

Setelah Kafi pergi, Gibran menepuk pipinya pelan. Fokus. Gue harus fokus. Laki-laki itu kembali melihat layar laptopnya yang sekarang sudah menampilkan dokumentasi saat agenda kunjungan ke panti asuhan beberapa waktu lalu.

Beberapa foto berhasil membuat Gibran tersenyum kecil. Karena laki-laki itu sedang dibawa kembali ke momen saat kunjungan ke panti. Ketika Gibran merasa lebih ringan karena keberadaan anak-anak di panti itu.

Namun, pandangan Gibran terhenti ketika layar laptop sedang menampilkan sebuah foto. Ada sesuatu yang membuat laki-laki itu terpaku saat melihatnya. Koridor di panti yang menampilkan beberapa pigura di dinding berisi foto-foto kebersamaan anak-anak panti.

Orang ini ….

Gibran sedang melihat salah satu foto berisi anak-anak panti yang sedang foto berbaris di depan teras rumah. Namun, satu orang yang terlihat paling tinggi di dalam foto itu benar-benar membuat Gibran membeku.

Pria yang memiliki wajah sangat mirip dengan mendiang ayahnya, Sadewa. Bahkan di dalam foto, pria itu tersenyum dan Gibran benar-benar seperti melihat sosok ayahnya yang sedang tersenyum.

Gibran sampai mengucek-ngucek matanya karena takut salah lihat. Namun, pria itu memang benar-benar mirip sekali dengan Sadewa. “Nggak-nggak …,” ucapnya pelan seakan-akan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.

Dia siapa …?

><><><

Karena pekerjaannya yang bisa dilakukan dari rumah, Adila memang jadi jarang sekali keluar. Namun, kali ini perempuan itu memutuskan keluar karena pikirannya sedang suntuk. Dia butuh suasana lain untuk menyegarkan pikiran dan … mencari solusi.

Gue udah punya kontaknya, tapi tetep aja gue nggak bisa langsung nyari tau gitu aja. Gue nggak mau bikin masalah buat Ryan di sekolah. Gue harus coba nyari cara lain buat tau soal latar belakang Pak Nakula, batin Adila, kemudian meminum es kopinya.

Adila sudah menempati sebuah meja di kafe. Dia sengaja memilih meja di ujung karena ingin merasakan ketenangan. Namun, Adila sepertinya juga lupa kalau kehadirannya di kafe itu selalu bisa memancing kedatangan seseorang.

“Kenapa lo nggak bilang kalo mau ke sini?”

Adila mengangkat wajahnya, melihat sosok laki-laki yang dia kenal. “Karena kalo gue bilang, lo bakalan bayarin kopi sama kue gue lagi,” ucap perempuan itu.

Zovi tersenyum. “Berbuat baik sama temen itu dapet pahala—”

“Lo udah kelewat baik, Zov,” jawab Adila, lalu meminum es kopinya sambil melihat Zovi yang sudah menempati kursi kosong di depan.

“Jadi … kalo lo udah sampe keluar dari rumah, berarti lagi suntuk banget.”

Lihat selengkapnya