“Dan. Lo nggak ikut main, nanti?”
“Iya, Dan. Bakal rame, lho.”
“Sorry. Gue ada urusan mendadak,” ucap Adnan saat ditanya rekan-rekannya ketika kelas terakhir baru saja selesai.
Adnan sudah langsung pergi ke area parkir untuk meninggalkan kampus. Sebenarnya bukan ‘urusan mendadak’, tapi memang ada yang ingin dilakukan laki-laki itu. Adnan melihat arloji tangannya.
“Semoga gue nggak telat.”
Motor yang dikendarai Adnan sudah berhenti di sebuah warung yang berlokasi tidak begitu jauh dari sekolah Ryan. Pandangan Adnan sama sekali tidak berpaling ke sekolah yang saat ini sudah terlihat sepi.
Adnan ke sana untuk menjemput Ryan? Bukan.
Beberapa menit lalu, Adnan memang melihat adiknya keluar dari sekolah dan langsung menaiki ojek online untuk pulang. Karena memang tujuan Adnan datang ke sana bukan karena Ryan, melainkan Nakula.
“Guru-guru baliknya jam berapa, deh? Lama banget,” ucap Adnan sambil beberapa kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ting. Ponsel Adnan berbunyi. Laki-laki itu lantas menyalakannya dan melihat notifikasi pesan di grup keluarga. “Syukur, deh … Ryan udah di rumah,” katanya diikuti embusan napas lega.
Saat Adnan mengalihkan pandangan kembali ke sekolah, dia melihat sebuah motor yang baru saja keluar. Nakula. Buru-buru Adnan memakai helm dan meninggalkan warung itu bersama motornya. Adnan memang ingin mengikuti Nakula untuk mengetahui tempat tinggal pria itu.
Cara Adnan mencari informasi tentang Nakula memang terlalu berisiko, tapi hanya itu yang terpikirkan oleh Adnan sekarang. Kalau dia tidak mau melibatkan Ryan, dia harus tetap bergerak mencari solusi. Inilah satu-satunya solusi tercepat.
Gue harus jaga jarak biar dia nggak tau, kata Adnan dalam hati sambil memerhatikan laju motor Nakula yang tidak terlalu cepat, tapi juga tidak terlalu lambat.
Namun, saat motor Nakula sudah mulai memasuki lingkungan kompleks, Adnan benar-benar harus menjaga jarak cukup jauh karena tidak ada kendaraan lain yang bisa membayangi motor Adnan.
Dari jauh, Adnan melihat Nakula memberhentikan motornya di depan sebuah rumah dengan halaman yang besar. Setelah Nakula memasukkan motornya, Adnan hanya pura-pura melajukan motornya melewati rumah itu.
Panti asuhan? Adnan mengerutkan kening saat membaca plang di sebelah gerbang rumah itu. Motor Adnan berdiri agak jauh dari panti asuhan itu. Menunggu. Namun, laki-laki itu tidak tahu apakah dia perlu sampai menghampiri Nakula atau informasi itu sudah cukup untuk sekarang.
><><><
“Aku pulang—”
Ucapan Nakula langsung terhenti ketika melihat seseorang yang tidak dia kenal sedang duduk di ruang tamu bersama ibu panti. Namun, bagi Gibran, dunia seakan-akan berhenti satu detik saat pandangan keduanya saling bertemu.
Gibran benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, sedangkan Nakula hanya bisa merasa bingung. Ibu panti langsung berdiri dan menghampiri Nakula. “Ini Nak Gibran. Dia ke sini karena ingin memastikan sesuatu,” ucap ibu panti sambil menepuk pundak Nakula dan tersenyum kecil.
Nakula masih tampak bingung, apalagi ketika melihat Gibran bangkit dari kursi hanya untuk berdiri di hadapannya. Laki-laki itu terlihat memerhatikan Nakula seakan-akan memang ingin memastikan sesuatu.
Dia … dia bukan papa … nggak mungkin, batin Gibran.
Ibu panti melihat keduanya dengan perasaan bercampur. Namun, ada sesuatu di hati wanita itu ketika melihat kebingung yang makin tergambar jelas di wajah Nakula. Takut.
Gibran kemudian tersadar dan berbalik. “Saya harus pergi. Terima kasih waktunya, Bu,” ucap Gibran kepada ibu panti yang hanya dibalas anggukan.