Seperti hari-hari libur biasanya, Adila dan ketiga adiknya hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Khususnya hari ini. Tidak ada dari mereka yang memiliki kegiatan di luar hari ini.
Adila sedang duduk bersama Ryan sambil menonton kartun di televisi. Adnan masih menempati meja makan setelah mereka selesai sarapan, sibuk mengolesi roti. Gibran pergi ke kamar sebentar, tapi tidak berkata untuk apa.
TING … NONG ….
Adila dan Ryan sontak menoleh ke pintu utama, Adnan juga ikut. Adila sudah berdiri lebih dulu. “Wah … itu pasti mereka,” katanya.
“Lo aja yang buka, Kak?” tanya Adnan, lalu menggigit roti yang baru selesai dia buat.
Adila hanya mengangguk, kemudian berjalan ke luar. Saat sudah berada di teras, Adila melihat tiga orang yang sedang berdiri di luar gerbang, salah satunya terlihat melambaikan tangan dengan bersemangat.
“Kak Adilaaa!”
Adila sampai dibuat tersenyum geli karena melihat adik sepupunya. Perempuan itu sedang mempercepat langkah untuk membuka gerbang. Setelah gerbang terbuka, sudah bisa dipastikan kalau adik sepupunya akan langsung memeluk Adila.
“Nanda kangen banget!”
“Kakak juga kangen sama kamu,” kata Adila sambil membalas pelukan Nanda.
Kedua orang tua Nanda hanya bisa tersenyum, kemudian bergantian memeluk Adila setelahnya. “Is everything okay?” tanya Navi.
Sebelum menjawab, Adila lebih dulu menyunggingkan senyum. “Iya, Om.”
Vinda berjalan di sebelah Adila sambil menarik kopernya. Wanita itu tiba-tiba berkata, “Keliatannya gitu, ya? Jangan-jangan hubungan kamu sama Zovi udah makin deket, nih?”
Adila langsung salah tingkah karena tantenya menyebut nama Zovi. “T-Tan … aku sama dia temenan aja—”
Belum selesai Adila bicara, Vinda sudah lebih dulu tersenyum geli, membuat pipi Adila makin terasa panas. Navi yang berjalan di belakang mereka ikut tersenyum. Ketika mereka sudah memasuki rumah, Gibran, Adnan, dan Ryan terlihat berdiri berbaris seakan-akan siap menyambut.
“Wah … udah kayak penyambutan orang penting,” kata Navi.
“Kan emang orang penting, Om,” balas Adnan.
Ketiga adik Adila langsung menghampiri Navi dan Vinda untuk menyalami tangan dan dipeluk penuh kasih sayang. Adila tersenyum melihatnya, masih dengan posisi tangan yang digandeng oleh Nanda.
“Om sama Tante mau dibuatin minum apa?” tanya Adila.
Vinda beralih melihat Adila. “Apa aja, Dil. Nggak usah repot-repot juga. Kita cuma mau ngabisin waktu bareng kalian di sini—e-eh? Ini nggak ada yang punya janji, ‘kan??” tanyanya sambil melihat Adila dan ketiga adiknya secara bergantian.
“Nggak ada, Tan. Khusus hari ini. Kita juga maunya ngabisin waktu sama kalian aja,” kata Adnan diikuti senyum lebar, membuat Vinda gemas dan langsung merangkul pundaknya.
“Ulululu, ini yang katanya populer di kampus itu, ya?? Yang udah jadi anggota tim inti? Keren banget, siiih!” goda Vinda yang langsung dibalas senyum malu-malu oleh Adnan.
Nanda menggoyangkan tangannya yang masih memegang tangan Adila. “Aku juga mau bantu bikin minumnya, ya Kak??” kata adik sepupunya.
“Oke-oke.”
Setelah kepergian Adila dan Nanda ke dapur, Navi dan Vinda dipersilakan duduk di sofa. Koper-koper dibiarkan tersusun di sebelah rak di ruang tengah. Gibran, Adnan, dan Ryan duduk menyebar. Ryan duduk di sebelah Navi yang sekarang sedang memerhatikannya.