“Oke. Sekarang kita kumpulin dulu semua informasi yang ada tentang Nakula.”
Ruang tengah masih menjadi tempat mereka berkumpul, tapi suasananya sudah tidak lagi tegang. Navi dan Vinda berhasil meredakan ketegangan itu karena tidak mau membuat keempat keponakannya menekan diri mereka sendiri.
“Nakula itu guru olahraga di sekolah Ryan. Semua bermulai dari sana,” ucap Navi, lalu melihat Ryan menganggukkan kepala.
“Ryan mutusin buat nggak ngasih tau kalian karena takut kalian sedih. Karena Ryan juga mau mikirnya ini cuma kebetulan. Walau kamu pasti jadi kepikiran sendiri juga, ya?” timpal Vinda sambil mengusap punggung keponakan bungsunya agar tidak kembali merasa bersalah dengan keputusannya.
Navi beralih melihat Adila, marah yang tertahan. “Om beneran nggak suka, ya Dil. Kamu yang udah setuju buat ngasih tau Om—apa aja,” kata Navi, “tapi kamu malah nggak ngasih tau kalo Ryan sakit. Bahkan sempet dibawa ke rumah sakit? Dil ….”
Adila menundukkan kepala. Dia tidak bisa mengelak tentang itu. “Maafin aku, Om ….”
Gibran dan Adnan sebenarnya ingin membela Adila. Mereka yakin kalau Adila memilih tidak memberi tahu Navi karena tidak mau membuat Omnya khawatir. Namun, melihat Navi yang benar-benar berusaha menahan amarah, membuat mereka berdua hanya bisa diam.
“Udah, Nav. Balik ke Nakula,” kata Vinda sambil melihat suaminya.
Navi mengembuskan napas pelan sambil memijat pelipis. “Oke. Pertama kali Nakula muncul di hidup kalian berarti karena dia guru di sekolah Ryan, ya? Dari Ryan, berlanjut ke Adil, Adnan, terus Gibran.
Jadi Nakula udah tau hubungan kalian sama Ryan sebagai kakaknya?”
Adila, Gibran, dan Adnan terlihat mengangguk secara bersamaan.
“Harusnya udah tau, sih …,” kata Adnan, sedikit ragu.
Gibran menambahi, “Atau minimal nebak.”
“Terus kalian mutusin buat nyari informasi tentang Nakula dengan cara kalian sendiri-sendiri … dan sampailah ke panti asuhan itu,” ucap Navi, “jadi … dia bener-bener berasal dari sana, Gib?”
“Iya, Om. Aku dapet informasi itu langsung dari ibu pantinya.”
“Selama puluhan tahun, kita nggak pernah membayangkan ada kemungkinan kayak gini, Nav,” ucap Vinda, “aku pun nggak yakin kalo Sadewa juga tau soal ini.”
Tiba-tiba Nanda datang menghampiri Vinda sambil membawa bungkusan. “Mama … aku nggak bisa buka,” katanya sambil memanyunkan bibir.
Nanda memang sedari tadi berada di meja makan sendirian saat para orang dewasa bicara di ruang tengah. Anak perempuan itu jelas tidak memahami pembicaraan mereka sehingga kedua orang tuanya menyuruh Nanda ke meja makan dulu, memakan camilan yang tadi mereka beli.
Vinda memegang tangan Nanda. “Nav, kamu lanjutin aja. Aku temenin Nanda dulu. Kayaknya dia mulai ngerasa dicuekin,” ucap istrinya sambil mengusap pundak Navi sebelum meninggalkan ruang tengah.
Sekarang hanya tersisa Navi, Adila, Gibran, dan Adnan di ruang tengah. Suasana di sana masih terasa serius. Karena mereka memang harus serius untuk membicarakan langkah selanjutnya.
“Kalo kalian sekarang muncul—kecuali Ryan yang emang bakal selalu ketemu Nakula di sekolah—Nakula pasti ngerasa nggak nyaman. Jadi, kalian bertiga jangan bergerak dulu,” kata Navi sambil melihat ketiga keponakannya dengan wajah serius.
Namun, Adnan tampak tidak setuju. “K-kenapa harus ngerasa kayak gitu? Emangnya dia nggak mau tau apa yang sebenernya terjadi??”
Navi sedikit mencondongan tubuh dengan kedua tangan berada di atas paha. “Dan. Kita nggak tau apa-apa tentang hidup dia. Kita nggak tau apa yang udah dia lewatin sampe bisa di titik sekarang,” lanjutnya.
“Aku juga setuju sama Om Navi. Kalo kita maksa buat deketin dia setelah ini, dia nggak akan buka ruang, Dan,” kata Gibran, “setidaknya itu yang bisa gue liat setelah pertemuan gue dan dia kemaren.”