Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #17

BAB 16

“Oke. Hari ini semuanya fokus sama kegiatan masing-masing, ya.”

Navi dan Vinda melihat keempat keponakannya secara bergantian saat mereka baru menyelesaikan sarapan. Vinda berjalan menghampiri Ryan dan merapikan dasi di kerah anak laki-laki itu.

“Ryan. Sekolah. Belajar,” kata Vinda, “oke?”

Ryan mengangguk. “Iya, Tante.”

“Gibran. Semangat kerjanya, ya? Jangan mikirin yang lain dulu. Kamu fokus juga,” kata Vinda seraya mengusap pundak Gibran yang hanya membalas dengan anggukan kecil.

Adnan terlihat sedang meminum susu cokelatnya sampai habis, kemudian langsung melihat om dan tantenya secara bergantian. “T-terus Om sama Tante gimana? Kapan kalian mau ke panti asuhannya Pak Nakula??” tanya laki-laki itu.

“Nanti dulu, Dan. Om sama dia baru ketemu sekali karena kebetulan waktu itu,” kata Navi, “Om rasa harus ada satu momen lain yang bisa bikin kita kenal bukan sekadar kebetulan itu.”

“Iya, Dan, apalagi yang baru ketemu dia, Om Navi,” balas Vinda, “tante kan juga mau ada momen ketemu langsung sama Nakula. Penasaran banget.”

Namun, tidak ada yang menyangka kalau ucapan Vinda justru membuat suaminya langsung menoleh dengan raut wajah sangat bingung. “Nggak juga. Kamu nggak harus ketemu sama dia—”

“Kenapa-kenapa? Cemburu?”

Navi langsung membulatkan mata, tapi Vinda malah tersenyum geli sembari mencubit lengan suaminya. Keempat keponakannya hanya bisa melihat sebelum akhirnya Gibran bicara.

“Aku berangkat sekarang. Ayo, Yan,” kata laki-laki itu kepada adik bungsunya.

Setelah Gibran, Adnan juga menyusul pergi karena ada kelas pagi. “Tapi kalo misalkan ada apa-apa—aku dikasih tau duluan, ya!” pinta Adnan sebelum sosoknya hilang di balik pintu depan.

Sekarang suasan rumah itu kembali sepi. Navi dan Vinda beralih melihat Adila yang masih diam di meja makan, sedangkan putri mereka—Nanda—juga hanya diam, menunggu diajak bicara.

“Kalo kegiatan kamu hari ini, apa, Dil?” tanya Navi, membuat Adila mengangkat wajah.

“Nganter pesenan ke acara di TK, Om. Masing jam sepuluh nanti, sih.”

“Oke. Nanti kita anter.”

Adila langsung menolak. “E-eh, nggak usah, Om. Aku bisa sendiri, kok.”

“Iya. Kita tau kamu bisa sendiri, tapi kita juga mau sekalian keluar,” kata Navi, “butuh penyegaran. Dari kemaren mikirin langkah selanjutnya biar nggak terkesan buru-buru soal ini.”

“Aku juga mau jalan-jalan, Kak,” ucap Nanda yang sudah berdiri di sebelah kursi Adila sambil menggoyang-goyangkan lengannya.

Adila pada akhirnya hanya bisa menerima. Lagi pula mereka juga bisa menghabiskan waktu bersama. Karena keluarga om dan tantenya itu tidak bisa sering-sering liburan seperti sekarang.

><><><

“Maafin kita, Yan. Kita telat sadar kalo beberapa waktu lalu lo lagi nggak enak badan. Bahkan sampe nggak masuk,” kata salah satu teman Ryan.

Setelah bel istirahat berbunyi, Ryan dibuat bingung karena beberapa teman sekelasnya datang menghampiri meja laki-laki itu untuk meminta maaf. “A-ah, nggak pa-pa ….”

“Nggak boleh gitu. Kita kan temen.”

“Iya, Yan. Bu Tia yang ngasih tau kita pas kamu nggak masuk waktu itu.”

“Tapi sekarang lo udah sehat, ‘kan?”

Ryan tersenyum kecil diikuti anggukan. “Iya. Gue udah baikan. Makasih, ya. Kalian udah perhatian sama gue,” ucap laki-laki itu.

“Nah, sekarang mending kita ke kantin, yuk! Lo harus makan banyak.”

“Iya. Kurusan, lo.”

Ryan terkekeh geli dan akhirnya berdiri, lalu membiarkan lengan temannya melingkar di pundak Ryan saat mereka meninggalkan ruang kelas. Ryan tidak berpura-pura saat ini, dia benar-benar merasa senang. Karena setidaknya ada sesuatu yang bisa membuat pikirannya teralihkan dari Nakula.

“Eh, katanya Mba Ica bikin menu baru—”

“Wah, kalo kita baru turun sekarang, udah nggak kedapetan, sih.”

Ryan hanya mendengarkan obrolan teman-temannya sampai pandangannya terfokus ketika melihat Nakula keluar dari ruang guru dengan pakaian rapi. Teman-temannya juga ikut melihat Nakula.

“Pagi, Pak Nakula,” sapa salah satu temannya.

Nakula juga baru menyadari keberadaan mereka. “Pagi,” balasnya, tapi pandangan pria itu berhenti ketika melihat Ryan. Tidak ada kalimat lanjutan.

Lihat selengkapnya