Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #19

BAB 18

“Terima kasih karena sudah mengantar Ryan dengan selamat.”

“Saya hanya melakukan apa yang saya bisa,” ucap Nakula sembari menyalakan mesin motornya kembali.

Ryan yang sekarang berdiri sambil dirangkul oleh Navi, mengatakan sesuatu sebelum Nakula pergi. “Bapak hati-hati, ya. Nggak usah ngebut,” kata Ryan, lembut, tulus.

Nakula sempat terdiam sebentar seakan-akan perkataan Ryan sangat penting. “Iya. Makasih udah ngengetin,” jawab pria itu diikuti senyum.

Nakula benar-benar tidak bisa mengabaikan semua kebetulan ini. Ryan … Adila … Adnan … Gibran. Mereka semua muncul di hidup gue secara tiba-tiba dan sekarang … justru dua orang lain yang terhubung dengan mereka juga ikut muncul, ucap Nakula dalam hati.

Sekarang Nakula sedang bersantai di kamarnya setelah selesai mandi. Pria itu belum keluar dari kamar sejak tadi sehingga ibu panti akhirnya mengetuk pintu. “Nakula. Kamu udah makan, belum?

“A-ah, iya … bentar lagi aku keluar, Bu.”

Oke.

Nakula bangkit dari kasur, lalu berhenti di depan cermin yang ada di kamarnya. Pria itu melihat pantulan dirinya. “Sebenernya … apa yang mereka liat dari gue?” tanya Nakula.

“Papa ….”

Nakula langsung menegang ketika suara itu kembali muncul di kepalanya. Suara Ryan saat menangis waktu itu. Awalnya Nakula benar-benar tidak mengerti apakah semua itu hanya kebetulan, tapi sekarang rasanya memang ada sesuatu.

><><><

“Oke. Rencana awal kita gagal.”

Ruang tengah rumah Sadewa tampak ramai, tapi juga sunyi. Adila dan ketiga adiknya duduk di dua sofa berbeda. Vinda duduk di sebelah Navi sambil memangku Nanda. Suasana di rumah itu memang tidak kembali hangat setelah Navi mendapati Nakula mengantar Ryan pulang.

“Maafin aku, Om … kalo aja tadi aku bisa nolak—”

Navi langsung melihat Ryan dan bicara cepat. “Enggak, Ryan. Kamu nggak salah apa-apa, kok. Lagian Om juga udah punya firasat kalo Nakula bakal tau. Cepet atau lambat,” kata pria itu.

Vinda ikut mengangguk. “Iya. Kalo Tante jadi Nakula juga sebenernya udah curiga dari lama. Karena kemunculan kalian itu terasa bukan sekadar kebetulan aja,” lanjutnya.

“Bener juga, sih … Pak Nakula pasti udah mulai nyambung-nyambungin pertemuan dia sama kita,” kata Adnan, “soalnya emang terjadi dalam waktu yang berdekatan.”

Navi memijat pelipisnya. Pria itu juga sedang berpacu dengan waktu. Minggu depan dia dan keluarganya harus kembali karena waktu liburan sudah selesai. Pekerjaan tidak bisa menunggu. Nanda juga harus sekolah.

“Kayaknya kita harus bergerak cepat, Nav. Gimana kalo besok kita ke panti asuhan?”

Navi sontak menoleh ke tempat istrinya. “Kamu yakin?”

Vinda mengangguk. “Seenggaknya … ibu panti mungkin bisa lebih ngerti kalo bicaranya sama kita—orang dewasa. Ditambah kita juga bisa ceritain detailnya soal kehidupan Sadewa yang kita tau,” ucap wanita itu.

Navi melihat ke tempat keempat keponakannya seakan-akan menanyakan pendapat mereka. Ryan menunduk, Adila ikut memijat pelipis, Adnan bersandar sambil menyilangkan kedua tangan, Gibran duduk sambil menumpu kedua tangan di atas paha.

“Tapi kalian udah siap, ‘kan?”

Lihat selengkapnya