Om Nakula!

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #20

BAB 19

“Papa … kakek sama nenek itu orangnya gimana?”

Pertanyaan Adila kecil berhasil mengejutkan sang ayah. Padahal tadi mereka berdua sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton acara di televisi. Adila yang masih duduk di pangkuan Sadewa langsung mengerutkan kening.

“Papa ….” Tangan kecil Adila mencengkeram kaus Sadewa, menyadarkan ayahnya.

“A-ah? Iya?”

“Papa nggak jawab pertanyaan Adila—”

Tidak berselang lama ibunya datang, kemudian mengulurkan kedua tangan. “Adila … ikut Mama ke dapur, yuk? Mama mau minta tolong cicipin kue. Mau??” kata Kamelia diikuti senyum, tapi pandangan matanya sempat jatuh ke Sadewa yang mulai terlihat memikirkan hal lain.

Adila akhirnya mengangguk, lalu berpindah ke gendongan sang ibu. Sebelum pergi ke dapur, tangan kanan Kamelia menyentuh pundak Sadewa dengan lembut. Sadewa memegang tangan istirnya sebentar sebelum Kamelia pergi.

Di gendongan ibunya, Adila sempat melihat ke tempat Sadewa. Pria itu terdiam dan perlahan menundukkan kepala. Ada sesuatu yang membuat Adila merasakan sakit di dadanya karena dia tidak pernah melihat Sadewa seperti itu.

Rapuh.

Setelah itu Adila tidak pernah bertanya tentang kakek dan neneknya lagi. Selama dia masih melihat Sadewa tersenyum, tertawa, bercanda, seperti sebelum pertanyaan itu muncul, Adila memilih untuk tidak tahu apa-apa tentang mereka.

Album foto yang sedang dilihat Adila berhenti di foto keluarga mereka. Foto sederhana di halaman rumah mereka dengan baju seadanya. Semua itu terjadi karena Ryan yang tiba-tiba berkata ingin foto bersama dan hampir menangis karena Gibran dan Adnan menolak.

“Udah … diturutin aja. Selagi masih ada kesempatan bisa foto bareng,” ucap Sadewa dengan nada santai, tapi tidak tahu kalau kalimat itu sangat berdampak untuk Adila.

Namun, Adila tidak bicara apa-apa dan lebih lama memerhatikan Sadewa saat momen itu terjadi. Ayahnya menggendong Ryan di punggung dan mulai perpose dengan senyum lebar andalannya.

Adila mengepalkan kedua tangannya di atas foto itu. Kepalanya tertunduk dan air mata mulai turun tanpa bisa dia cegah. Adila menangis. Suara tangisnya masih berusaha ditahan walau saat ini tidak ada orang selain dirinya di rumah. Namun, Adila ingin tetap terlihat kuat sehingga kedua orang tuanya tidak khawatir.

“Pa … sekarang kita harus gimana??”

Setelah pertanyaan itu keluar dair mulut Adila, sesuatu muncul di kepalanya. Bayangan sosok Sadewa yang sedang tersenyum, lalu di sebelahnya … Nakula. Adila memejamkan mata. Saat keduanya berdiri bersebelahan seperti itu, baru terlihat perbedaannya.

Sadewa memiliki senyum yang hangat, tapi sorot mata yang penuh kesedihan. Berbeda dengan Nakula yang sepenuhnya terlihat diselimuti kesepian. Perlahan Adila membuka mata kembali, kemudian pandangannya turun ke album foto yang masih terbuka.

Foto Sadewa sedang tersenyum. Jemari Adila mengusap foto itu dengan penuh kasih sayang. “Papa … punya semua hal yang bisa bikin dia senyum sebahagia ini,” kata Adila, “tapi Pak Nakula …?”

><><><

Ibu panti masih duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan kosong. Sudah beberapa jam. Wanita itu tetap di sana seakan-akan sedang menunggu kedatangan seseorang. Langit sudah berubah gelap, suara anak-anak panti terdengar ramai di area makan.

“Nakula ….”

Lihat selengkapnya