OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #1

Prolog: Di Antara Keris, Darah, dan Doa

Suatu malam di tahun 1998, hujan yang tidak patuh pada siklus musim deras mengguyur Yogyakarta. Langit Yogya bagai menumpahkan ribuan jarum air yang menghunjam bumi Mataram itu. Di bantaran Sungai Code, air layaknya membengkak liar. Air berwarna cokelat pekat yang membawa material vulkanik dan sampah. Lumpur itu sigap melahap pinggiran kampung dengan nafsu yang membuncah, mengancam fondasi tidak matang dari rumah-rumah panggung yang berdiri di sepanjang alirannya.

Di sebuah rumah kayu tua bergaya sentuhan kolonial yang letaknya hanya sepelemparan batu dari bendungan, berdiri terpisah dari rumah lainnya dan tampak pilu. Tidak seperti umumnya rumah kolonial yang oleh orang Jawa disebut Loji, yang berdinding batu bata, rumah tua itu berdinding kayu jati dan ciri khas rumah joglo tampak kental. Dan sepertinya usia rumah itu sudah sangat tua sehingga tampak rapuh dan memprihatinkan meski dibangun dengan kayu jati tua. Rumah bagian belakang yang disebut dengan senthong adalah satu-satunya bagian rumah yang berdinding batu bata yang juga sudah tampak lapuk. Di atas senthong dimodifikasi menjadi loteng sederhana.

Di ruang tengah, Siti duduk bersila. Wanita berusia 35 tahun dengan kerudung lusuh, tapi rapi itu memejam mata. Wajahnya seumpama permukaan danau, tenang dan menyimpan kedalaman tak terbaca. Jari-jarinya yang kasar karena kerja harian tak henti memutar butiran tasbih dari galih kayu kelor warisan dari nenek buyutnya. Aroma cendana dari dupa yang baru dinyalakan merambat pelan, bertarung dengan bau tanah basah dan sisa-sisa uap air yang merembes dari sela-sela genteng.

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad...”

Wiridnya mengalir tenang berbalut alunan nada spiritual yang dulu ia serap di pesantren. Suaranya adalah satu-satunya peredam ketakutan di ruangan itu. Di pangkuannya, bayi Andi merengek pelan, terganggu oleh petir yang menggelegar. Rina, si sulung yang berusia 10 tahun, meringkuk ketakutan sambil memeluk lutut. Budi, 7 tahun, mencoba mengalihkan dunia dengan memainkan truk kayu pemberian ayahnya, sementara Sari yang berusia 4 tahun telah hanyut dalam tidur lelap yang rapuh.

Rumah ini, yang selalu mereka sebut sebagai “rumah kita”, adalah saksi bisu dari segala tawa dan air mata. Di lantai kayu inilah mereka mengadakan selamatan sederhana, berbagi nasi tumpeng dengan tetangga, dan mendengarkan wejangan seorang kyai tentang hikmah kehidupan. Namun malam ini, kehangatan itu seolah tersedot oleh hawa dingin politik yang mencekam.

 

Warisan yang Membakar

Hadi, suami Siti, berdiri tegak di teras depan. Sosoknya yang biasanya riang kini tampak lesu. Sebuah keris pusaka terselip di pinggangnya yang terbalut batik lurik usang. Matanya tajam, memancarkan api reformasi yang sedang membakar Jakarta dan mulai menjalar ke Yogyakarta. Indonesia sedang di ambang pecah. Mahasiswa turun ke jalan meneriakkan lengsernya Soeharto, tentara bersiaga dengan moncong senjata, dan gosip tentang penculikan serta pembantaian aktivis berembus lebih kencang daripada angin ribut.

“Siti, malam ini harus berhati-hati,” bisik Hadi saat melangkah masuk. Suaranya berat, sarat dengan beban yang tak bisa dibagi sepenuhnya. “Aku harus ke posko. Teman-teman membutuhkan koordinasi.”

Siti menatap keris di pinggang suaminya. “Kenapa dibawa, Mas?”

Hadi mengelus gagang keris itu, mendesah pelan. “Keris ini... jagalah baik-baik kalau terjadi sesuatu padaku. Ini warisan leluhurku dari garis seorang kerabat istana yang pernah membuat Belanda hampir menyerah. Seandainya tidak dikhianati sangat mungkin Belanda sudah menyerah. Nenek benar, keris ini membawa berkah bagi mereka yang tulus, tapi menjadi kutukan bagi mereka yang dikuasai ego dan iri hati.”

Siti teringat tutur itu, siapapun yang memiliki keris ini dengan niat menguasai, ia akan “hilang” secara misterius, ditelan oleh ambisinya sendiri.

Lihat selengkapnya