Hujan deras mengguyur Yogyakarta malam itu, seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh beban ingatan yang selama ini menggantung di atas kota. Rina melangkah keluar dari taksi online dengan gerakan ragu. Begitu kakinya menyentuh aspal basah, udara lembap yang khas langsung merayap masuk ke pori-porinya, membawa aroma tanah basah—petrichor—yang bercampur dengan kepulan asap lemak dari warung sate ayam di pojok jalan. Bau yang sangat akrab, namun terasa asing bagi hidung yang sudah sepuluh tahun terbiasa dengan sirkulasi udara kantor ber-AC dan aroma kopi arabika mahal.
Sepuluh tahun terakhir ia tinggal di Jakarta. Identitas gadis kampungnya telah tercuci bersih di sana, menggantinya dengan setelan blazer rapi kekinian, jadwal rapat Zoom yang padat, dan ambisi yang setinggi gedung pencakar langit di Sudirman. Namun, saat ia berdiri di depan pagar besi yang telah terbalut karat itu, segala kemapanan Jakarta terasa luntur. Pagar itu berderit memilukan saat didorong, suara besi beradu yang seolah-olah berteriak protes karena lama tak disapa.
Sebagian halaman depan rumah itu kini menyerupai sabana kecil yang tak terurus. Rumput liar setinggi lutut tumbuh subur di atas cor beton yang telah gapuk dan mengelupas tergerus waktu. Di bawah guyuran hujan, rumah itu tampak seperti raksasa tua yang sedang sekarat. Gentengnya miring, atapnya melorot di beberapa tempat, meneteskan air ke lantai teras dengan bunyi ritmis yang menyedihkan.
“Rumah ini harus diselamatkan,” gumam Rina sambil menghela napas panjang, menguatkan pegangannya pada koper besar yang berisi pakaian merk ternama dan laptop berisi draf proyek jutaan dolar.
Sebagai arsitek sukses di Jakarta yang biasa mendesain homestay premium untuk turis Eropa di Bali dan Labuan Bajo, rencana Rina sudah matang di kepala. Ia tidak datang untuk sekadar menjenguk. Ia ingin mengeksekusi sebuah visi. Rumah “kita” ini akan dirombak total. Ia membayangkan konsep Javanese-Modern Ethnic yang memadukan struktur jati kuno dengan kaca-kaca besar, pencahayaan warm-white, dan fasilitas bintang lima. Renovasi ini adalah satu-satunya cara menyelamatkan bangunan ini dari sitaan bank atau jatuh ke tangan pengembang properti rakus yang hanya akan meratakannya dengan tanah. Ini, menurut Rina, adalah bentuk cinta tertingginya pada keluarga dan warisan ayahnya.
Pelukan dan Debu Masa Lalu
Belum sempat Rina mengetuk, pintu kayu jati usang yang permukaannya sudah bersisik itu terbuka. Di ambang pintu, berdirilah Siti, ibunya. Wanita itu mengenakan kerudung krem sederhana yang sedikit basah di bagian ujungnya. Wajahnya telah keriput terpahat waktu, tetapi matanya tetap jernih, memancarkan cahaya yang tidak bisa ditemukan Rina di mata rekan-rekan bisnisnya.
“Rina...? Akhirnya kamu pulang, Nak,” suara Ibu Siti bergetar.
Pelukan sang ibu segera menyergapnya. Hangat, sangat hangat. Rina mendapati dirinya terbungkus dalam aroma minyak kayu putih yang bercampur dengan lamat-lamat bau gudeg, nangka muda yang dimasak lama. Bau rumah. Namun, saat matanya melewati bahu Ibu, pemandangan di dalam rumah membuatnya sesak.
Ruang tengah itu kacau. Meja makan jati yang dulu selalu mengilap, kini menghitam oleh lapisan sisa-sisa debu yang seakan telah menyatu. Tumpukan koran lama yang sudah menguning dan mengerut menggunung di sudut ruangan, menciptakan kesan pengap. Dan di sana, di kursi goyang peninggalan kakek, duduk Budi dengan sikap malas. Anak lelaki tertuanya itu tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya. Matanya merah dan cekung, terpaku pada layar ponsel pintar dengan jari-jari yang bergerak gelisah.
“Budi, apa kabar?” Rina mencoba melempar senyum, berusaha mencairkan suasana.