OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #3

Bab 2: Penjaga Rumah

Ibu Siti terbangun jauh sebelum fajar menyentuh ufuk timur. Tubuhnya memiliki jam biologis yang telah terpatri selama puluhan tahun, sebuah ritme yang tidak ditentukan oleh alarm digital, melainkan oleh tarikan napas alam dan panggilan spiritual. Di luar, sisa-sisa hujan semalam masih menetes dari ujung daun pisang, menciptakan simfoni air yang jatuh ke tanah becek dengan nada yang teratur.

Adzan Isya kemarin seolah masih bergema di sudut-sudut ingatannya, tetapi rutinitas paginya tak pernah goyah oleh kantuk ataupun linu di persendian. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian agar tidak membangunkan anak-anaknya, ia mengambil tasbih kayu jati dari laci meja kayu yang sudah cuil pada salah satu sudutnya. Ia duduk bersila di atas tikar pandan di ruang tengah, tepat di bawah langit-langit yang menampakkan bercak-bercak bekas bocoran air.

Rumah jati tua ini, dengan segala dindingnya yang retak dan genteng yang miring, adalah masjid kecilnya. Bagi Siti, rumah ini bukan sekadar struktur kayu dan semen yang menunggu roboh, melainkan ruang ibadah, sebuah tempat menyemai doa-doa dan menyembunyikan air mata.

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad...”

Wiridnya mengalir pelan, nyaris seperti desiran angin. Ia melafalkan zikir yang dulu ia serap dari kitab-kitab kuning di pondok pesantren Yogyakarta. Di titik ini, ia merasakan kehadiran yang tak kasat mata—kedekatan dengan Sang Pencipta yang melampaui logika materi, dan sebuah rasa seolah roh-roh leluhur, termasuk mendiang suaminya, masih setia mengawasi di balik pilar-pilar jati yang menghitam.

 

Pohon Jati yang Tumbuh Miring

Ibu Siti menghentikan putaran tasbihnya sejenak. Matanya menyapu ruangan. Di kamar lamanya yang terbuka sedikit, ia melihat Rina masih tidur lelap. Wajah putrinya tampak lelah, seolah bersembunyi di balik selimut tebal yang ia bawa dari Jakarta. Di samping tempat tidur, koper besar Rina menganga, memamerkan tumpukan baju branded dan perlengkapan kosmetik mahal yang terasa begitu asing di ruangan pengap itu.

Sementara itu, di sofa ruang tamu, Budi mendengkur dengan posisi yang tidak nyaman. Ponsel pintarnya tergeletak di lantai, layarnya mati karena ia tak mampu lagi membeli kuota data yang lagi-lagi habis dimakan mesin judi online yang menjanjikan kemenangan indah.

Ibu Siti tersenyum pilu. Ia memandangi anak-anaknya dan merasa mereka seperti barisan pohon jati di hutan yang tumbuh miring karena badai yang berbeda. Rina tumbuh miring ke arah barat yang modern, mengejar materi dan pengakuan duniawi hingga melupakan akar. Budi miring ke arah jurang nafsu, terjebak dalam ketergantungan digital yang merusak jiwa. Sari, anak ketiganya yang tinggal di kota lain, terperangkap dalam pernikahan yang retak. Sementara Andi si bungsu seolah terbang dibawa angin budaya populer K-pop, menolak untuk menoleh pada tradisi yang dianggapnya kuno.

Namun, Siti yakin rumah ini adalah “pancang” yang akan meluruskan mereka kembali. Ia mengingat ajaran ayahnya tentang narimo ing pandum—menerima segala takdir yang digariskan Tuhan dengan lapang dada, sembari tetap berusaha menjadi air yang mengalir bening meski melewati selokan kotor.

“Hidup ini hanya mampir minum,” bisiknya pada diri sendiri. “Tapi di rumah inilah rasa haus itu harus dicarikan penawarnya.”

 

Aroma Gudeg dan Debat di Meja Makan

Pagi hari, dapur yang remang-remang mulai hidup. Di atas tungku tradisional yang masih menggunakan sisa kayu kering, sebuah kuali besar berisi gudeg mendidih perlahan. Aroma manis dari nangka muda yang berpadu dengan gurihnya santan dan bumbu-bumbu rempah mulai memenuhi setiap sudut rumah. Wangi daun singkong rebus yang segar meruap, mengisyaratkan bahwa sarapan sudah siap.

Lihat selengkapnya