OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #4

Bab 3: Anak-Anak yang Tersesat

Andi mendorong pintu depan dengan ujung sepatunya yang lecek oleh lumpur, sebuah gerakan kasar yang terdorong oleh gejolak di dadanya. Tas punggungnya tersampir asal-asalan di bahu kanan, sementara gerimis tipis Yogyakarta masih menempel di jaket parasut bergambar idola K-pop yang ia beli di online shop dengan menyisihkan uang jajan berbulan-bulan.

Assalamualaikum!” serunya setengah berteriak, lebih sebagai formalitas daripada salam kesantunan, mungkin ia melupakan nasihat ibunya bahwa salam itu adalah doa dan kesediaan menjaga keselamatan bagi yang diberi salam.

Tak ada jawaban. Hanya dengung monoton dari unit AC tua di ruang tamu yang freonnya sudah hampir habis. Di telinganya, suara itu terdengar seperti erangan rumah yang sedang sekarat. Di usia tujuh belas tahun, Andi merasa terjebak. Ia lelah dengan Yogyakarta yang menurutnya terlalu lamban, kesal dengan aroma dupa yang selalu dinyalakan ibunya, dan bosan dengan wirid subuh yang selalu menembus dinding kamarnya yang memang hanya sekat dari papan kayu tipis.

Baginya, hidup bukan tentang tembang Jawa yang mendayu-dayu atau filsafat nrimo yang dianggapnya sebagai alasan untuk kemalasan. Hidup adalah tentang sorot lampu Jakarta, tentang jumlah pengikut di TikTok, tentang gerakan dansa ala BTS yang lincah, dan tentang melarikan diri dari bayang-bayang kemiskinan yang estetik namun menyesakkan ini.

 

Di Balik Meja Makan

Di meja makan jati yang permukaannya sudah kusam, Sari duduk mematung. Matanya sembab, merah, dan bengkak. Jejak air mata masih tersisa di pipinya. Sari, guru SD yang dikenal penyabar, hari ini pulang lebih awal. Tas kerjanya yang berisi tumpukan buku cerita anak-anak tergeletak lemas di lantai, seolah-olah pemiliknya sudah tak sanggup lagi memikul beban ilmu.

“Andi, makan dulu. Ibu masak gudeg kesukaanmu,” suara Sari terdengar lemah, seperti baterai ponsel yang tinggal satu persen.

Andi mendengus sambil melempar tasnya ke kursi kosong. Ia tahu apa yang terjadi tanpa perlu bertanya. Ini adalah pola yang berulang. Budi pasti baru saja kalah judi online lagi dan dengan licinnya berhasil membujuk Sari untuk meminjamkan uang tabungannya dengan janji “modal balik” yang tak pernah terwujud. Di sisi lain, suami Sari yang seorang pegawai di dinas pendidikan diam-diam korup dan manipulatif pasti baru saja memberikan tekanan batin lainnya di rumah mereka sendiri.

Rumah tangga Sari adalah sinetron yang diputar di dunia nyata: penuh ribut dalam diam, penuh kepura-puraan di depan tetangga demi menjaga “harmoni” yang dipaksakan.

“Di mana semua orang? Sepi amat,” tanya Andi sambil membuka kulkas, meraih botol es teh manis yang tinggal separuh.

Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi muncul dari sebuah forum jual-beli barang antik. Andi menatap layar dengan mata berbinar. Kemarin, saat Ibu sedang ke pasar, ia diam-diam memotret keris pusaka yang tersimpan di lemari altar—keris yang selalu disebut Ibu sebagai warisan sakral dari Ayah.

“Ini barang kalau laku bisa jutaan, Mbak. Bisa buat beli tiket one-way ke Jakarta, bayar kos sebulan di sana sambil cari casting influencer,” gumam Andi, lebih kepada dirinya sendiri.

Di balik sifat pemberontaknya, Andi menyimpan rasa penasaran yang perih: kenapa ayahnya harus hilang saat ia masih bayi? Reformasi ‘98, kata buku sejarah. Kerusuhan politik, kata Google. Tapi bagi Ibu, itu selalu menjadi “rahasia Tuhan”. Andi lelah dengan rahasia. Baginya, rahasia tidak bisa membayar tagihan listrik atau memberinya masa depan.

 

Bentrokan Dua Generasi

“Oi, Dek! Foto apa itu?”

Lihat selengkapnya