OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #5

Bab 4: Antara Beton dan Batas Suci

Rina duduk di teras depan, sebuah singgasana kecil di tengah reruntuhan kenangan. Laptop di pangkuannya terasa panas, menyalurkan energi digital yang kontras dengan dinginnya ubin semen yang mulai berlumut di bawah kakinya. Layar monitor itu memancarkan cahaya biru yang tajam, menampilkan sebuah visi masa depan yang ia susun dengan presisi seorang profesional Jakarta: blueprint sebuah homestay mewah yang ia beri judul “Omah Code Heritage”.

Di layar itu, rumah jati reyot ini telah bermetamorfosis. Rina merancang sebuah rooftop infinity pool yang seolah-olah mengalirkan airnya langsung ke pelukan Sungai Code, mirip resor-resor kelas atas di Ubud. Ia menyisipkan kamar-kamar etnik Jawa dengan smart lighting yang bisa diatur melalui perintah suara, serta sebuah lobi luas yang ia beri nama “Ruang Gotong Royong Modern”. Ia yakin itu merupakan sebuah istilah pemasaran yang cerdas untuk menarik turis mancanegara yang haus akan eksotisme budaya tanpa ingin kehilangan kenyamanan modern.

“Ini akan menyelamatkan kita semua,” bisiknya pada angin sore yang membawa bau hujan.

Tangannya bergerak lincah di atas trackpad, mengirimkan draf final ke firma kontraktor terkemuka di Yogyakarta. Bagi Rina, Jakarta bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sekolah yang mengajarkan logika tanpa ampun: aset harus produktif, atau ia akan menjadi beban yang mematikan. Nostalgia adalah penyakit bagi kemajuan, dan rumahnya ini yang kini telah reyot adalah sisa-sisa peradaban yang harus segera di-digitalisasi agar tetap relevan.

 

Perbenturan Dua Dunia

Ibu Siti melangkah keluar dari kegelapan ruang dalam, membawa nampan kayu berisi dua cangkir teh melati yang uapnya menari-nari. Matanya yang tajam namun teduh melirik sekilas ke arah layar laptop. Ia tidak mengerti garis-garis arsitektur itu, tetapi ia bisa merasakan ambisi yang meluap dari sana.

“Rina, kau masih sibuk dengan rencana hotel itu?” tanya Ibu Siti sambil meletakkan teh. “Rumah ini bukan penginapan untuk orang asing, Nak. Ini tempat roh leluhurmu pulang setelah lelah berkelana. Di sini selamatan dilakukan bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga paseduluran—persaudaraan dengan tetangga dan alam.”

Suaranya tenang, tetapi memiliki berat yang setara dengan pilar jati utama rumah itu. Hikmah jiwa agama yang ia serap dari Kyai di masa muda telah membentuk pandangan dunianya: bahwa bangunan bukan sekadar tumpukan batu bata dan semen, melainkan wadah bagi sir atau rahasia Ilahi.

Rina menutup laptopnya perlahan, mencoba membangun jembatan komunikasi yang selama ini terputus oleh jarak geografis dan ideologis. “Ibu, tolong dengar aku kali ini saja. Bayangkan, satu kamar bisa kita sewakan dua juta rupiah per malam. Uang itu bukan untuk foya-foya. Itu untuk obat lutut Ibu yang makin parah, untuk menebus masa depan Andi agar tidak luntang-lantung, dan untuk membantu Mas Budi memiliki modal usaha agar dia berhenti mencari peruntungan di layar judi.”

Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil memori kolektif mereka. “Ayah pasti mendukung ini, Bu. Bukankah Ayah dulu pejuang Reformasi? Dia orang yang progresif, dia ingin bangsa ini maju dan sejajar dengan dunia luar.”

Sebuah kilas balik melintas di benak Rina. Ia teringat suatu sore di awal tahun 1998, ketika Ayah mengajaknya duduk di halaman sambil menggambar di atas tanah menggunakan ranting pohon.

“Lihat, Rin. Rumah kita harus kuat fondasinya, tapi hati penghuninya harus lebih kuat. Kayu bisa lapuk, tapi doa yang ditanam di sini akan tumbuh selamanya,” kata Ayah saat itu, sambil sesekali membetulkan letak keris pusaka di pinggangnya yang seolah menjadi poros bagi seluruh keberadaan lelaki itu.

Lihat selengkapnya